Ruslan Buton dalam Kesaksian Wartawan di Ternate


Ruslan Buton dalam Kesaksian Wartawan di Ternate

Oleh: Ikram Salim/ Wartawan di Kota Ternate.

"IJIN Komandan", beriringinan dengan itu operan pendek dari seorang pemain kepada Ruslan Buton.

Itu adalah penghormatan seorang prajurit kepada pimpinannya meskipun sedang bermain bola.

Sebelum mengoper kepada komandan, mereka lebih dahulu meminta ijin. Dan saya ditugaskan khusus mengawal pergerakan pria bertubuh kekar ini. Bukan tanpa alasan, saya sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri. Kedekatan kami ini dimanfaatkan oleh senior jurnalis saya agar menjaga ketat sekaligus bermain kasar sekalipun.

Kala itu, Ruslan memimpin Kompi A Yonif 732 Banau, Ternate dengan pangkat Lettu (Letnan Satu). Setiap Sabtu lapangan milik TNI digunakan khusus wartawan. Jika tak ada lawan, maka TNI lah lawan kami. Minuman sudah pasti beliau siapkan. Sorenya main bola, malamnya kami ngopi.

"Dik, sampai hari ini saya belum punya rumah meskipun sudah jadi perwira, saya tidak sudi punya rumah kalau masih ada orang susah yang saya temui di jalan," kata Ruslan di suatu siang.

Saat mendapati tulisan kakak senior saya, soal sekelurga yang tinggal di gubuk, Ruslan langsung menelpon saya, dia mau penulis berita mengantarnya ke lokasi. Dan 2 pekan setelahnya sekelurga tersebut tinggal di rumah layak, lengkap dengan perabotan. Itu ditanggungnya.

Jelang ditugaskan jadi Dansatgas ke Taliabu saya kembali di telepon.

"Dik, kita coba senjata baru, ini senjata yang digunakan Indonesia saat juara di Australia."

"Oke, saya segera ke Kompi."

Tak lama, dia ditugaskan ke Lede, negeri yang disebut rawan, judi marak dimana-mana dan saling bunuh jadi hal biasa disana. Itu pula yang jadi musabab Ruslan dipecat dari satuan. Tapi seluruh masyarakat Lede menaruh hormat atas kebaikannya. Memberlakukan jam malam bagi anak sekolah, melarang keras penjual miras, hingga siapkan TPA di Pos Satgas dan guru ngaji anggotanya sendiri. Dia juga menanggung kebutuhan lelaki buta yang hidup sebatang kara di Lede.

Tapi nasibnya belum mujur, dia diuji dengan kebaikannya.

Kini, Ruslan datang dengan kabar lain, ia dicokol polisi karena rekaman suara surat terbukanya untuk Presiden Jokowi. Dia meminta Jokowi legowo dan undur diri dari jabatan kepresidenan. Tegas.

Bagi seorang patriot sejati Ruslan tentu sudah tahu konsekuensinya jika harus bicara lantang kepada penguasa. Praktek kriminalisasi bagi pengkritik pemerintah tumbuh subur dibawah rezim ini. Dan Ruslan pasti tidak menyesal apalagi takut. Dia telah mengorbankan pangkat Kaptennya. Dan tidak akan berhenti hanya di penjara.

Patung seorang patriot masih berdiri gagah di depan Kompi Senapan RK 732 Banau. Buah tangan prajurit sejati.

Jangan gentar pak dengan sebuah kebenaran yang telah kau lakukan.

#SaveRuslanButon


loading...