Kemarahan Presiden Membuka Tabir Fakta


Mohon maaf. Kemarahan Presiden Jokowi yang sedang heboh videonya saat ini saya nilai justru lucu. Saya malah cekikikan saat menonton.

Marah 18 Juni, diunggah 28 Juni. Semacam menonton partai tunda. Unsur paling dasar dari kemarahan yakni spontanitas, keseketikaan, ekspresif, natural... hilang. 10 hari berselang setelah momen marah itu situasi masih begini-begini saja. Berarti kemarahan Presiden adalah jenis kemarahan yang tidak produktif karena tidak banyak mengubah keadaan.

Ingin membubarkan lembaga, me-reshuffle kabinet, pikirannya sudah ke mana-mana. Justru keliru. Kemarahan seorang pemimpin yang berwibawa tidak boleh ke mana-mana. Kemarahannya harus fokus ke satu titik. Jika ke mana-mana, namanya ngomel. Kecerewetan belaka. Biasanya tidak mengubah apa-apa.

Kemarahan sudah ‘overbought’. Kalau di kurva saham RSI sudah mencapai garis resistance. Harganya berpotensi jatuh. Kumparan mencatat sudah 11 kali kemarahan Presiden ditayangkan ke publik selama dua periode menjabat (karena layanan pelabuhan lambat, dicatut Setnov, menterinya saling serang, BBM Papua mahal, dikaitkan isu PKI, peraturan menteri hambat investasi, mati listrik massal Jabodetabek dll). 11 kali terlihat marah di depan rakyat terlalu banyak. Dibandingkan dengan Kim Jong Un, mungkin lebih banyak Presiden Jokowi. Jangan terlalu sering marah-marah, apalagi di-upload ke Youtube.

Kemarahan Presiden membuka tabir fakta yang justru menyebabkan rakyat cemas dan—mungkin—jauh lebih marah. Saat ini masuk new normal dan baru 1,5% anggaran kesehatan untuk menghadapi COVID-19 dikucurkan. Berarti 3 bulan ke belakang, saat rawan-rawannya situasi, kita berperang melawan COVID-19 dengan senjata pistol air. Pantas saja tenaga medis tidak pakai APD layak, rumah sakit rujukan berantakan, tes massal tidak banyak dilakukan, penularan sangat mungkin terjadi ratusan kali lipat dari angka resmi yang diumumkan...

Bahasa Indonesia memiliki setidaknya 181 sinonim kata “marah”. Varian kemarahan di negara ini sangat banyak dan ‘detail’: “geram”, “gusar”, “meradang”, “membengis”, “sewot”, “sangkak”, “berangsang”, “rajuk”, “sungut”, “merentak”, “murih”, “jengkel”, “dongkol”, “rongseng”, “sebal”, “hangus dada”, “naik panas”, “radang hati”, “cerca”, “bertengking”...

Locus delicti-nya juga luas: orang marah di kasur, di jalanan, di ruang karaoke, di kantor, di kolam renang, di lapangan, di ruang sidang kabinet, di tempat ibadah, di tempat wisata, di restoran...

Kelas kemarahan seorang presiden tentu harus berbeda dengan orang pada umumnya. Sembarangan marah-marah justru kontraproduktif. Apalagi tidak jelas hasil dari luapan kemarahan itu yang seharusnya berupa perubahan kebijakan.

Sejak 16 April 2020, saya dan teman-teman pendukung Salam 5,6 Triliun bisa dibilang marah-marah juga lewat tulisan. Faktanya hingga saat ini belum diputuskan juga penghentian model jual beli video Kartu Prakerja Rp5,6 triliun itu. Apa tidak sewot?

Sebelum Presiden marah-marah terhadap kinerja menteri, saya dkk sudah marah terlebih dahulu. Bagaimana bisa Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang aktif merangkap jabatan sebagai Komisaris platform digital mitra Prakerja dan tidak dikasih sanksi apa-apa. Bayangkan betapa dongkolnya melihat keadaan itu.

Milenial diangkat sebagai staf khusus dan diganjar gaji Rp51 juta dan fasilitas pejabat negara. Tapi kita sama sekali tidak tahu apa kerjanya dan apa fungsinya terutama ketika pandemi seperti sekarang. Apa mereka betul bekerja atau disambi main PS 5, kita tidak tahu.

Kakak Menteri BUMN pengusaha batu bara. Perpanjangan kontrak batu bara hanya ada dua pilihan sesuai peraturan: dilanjutkan oleh pemegang izin sebelumnya atau dikelola oleh BUMN. Berarti apapun pilihannya, jatuhnya ke pihak kakak atau adik. Itu saja kemungkinannya. Lantas kita diceramahi soal akhlak oleh menteri yang bersangkutan. Apa tidak gondok?

Waktu penyusunan kabinet disarankan oleh banyak ahli supaya menteri pendidikan adalah sosok yang terbukti dedikasi dan pengalamannya dalam dunia pendidikan. Tapi dipilih pembuat aplikasi ojol dengan harapan ada transformasi digital. Ketika pandemi dan WFH, kita justru pakai aplikasi orang (Zoom, Google Meet dkk). Menteri 4.0 malah hadir dengan gagasan ‘brilian’ kembali ke TVRI dan tayangkan Netflix. Lucu. Apa rakyat tidak berangsang?

Kalau mau jujur, banyak yang marah juga kepada presiden soal politik dinasti. Kita pikir bisnis martabak dan minuman tradisional punya prospek cerah di masa depan setelah di-promote putra presiden, ternyata itu salah. Pengusaha milenial malah mau nyalon kepala daerah, pun menantu presiden. Kasihan pebisnis martabak yang berharap banyak.

Tapi, bagaimana pun, saya menghargai kemarahan Presiden Jokowi dan ingin memberi masukan agar Presiden waspada dan berhati-hati terhadap orang-orang dekat sekeliling yang mempolitisir kemarahan dan emosi Anda.

Belajar dari pengalaman marah-marah Presiden yang saya amati selama menjabat, saya pikir masalah utamanya adalah kewibawaan presiden sendiri. Bisa jadi terlalu banyak musang berbulu domba yang memainkan politik dua muka di sekitar presiden yang sebenarnya justru tengah mendegradasi kewibawaan presiden.

Memberikan masukan yang sesat, mengambil keuntungan pribadi/kelompok, bermain dua kaki, bekerja tanpa loyalitas dan ideologi yang sejalan, menjilat dengan lidah yang menjulur sepanjang-panjangnya dan sejenisnya adalah ciri-ciri musang dimaksud.

Tolong diberantas yang semacam itu, Pak Presiden. Supaya kemarahan tak sekadar mengomel tanpa juntrungan.

(Agustinus Edy Kristianto)

*fb

loading...