Gontor yang Sederhana itu...


Gontor yang sederhana itu...

Kesederhanaan adalah jiwa yg menyelimuti, mengawal, menyatukan, hidup, dan menjiwai Gontor.

Gontor dibangun dengan jiwa kesederhanaan ini..bukan untuk mengajari santrinya hidup miskin, tidak siap jadi orang kaya, hidup seadanya, dan tidak diajarkan hidup berpunya itu seperti apa, tapi jiwa sederhana yang justru mengajari para santrinya untuk bisa hidup dengan berbagai kondisi sosial yang dihadapinya..siap tidur di kolong jembatan, siap pula tidur di hotel berbintang..siap makan seadanya, sedia pula makan segala ada..siap hidup dengan fasilitas apa adanya, sedia pula hidup dengan fasilitas serba ada.

Karena kesederhanaan di Gontor yang diajarkan kepada kami adalah: hidup sesuai dengan kebutuhan, dan bukan hidup selaras dengan keinginan.

Mungkin ada diantara antum yang sedikit bertanya...

Itu Kyai Gontor kemana-mana naik mobil, apakah Gontor masih sederhana??

Itu Kyai Gontor sering pergi naik pesawat. Keluar negeri lagi...apakah Gontor masih sederhana??

Itu di Gontor mobilnya banyak sekali. Guru-guru pada punya mobil juga. Apakah Gontor masih sederhana??

Itu di Gontor gedungnya pada bagus-bagus. Apakah Gontor masih sederhana??

Alhamdulillah...sampai sekarang kehidupan di Gontor masih diselimuti kesederhanaan itu...

Kalau kita fikirkan. Seorang Kyai yang memiliki 25.000 santri dan puluhan pesantren cabang di seluruh Indonesia. Sudah layak punya mobil atau belum?? Untuk mengunjungi cabang-cabang pesantrennya?? Untuk menghadiri undangan dari berbagai kalangan yang nyaris selalu ada setiap hari?? Untuk sekedar melihat-lihat tanah wakaf yang membentang yang diamanahkan ke Gontor?? Saya fikir layak sekali Kyai Gontoe memiliki sebuah mobil.

Tapi tahukah antum?? Sampai saat saya turunkan tulisan ini (sekitar 3 Tahun lalu). Kyai Hasan Abd Sahal belum punya mobil pribadi. Sama sekali tidak punya kendaraan pribadi. KH Syukri Zarkasyi, bahkan baru membeli mobil pribadi setelah beliau sakit. Ketika beliau tidak bisa menyopiri sendiri mobil itu. Dan guru-guru Gontor yang senior, baru boleh memiliki mobil sendiri jika sudah betul-betul sudah senior...senior...berjuang lama...dan layak mendapatkan kendaraan karena mobiltasnya tinggi..itu juga masih mobil second, dan tidak boleh punya sedan.

Mobil yang dikendarai pimpinan adalah mobil dari pondok. Yang diatur penggunaanya. Kapan dibiayai pondok, kapan dibiayai kyai sendiri...tidak terbayangkan, seorang Kyai dengan 25.000 santri menerima tagihan dari bagian adminiatrasi, soal penggunaan kendaraan dinas. Ini pondok yang punya Kyai, yang berhak mengatur ya kyai, yang berhak membagi keuangan pesantren ya Kyai...tapi di Gontor, bahkan Kyai sekalipin ikut aturan yang dibuat sendiri...inilah kesederhanaan itu.

Kenapa sering bepergian naik pesawat?? Karena itu tanggungan si pengundang. Bukan menggunakan uang pondok. Uang pondok baru akan digunakan jika berhubungan langsung dengan pondok. Jika tidak, maka yang mengundanglah yang akan menyediakan semua keperluan dan akomodasi pak Kyai. Termasuk kunjungan Kyai Gontor ke luar negri itu.

Gedung-gedung Gontor megah?? Mercusuar?? Ya karena Gontor butuh itu. Gontor butuh asrama yang bisa membuat santri nyaman belajar. Gontor butuh masjid besar yang menampung 4000 santri dengan menara masjid yg besar juga, agar lantunan suara adzan bisa menyentuh hamparan bumi yg lebih luas...Gontor butuh stadion yg memadai untuk santrinya bisa bermian bola dengan asyik dan nyaman...Gontor butuh kelas yg menjamin santrinya bisa menerima pelajaran dengan nikmat...Gontor hidup beedasarkan kebutuhan bukan keinginan.

Ah...panjang nian kalau saya jelaskan ini satu per satu soal kesederhanaan ini....yg jelas, sampai saat ini, di Gontor tidak pernah dikenal istilah gaji...Guru senior yg mengoreksi jawaban ujian santri cuma mendapat teh, kopi, kacang goreng dan keripik singkong. Guru-guru muda cuma boleh punya sepeda....

Tapi para alumninya membuktikan bahwa dengan kesederhanaan ini mereka bisa dakwah dengan lamborgini tanpa ada rasa katrok atau kampungan...juga bisa berdakwah dengan telanjang kaki menyusur bumi tanpa hilang rasa percaya diri... Indahnya kesederhanaan itu...

(By: Rachmatullah Oky)

loading...