Ustadz Tamim Adalah Teladan Yang Terus Hidup


[PORTAL-ISLAM.ID] Saya terlambat mengucapkan bela sungkawa untuk Kang Tamim. Tak apalah terlambat sekedar sungkawa di media. Tapi luahan doa untuk beliau sudah saya langitkan sedari pagi, sejak berita kewafatannya banyak mendatangi berbagai grup WhatsApp yang saya ikuti.

Pun, di berbagai dinding akun Facebook teman-teman saya, baik teman yang alumni PKS atau teman yang masih betah di PKS, berita kepergian Ustadz Mutammimul Ula bersamaan atau berhimpitan mereka posting.

Semua itu tak lepas karena Ustadz Tamim begitu diakui ketokohannya sebagai bagian dari orang-orang yang telah terlibat membesarkan PKS sejak partai ini awal didirikan.

Beliau pernah menjabat anggota Majelis Pertimbangan Partai. Sebagaimana beliau juga pernah menjadi anggota DPR-RI dari PKS selama dua periode berturut-turut: 1999 – 2009.

Ustadz Mutammimul Ula adalah satu di antara sedikit orang Indonesia yang sukses berkarir sosial, sekaligus juga sukses membina keluarga. Dari sepuluh putra-putri beliau, tujuh di antaranya telah menyelesaikan hafalan Al Quràn 30 Juz. Sedang lainnya, sudah tuntas beberapa Juz menuju 30 Juz.

Selain memberikan pendidikan agama yang baik, Ustadz Tamim juga begitu serius mendidik anak-anaknya untuk sukses secara akademik.

Tak heran kalau putra dan putri beliau berhasil memasuki kampus-kampus negeri ternama di dalam dan luar negeri. Semisal ITB Bandung, UI Depok, UNJ Jakarta, LIPIA Jakarta, Al Azhar Kairo dan lain sebagainya.

Ustadz Tamim sungguh adalah teladan. Teladan bahwa tidak harus ada dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan yang disebut umum.

Justru di situlah hebatnya, bagaimana seorang anak sukses menjadi insinyur, tapi ia juga adalah seorang penghafal Al Quràn. Bagaimana seorang anak kelak menjadi ekonom hebat, tapi ia juga adalah penghafal Al Quràn. Begitulah seterusnya.

Itu juga tak lepas profil Ustadz Tamim sendiri, beliau adalah seorang ustadz yang juga seorang praktisi hukum sekaligus juga adalah politisi.

Kang Tamim adalah sarjana hukum dari Universitas Dipenegoro Semarang, sekaligus sarjana Syariah dari Universitas Sultan Agung Semarang. Sedang magister hukumnya, beliau raih dari Universitas Jayabaya Jakarta.

Secara pribadi saya tidak pernah bertemu dengan Ustadz Tamim. Tapi nama beliau memang tidak asing lagi di telinga orang-orang PKS atau orang yang pernah bersinggungan dengan PKS.

Kang Tamim menjadi teladan di internal PKS maupun di luar PKS. Seorang ustadz bersahaja. Seorang advokat yang jujur dan benar-benar berpihak kepada kebenaran. Beliau adalah pendiri PAHAM: Pusat Advokasi dan Hak Asasi Manusia.

Dari sekian banyak anak-anak beliau, hanya satu yang saya kenal dan pernah bertemu: Maryam Qonitat. Pernah singgah ke rumah dan ke Babul Khairat, dalam rangka launching novel: Kaffiyeh Merah yang ia tulis.

Ketika itu ia datang bersama Taqiyah, ketua FLP Saudi Arabiya yang saat itu sedang belajar di Universitas Ummul Quro Mekkah. Maryam sendiri ketika itu sedang menempuh S2 di Universitas Antar Bangsa Kuala Lumpur.

Yang menarik, sebelum mengunjungi pesantren kami, Maryam dan Taqiyah sebelumnya tidak pernah bertemu. Tapi mereka sepakat melakukan kerjasama. Taqiyah memfasitasi penerbitan novelnya Maryam. Saya adalah salah satu yang didatangi dari beberapa tempat lain yang dkunjungi.

Begitulah literasi banyak mengumpulkan manusia, sedang politik seringkali membuatnya terserak.

Selamat jalan, Usatadz Tamim. Ragamu mungkin telah berpindah alam. Tapi teladanmu terus akan mengabadi. Jariyah akan terus mengalir untukmu, menjadi pepadang kuburmu dan menjadikannya taman di antara taman-taman surga.

(Ust. Abrar Rifai)

Baca juga :