Tuduhan MAKAR Dosen UGM Pada Diskusi "Pemecatan Presiden", Padahal UGM Lah Yang Pertama Usulkan Suksesi Jaman Orba


MAKAR

Tuduhan makar atas rencana diskusi yang kemudian tidak jadi digelar di Fakultas Hukum UGM itu ternyata pertama kali muncul dari bekas calon Rektor UGM, seorang dosen Fakultas Teknik. Kalau kita baca surat-surat terbuka yang sering disebarkannya dalam setahun terakhir, orang ini sepertinya sedang dan senang sekali mencari muka.

Kasihan UGM, karena kini jadi kian sering mendapatkan kredit negatif di mata publik akibat ulah orang-orang berpikiran kerdil semacam itu.

DULU, USULAN SUKSESI ITU PERTAMA KALI MUNCUL DARI UGM!

Saya benar-benar penasaran, dosen UGM yang telah menyebarkan tuduhan kalau diskusi semacam ini bisa dianggap sebagai upaya "makar", sehingga berbuah teror pada Profesor Ni'matul Huda dari UII?

Dia mungkin tidak tahu, kalau topik-topik semacam ini bukan hanya pernah didiskusikan di UGM sejak 30 tahun lalu, artinya di tengah puncak kekuasaan Orde Baru, namun UGM sendiri adalah perguruan tinggi pertama yang berani mengusulkan perlunya suksesi kepemimpinan nasional kepada MPR pada masa itu.

Siapapun dosen itu, dia seharusnya mempelajari sejarah kampusnya dengan benar!

Pada 23 Desember 1989, MPR RI menyebarkan daftar pertanyaan yang dikirim ke berbagai perguruan tinggi mengenai Konsep GBHN 1993-1998. Oleh UGM surat tersebut direspon dengan membentuk Tim 9, yang dibentuk berdasarkan penugasan Senat Universitas Gadjah Mada tanggal 5 Mei 1990. Tim itu ditugasi untuk menyusun usulan konsep GBHN yang nantinya akan disampaikan kepada MPR.


Buku "GBHN dan Pembangunan Nasional Jangka Panjang tahap Kedua, 1993-1998", yang terbit pada penghujung 1990, adalah hasil kerja dari Tim 9 tersebut, sebuah buku yang kemudian membuat "geger" dan menghiasi halaman surat kabar dan majalah berita nasional.

Sumber kegegeran itu tak lain dari keberanian Tim 9 UGM dalam mengajukan sejumlah persoalan penting yang waktu itu sangat tabu dibicarakan, yaitu soal (1) pembatasan masa jabatan presiden; (2) dikuranginya Dwifungsi ABRI; (3) diterapkannya Demokrasi Ekonomi/Ekonomi Pancasila; (4) diterapkannya gagasan reforma agraria; (5) desentralisasi; (6) pengurangan utang luar negeri; (7) isu korupsi.

Tujuh isu itu telah membuat pemerintah kebakaran jenggot dan pengurus universitas kalang kabut (waktu itu rektornya dijabat Prof. Dr. Mochamad Adnan, dari Fakultas Teknologi Pertanian).

Kita tentu masih ingat bagaimana pada masa-masa akhir kekuasaan Pak Harto, Amien Rais (yang saat itu dosen sekaligus sebagai guru besar Ilmu Politk UGM -red) pernah membuat geger karena cukup gigih berbicara mengenai perlunya suksesi. Amien mengklaim bahwa isu suksesi yang dikemukakannya waktu itu sebenarnya bukan hal baru, karena sejak awal 1990-an ia telah melontarkan isu itu dalam kerangka akademis, dan bukan politis.

Pengakuan Amien memang benar, karena dia termasuk ke dalam anggota Tim 9. Artinya, sejak 1990 dia memang telah terlibat dalam perguliran wacana mengenai suksesi, jadi bukan baru pada 1997, ketika ia ditantang oleh Permadi dalam sebuah acara di LBH Jakarta.

Konsep yang disusun oleh dosen UGM ini merupakan satu-satunya konsep yang pernah diajukan ke MPR, karena konsep dari perguruan tinggai lain, menurut penelusuran yang saya lakukan, tidak pernah terekspose. Mungkin perguruan tinggi lain juga memberikan usulan konsep, namun karena isinya "tidak istimewa", sehingga tidak pernah diangkat media.

Siapa sajakah anggota Tim 9 itu, yang telah membuat UGM "naik daun" dan menjadi berita di berbagai media nasional pada akhir 1990? Anggotanya adalah Dr. Amien Rais (FISIPOL), Dr. Ichlasul Amal (FISIPOL), Dr. Kuntowijoyo (Fakultas Sastra), Dr. Nasikun (FISIPOL), Dr. Loekman Soetrisno (Fakultas Sastra), Dr. Yahya Muhaimin (FISIPOL), Drs. Herqutanto Sosronegoro (FISIPOL), dan Dr. Bambang Sudibyo (Fakultas Ekonomi). Dan yang menjadi anggota kesembilan, sekaligus menjadi ketua tim tersebut tak lain adalah Prof. Dr. Mubyarto (Fakultas Ekonomi).

Pada masanya, UGM pernah memiliki dosen-dosen yang berani menyuarakan kejujuran dan berani mempertahankan pendapatnya, meski harus berhadapan dengan kekuasaan seorang penguasa yang bisa melakukan apa saja pada zamannya.

Kita tentu prihatin, hanya karena presiden saat ini kebetulan alumni UGM, diskusi-diskusi yang mengkritisi kebijakan pemerintahan dan jalannya ketatanegaraan di kampus UGM tiba-tiba mengalami sensor, dan kini bahkan teror. Bagi saya, ini adalah kemunduran.

Saya yakin, bukan situasi semacam ini yang dulu diperjuangkan dan diajarkan oleh guru-guru kita di UGM.

(By Tarli Nugroho)/fb

___
*NB:
- Dosen UGM yang mempersoalkan diskusi ini adalah pengajar Fakultas Teknik Sekolah Pascasarjana UGM, Bagas Pujilaksono Widyakanigara. Ia membuat tulisan yang menuduh adanya gerakan makar di balik diskusi ini. (Tempo)

- Bagas Pujilaksono sempat menjadi Bakal Calon Rektor UGM (2017-2022), Tapi gagal Lolos Seleksi Administrasi (Okezone)

MAKAR Tuduhan makar atas rencana diskusi yang kemudian tidak jadi digelar di Fakultas Hukum UGM itu ternyata pertama...
Dikirim oleh Tarli Nugroho pada Jumat, 29 Mei 2020
DULU, USULAN SUKSESI ITU PERTAMA KALI MUNCUL DARI UGM! Saya benar-benar penasaran, siapa dosen UGM yang telah...
Dikirim oleh Tarli Nugroho pada Jumat, 29 Mei 2020
loading...