JAE BIN OPUNG MENGHADANG WAN ABUD (Bagian II, habis)


JAE BIN OPUNG MENGHADANG WAN ABUD
(Bagian II, habis)

Pada suatu hari yang cerah, Opung  terkejut bertemu Wan Abud di pantai utara ibu kota. Wan Abud ternyata tidak mati seperti harapan Opung, mungkin juga Jae. Ia masih memegang jabatan penting, mungkin lebih penting daripada jabatan dia sebelumnya. Lebih penting karena jabatan ini bukan diberikan presiden, tapi mandat langsung dari rakyat. Di posisi baru ini ia justru lebih cemerlang. Semua talentanya -- kecerdasan, kenegarawanan, integritas, kepemimpinan dan keberanian politik melawan anasir-anasir jahat-- memancar berdesak-desakan dari dirinya di bawah sorotan matahari yang terang-benderang.

Namun, kegemilangan dari pikiran yang cemerlang dan hati yang tulus inilah yang membuat banyak orang cemburu. Pasti juga Jae dan Opung. Betapa tidak, penampilannya yang berwibawa dan konsisten dalam mengeksekusi kebijakan telah membuat Jae dan Opung megap-megap. Sisa cahaya istana redup, berpindah ke balai kota. Sungguh, tanpa rencana dan niat busuk, Wan Abud telah muncul sebagai gubernur rasa presiden. Mata rakyat pun tertuju ke sana karena sebagian orang mulai insyaf dan berpikir bahwa dialah yang patut mengelola negeri besar ini, bukan Opung, apalagi Jae.

Dari diri Wan Abud terpancar kharisma pemimpin kelas dunia. Ia tak peduli pada cacian dan pujian dan hanya bekerja dan bekerja untuk rakyat. Malah ia hadapi itu semua dengan tawadhu, rendah hati. Barangkali ia percaya pada kata-kata bijak dari Kong Hu Cu bahwa orang baik adalah yang dicintai sebagian orang dan ditolak sebagian yang lain. Semua Nabi dan negarawan besar pun mengalami hal itu.

Pertemuan Opung dengan Wan Abud adalah pertemuan benturan. Kita tidak tahu apakah ini kelanjutan perseturuan mereka di masa lalu ataukah masalah yang benar-benar baru. Munculnya Wan Abud dengan sikap tegas menghentikan reklamasi pantai ibu kota sebagaimana janji kampanyenya dulu dihadang Opung dan disokong Jae. Reklamasi harus dilanjutkan, kata Opung.

Wan Abud menjawab tidak, lalu menambahkan: tegakah kau merusak pantai ibu kota dan menghancurkan mata pencaharian nelayan, proyek yang hanya menguntungkan taipan? Mengapa kita merampas penghidupan Pribumi yang sengsara demi taipan? Bagaimana mungkin kita, saya dan Anda, mengklaim diri sebagai pemimpin rakyat kalau pada kenyataannya kita mengabdi pada kaum oligarki? Tidak, aku tidak mau jadi jongos taipan. Aku disumpah untuk mengabdi pada warga ibu kota. Wan Abud menang dan Opung surut ke belakang dengan wajah marah: masak aku kalah dengan Wan Abud disaksikan seluruh rakyat negeri ini?!

Sekali lagi, kita tidak tahu apakah kasus reklamasi itu membuat Opung dendam pada Wan Abud yang makin berkibar di seantero negeri. Meskipun kita tahu Opung, juga Jae, sangat kecewa dengan kebijakan Wan Abud yang sangat berani melawan mereka.

Reklamasi itu adalah proyek kongsi antara Jae-Ahong dengan taipan. Hanya saja Jae bersikap low profile, seolah-olah dia tak punya kepentingan dengan proyek itu. Yang jelas, kebijakan Wan Abud menangani corona sekali lagi berbenturan dengan sikap Opung yang didukung Jae. Kedua orang ini berpendapat corona tak berbahaya. Yang bahaya adalah kehancuran ekonomi. Maka beleid-beleid Wan Abud coba dimentahkan oleh Opung dan Jae berdoa mudah-mudahan Opung berhasil membungkam Wan Abud. Namun, sekali lagi mereka harus tertampar malu karena kebijakan Wan Abud-lah yang terbukti benar dan harus diikuti. Ya, benturan Opung dan Wan Abud kali ini melibatkan paradigma penanganan covid-19. Wan Abud mengedepankan humanisme, Opung memprioritaskan ekonomi. Rakyat yang kesusahan jadi bingung.

Apapun, sudut pandang Wan Abud lebih populer, lebih masuk akal, dan humanis untuk mencegah lebih banyak rakyat jadi korban.

Opung berpendapat, ekonomi negaralah yang harus jadi fokus. Tak apa-apalah sekian orang -- mungkin puluhan ribu di puncak krisis kesehatan ini -- yang penting ekonomi negara tidak kolaps. Padahal menyelamatkan nyawa manusia bukan opsi, tapi keniscayaan. Malah, sikap Opung yang meremehkan manusia dikecam banyak orang. Ada yang curiga, jangan-jangan kebijakan Opung membolehkan ojol mengangkut penumpang karena keponakannya merupakan petinggi di perusahaan ojol.

Terlepas dari itu, Opung memang terbiasa bekerja dengan menabrak aturan. Dengan berbohong sekali pun. Misalnya, ketika negara membatasi masuknya orang asing di tengah wabah corona, ribuan buruh Cina malah membanjiri negeri atas rekomendasi Opung. Ketika ini menimbulkan kehebohan besar, Opung berdalih macam-macam yang kesemuanya terbukti bohong belaka. Sadar isu buruh Cina sangat sensitif, Opung meminta rakyat tak memandang mereka dengan pandangan negatif, seolah para buruh itu, yang kemungkinan sebagiannya membawa virus corona, membawa anugerah bagi bangsa. Apanya yang anugerah? Wong mereka merampas hak buruh lokal dan sebagai gantinya memberikan virus pada mereka.

Kalau Opung dan Jae meremehkan wabah mematikan ini, Wan Abud malah tak bisa tidur nyenyak sejak virus corona merebak di ibu kota. Dan pasti juga kecewa dengan sepak terjang Opung dan Jae. Masalahnya, keduanya tak serius menerapkan PSBB yang mereka buat sendiri. Maksudnya dibuat Opung, dan Jae tinggal menandatanganinya. Lagi pula, sebelum sampai di Morowali, Halmahera, dan Bintan, para buruh yang kemungkinan membawa virus mampir dulu di Jakarta. Dan mungkin juga marah -- meskipun kita belum pernah melihat Wan Abud marah -- atas beleid-beleid corona dari Opung, yang begitu saja disetujui Jae.

Ya, dalam pertikaian Opung-Wan Abud, Jae membiarkan Opung menindas Wan Abud. Ini juga bisa jadi bentuk kekecewaan Jae pada Wan Abud yang melibas Ahong dalam pilgub. Padahal, Jae sangat berharap Ahong meneruskan rencana-rencana mereka dengan para taipan. Ya, kekalahan Ahong itu membuat kongsi Jae-Ahong dengan taipan berantakan.

Bagaimanapun, kalau tujuan kebijakan Opung -- yang tentu dimanut-manut Jae -- adalah mengerdilkan Wan Abud, itu salah besar, kontraproduktif. Di mana-mana di dunia ini, tidak mungkin pikiran inferior mengalahkan yang superior, tidak mungkin pribadi kerdil mengatasi pribadi agung. Tapi perseteruan mereka masih berlangsung. Ke depan masih akan ada episode-episode pertikaian mereka yang mungkin lebih seru, dan berbahaya.

Opung harus mengubah strategi, yang lebih mengakomodir kebijakan Wan Abud. Kalau tidak, ia akan terpuruk lebih parah. Sebaliknya, Wan Abud menjulang lebih tinggi. Mari kita menunggu apa lagi jurus yang akan keluar dari Opung -- yang sudah pasti akan disokong Jae -- dalam upaya membalas dendam kepada Wan Abud, tokoh yang secara tidak sengaja telah mengekspos kualitas rendah Opung di saksikan rakyat.

Jika boleh memberikan saran, saya akan minta pada Opung untuk membiarkan Wan Abud terus mengalir bagai air bah. Menghadangnya adalah pekerjaan yang sia -sia. Hanya memalukan diri sendiri. Karena hukum air bah adalah terus menerjang sampai tiba di tujuan.

Jakarta, 17 April 2020

Penulis: Smith Alhadar
(Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education)

*Baca sebelumnya: JAE BIN OPUNG MENGHADANG WAN ABUD (Bagian I)

loading...