Membangun Kemanusiaan di Transjakarta


Sejak November 2019, Transjakarta meniadakan keberadaan petugas dalam bus (PLB) secara bertahap. Untuk yang “veteran” seperti saya, tentu hal tersebut adalah biasa saja. Toh saya selama ini jarang bertanya atau memanfaatkan keberadaan PLB, selain meminta supir untuk jangan ugal2an dan memberitahu jika ada penumpang sakit.

Tapi tidak demikian untuk banyak penumpang lain, terutama yang bukan penumpang rutin dan di usia tertentu. Di awal pemberlakuan tanpa PLB tersebut, banyak keluhan diarahkan pada akun media sosial Transjakarta, ataupun gerutu dumelan penumpang dalam bus, “gak ada petugas sih, jadi tuh cowo cuek ajak berdiri di area cewe”, atau “enak amat makannya, gak ada petugas sih”, dll.

Terlepas dari pro dan kontra tentang pemberlakuan kebijakan non PLB dalam Transjakarta tertentu, sebetulnya ada peluang yang muncul dari kebijakan tersebut. Sering kali saya menyaksikan penumpang membantu penumpang lain mencari rute (termasuk saya lakukan juga), atau penumpang muda menuntun yang tua atau berkebutuhan khusus, penumpang mengingatkan barang tertinggal, penumpang meningatkan penumpang lain kalau tasnya terbuka dll.  Modal sosial bermunculan dan interksi terjadi. Dulunya, tanya rute pada petugas, lalu selesai. Tapi sekarang, setelah tanya rute pada yang duduk disamping, bisa berlanjut pada obrolan: kampung dimana, anak berapa dll dll.

Sore tadi, ditengah flu berat melanda dan pusing yang tak kunjung hilang, serta badan yang menggigil walau baju sudah berlapis 3, saya justru mendapatkan kehangatan saat menyaksikan hal-hal sederhana yang kadang dianggap sepele – namun sering kali dibesar-besarkan jika sedang ada kebutuhan “politis”. Yaitu kejadian tolong menolong. Dan tentu lokasinya di Transjakarta,

Begitu saya naik bus di Halte Harmoni dan duduk manis, saya ternyata duduk di antara perbincangan antara penumpang yang sedang berusaha menolong nenek usia 67 tahun untuk menemukan cara mencapai tujuan akhirnya. Nenek tersebut naik dari Halte Juanda (2 halte sebelum Harmoni), bahkan saat menyeberang ke Halte Juanda pun dituntun salah satu penumpang yang kebetulan naik bus 3 itu juga. Perhatian Transjakarta, Penyeberangan Juanda tolonglah dibongkar saja, biarkan penumpang mondar mandir masuk via Pelican Crossing.

Saat itu, salah satu penumpang, ibu berusia 50 tahunan, dengan logat Betawi nan kental sedang menelpon, “RSUD mana? Nenek ini tanya turunnya dimana? Halte mane?” Ternyata ibu berjilbab biru muda sedang membantu nenek berjilbab oranye yang duduk di sebelahnya. “Oh RSUD Cengkareng? Iya nanti turun di Halte mane?” Lalu si ibu terdiam sebentar mendengarkan instruksi. Tak lama dia mematikan telpon dan menyerahkan henpon kepada perempuan yang pakai topi. Ternyata HP pun bukan punya si nenek, tapi ada penumpang lain yang berbaik hati meminjamkan.

“Jadi nek, nanti nenek turun aje di Halte Rawa Buaya. Terus naik ojek. Bilang aja ke RSUD Cengkareng bagian IGD. Entar kalau udah nyampe, minta tolong ama orang lain aja untuk bantuin telponin, ye.”

Si nenek mengangguk, dengan suara lirih dia berusaha mengulangi instruksi itu.

“Iye nek, nanti jangan malu-malu. Minta tolong aje ama orang disana untuk telponin lagi. Biar langsung ketemu. Itu nomor telpon jangan ilang, jangan dicampur-campur ama kertas gak keruan. Nanti gak ketemu,” si ibu itu terus nyerocos sambil membantu si nenek. Saya senyum-senyum senang mendengar logat Betawi. Entah kenapa kalau mendengar logat Betawi selalu mencerahkan hati.

Lalu ibu sebelah saya komentar, “waduh Rawa Buaya lagi, itu kan tangganya tinggi-tinggi. Nanti bisa gak si neneknya naik turun.” (PERHATIAN WAHAI TRANSJAKARTA!).

Tak lama kemudian, telpon si penumpang bertopi berdering. Ada telpon dari si kontak nenek tersebut. Telponpun diberikan kepada Ibu berjilbab biru muda itu lagi. Ternyata “instruksi lokasi turunnya” berubah. “Jadi turun di Jembatan Baru? …. Warung? Warung maneh? Disitu warung banyak! Udeh ketemu di RSUD aje!” Hihihi sayapun tersenyum simpul lagi. “Udeh naik ojek aja dari Jembatan Baru, nanti ke IGD.” Selesai pembicaran telpon, Ibu tersebut mengoreksi instruksinya dan mengulangi instruksinya pada si nenek tersebut, “Nanti turunnya di Jembatan Baru. Gak jadi di Rawa Buaya. Habis itu naik ojek ke RSUD.” Sebelah saya pun komentar lagi, “Nah mending di Jembatan Baru, seengaknya jalannya miring gak pake tangga.” (jalan miring = ramp, hehehe).

Perempuan bertopi yang duduk di samping nenek, sekaligus yang meminjamkan HP, dengan sigap mengeluarkan buku tulis dan merobek 1 lembar kertas. Lalu dia mencatat nomor telpon yang dihubungi via HP nya tersebut. Juga mencatat beberapa hal lainnya, mungkin nama halte dan nama rumah sakit. “Wah si cici tanggep nih,” komentar ibu yang lain saat melihat perempuan tersebut mencatat. Ibu jilbab biru pun bicara lagi, “nah tuh sudah ditulisin ya nek, nomor telponnya. Jangan ilang. Jangan malu-malu nanti pas minta tolong.”

Si nenek pun tampak lega dan tidak kebingungan lagi. Namun badannya masih awas, beberapa kali dia tanya dengan suara lirih, dan ibu jilbab menjawab, “Ini masih di Grogol, masih jauh.” Akhirnya saya iseng dengan suara keras bilang, “Tenang aja Nek, duduk santai aja, masih 6 halte lagi baru sampai.” Setelah itu tak lama nenek dan Ibu Betawi itu ngobrol ngalur ngidul. Saya tak perhatikan lagi.

Saat bus melewati Halte Dispeda (1 halte sebelum Jembatan Baru), si perempuan bertopi, mengatakan sesuatu pada Ibu Betawi itu, “Saya juga turun di Halte Jembatan Baru. Tadi RSUD Cengkareng kan? Nanti saya bantu si nenek sampai dapat ojek.”

Si Ibu Betawi pun tersenyum, “Nek, ini nanti dianterin sama cici ini ya. Ikut sama dia ya.” Si Nenek pun berkata lirih, sepertinya berterima kasih.

Lalu bus pun berhenti di Halte Jembatan Baru. Si cici berdiri, menuntun nenek itu, dan pelan-pelan mereka turun di Halte Jembatan Baru.

Kejadian diatas mungkin tidak akan terjadi jika ada PLB dalam bus. Biasanya penumpang bertanya pada PLB. Puas atau tidak puas pada jawaban tersebut, mereka mempercayakan pada PLB. Belum tentu ada pertanyaan lanjutan, walaupun PLB bisa saja salah memberikan informasi.

Ketiadaan PLB itu juga memberikan kita pada kesempatan dan kemungkinan lain. Yaitu kemungkinan dan kesempatan kita, sesama pengguna Transjakarta untuk ramah, memahami kebutuhan orang lain, bertenggang rasa dan saling menolong. Sesuatu yang mungkin makin jarang ditemukan di kota-kota besar yang makin individualis ini.

Ketiadaan PLB itu membuat kita membangun dan menjaga kemanusiaan serta keberadaban kita, serta mengamalkannya tanpa perlu bertik-tok-an.

(by @elisa_jkt)