Teuku Zulkhairi Tanggapi Aceh Paling Bawah Indeks Kerukunan Beragama


TANGGAPAN INDEKS KERUKUNAN BERAGAMA KEMENAG

Oleh: Teuku Zulkhairi

Ketika Islam masuk ke Aceh, orang-orang Aceh ikhlas menerima Islam secara totalitas. Baik Raja maupun rakyatnya. Misalnya Raja Pasai, Meurah Silu. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Malik As-Shalih. Menunjukkan ia ikhlas menerima Islam dan siap meninggalkan tradisi lama.

Maka Islam dan Aceh dalam perkembangan kemudian menjadi senyawa. Lage zat dan sifeut.

Tapi hal serupa tidak terjadi ketika Islam disebarkan ke wilayah lain. Ke Pulau Jawa misalnya. Kita mengenal kisah Syekh Subakir, ulama asal Persia yang dikirim Khalifah Turki Utsmani untuk berdakwah ke Pulau Jawa.

Dalam sebuah cerita, Syekh Subakir menghadapi tantangan dahsyat dalam menyebarkan dakwah Islam di pulau tersebut. Makhluk halus berupa jin-jin kafir yang dipimpin Sabda Palon berupaya menghadang Syekh Subakir. Mereka tidak mau Islam masuk ke Pulau Jawa.

Tapi mereka gagal. Syaikh Subakir tak terbendung dengan izin Allah. Sabda Palon and the gank pun lari kucar kacir.

Tapi meskipun kemudian Sabda Palon gagal mengalahkan Syekh Subakir, namun mereka tetap meminta agar tradisi mereka di pulau tersebut agar dibiarkan terus bertahan. Syekh Subakir mengiyakan supaya pertumpahan darah tidak terjadi.

Artinya, disatu sisi Islam dibolehkan tersebar, tapi di sisi lain ada tradisi yang mereka minta untuk tetap dipertahankan, meskipun terdapat tradisi yang bertentangan dengan Islam dan dimana mereka sangat memuji tradisi ini.

Maka dalam penelitian antropolog bernama Clifford Gretz, ia membagi keIslaman masyarakat di pulau Jawa ke dalam tiga kelas/model, "Santri, Priyayi dan Abangan".

Santri adalah mereka yang menerima Islam secara totalitas. Mereka adalah kelas masyarakat pulau jawa yang mengikuti para ulama.

Sedangkan Priyayi adalah sebaliknya. Mereka ego karena mereka adalah kaum berduit dan dekat dengan kekuasaan. Mereka takut hilang kekuasaan dan dunia. Maka kaum santri tidak jarang menjadi lawan mereka. Priyayi ini adalah mereka yang tidak ikhlas menerima Islam.

Sedangkan "abangan" posisinya di tengah-tengah. Benci tidak, cinta juga tidak. Tapi kadangkala mereka menjadi pengikut kaum priyayi.

Priyayi dan abangan ini dalam perkembangan kemudian disebut antroplog lain seperti MC Ricklefs sebagai pihak-pihak yang sangat keras menentang Islam. Mereka adalah para pemegang kendali kekuasaan.

Tapi pembagian di atas tidak kita temukan di Aceh. Karena sejarah Keislaman Aceh adalah sejarah indah dimana orang-orang Aceh ikhlas menerima Islam, meskipun mereka harus meninggalkan tradisi mereka sebelumnya yang tidak sesuai Islam.

Maka di Aceh sesajen tidak diakui sebagai adat Aceh, karena adat bagi orang Aceh haruslah bersendikan syara', dan syara' bersendikan kitabullah. Seperti itulah yang diatur oleh Po Teumeureuhom dan Syiah Kuala.

Jadi ketika hari ini Aceh bertubi-tubi dituduh macam-macam, dituduh intoleran dan sebagainya, saya sangat tidak terkejut.

Kita "diserang" dengan opini semacam itu karena kita punya jalan hidup sendiri. Jalan hidup yang diajarkan para endatu kita yang ikhlas menerima Islam. Dan itu tidak sanggup mereka pahami sebab endatu mereka mungkin dulu tidak ikhlas menerima Islam.

Dan mereka yang menyerang kita barangkali adalah bagian dari apa yang digambarkan Clifford Gretz di atas sebagai "kaum priyayi", mereka yang tidak ikhlas menerima Islam. Tapi apapun ceritanya, peradaban Aceh lebih tinggi dan terbukti Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam. Kita tidak pernah takluk kepada Belanda saat mereka sudah takluk dalam jangka waktu yang lama.

Jadi, Orang Aceh tidak perlu terpengaruh.

12/12/2019

(Sumber: fb penulis)