Ketika Ustadz Menghina Agamanya Sendiri

Ketika Ustadz Menghina Agamanya Sendiri

Oleh: Jonru Ginting

Sekarang sedang viral berita tentang Gus Muwafiq yang membuat ummat marah, karena isi pidatonya jelas-jelas menghina Rasulullah. Dan ternyata, beredar juga video-video lama, memperlihatkan ceramah dia yang isinya juga menghina Rasulullah. Ternyata bukan kali ini saja. Ternyata sudah sejak dulu.

Tragisnya, ceramah yang menghina Rasulullah tersebut justru disampaikan di acara Maulid Nabi. Naudzubillahi min dzalik!

Kok bisa-bisanya seorang ustadz menghina agamanya sendiri?

Selama ini, yang sering menghina Islam adalah orang kafir atau orang munafik. Tapi jika yang melakukannya justru seorang ustadz, tentu kita harus istighfar. KOK BISA YA?

Menurut DUGAAN saya, Gus Muwafiq ini hanya satu contoh saja. Saya cukup yakin, di luar sana masih banyak "oknum ustadz" yang kelakuannya seperti itu.

Saya akan ceritakan pengalaman ketika dulu saya di Cipinang. Saat itu ada peringatan Isra Mi'raj, dan pembicara yang diundang adalah seorang ustadz dari Depok. Tak perlu saya sebutkan namanya. Sebut saja A.

Ustadz A ini adalah tipe ustadz lucu. Maksudnya adalah ustadz yang gaya ceramahnya seperti stand up comedy. Bahkan menurut saya, itu sebenarnya murni stand up comedy, tapi bertema agama. Sebab kalau itu disebut ceramah agama, sangat jauh dari harapan, karena 99,9 persen isi ceramahnya hanya lelucon demi lelucon.

Awalnya saya masih tertawa menikmati lelucon-lelucon ustadz A ini. Namun ketika dia menceritakan kisah lucu seorang marbot mushala, saya mulai marah lalu segera meninggalkan masjid.

Jadi, awalnya dia sebenarnya memuji si marbot. Dia berkata bahwa marbot itu sangat berjasa, pahalanya besar karena dia mengurus mushala. Ketika waktu Shubuh tiba, dia pun adzan.

Ustadz A pun memperagakan gaya adzan si marbot, yang suaranya jelek serta sumbang. Lalu dia tertawa. Hadirin pun tertawa. Mereka semua menertawakan si marbot.

Si A ini seperti sengaja mengumandangkan adzan dengan cara yang sangat lucu, agar hadirin tertawa. Dan para hadirin yang umumnya adalah para napi yang tak terlalu paham agama pun, merasa senang dan puas terhadap lelucon itu.

Namun saya justru langsung emosi saat mendengar lelucon itu. Saya merasa bahwa si ustadz ini telah menghina marbot!

Bahkan dia juga telah menghina suara adzan!

Padahal, sejelek apapun suara marbot, seharusnya dia dihargai, karena dia sudah mau repot-repot mengabdikan hidupnya untuk mengurus mushalla, padahal penghasilannya pun tidak seberapa.

Dan ternyata belum cukup sampai di situ. Si A ini masih terus berkelakar, "Sekarang sedang viral berita tentang Sukmawati yang berkata bahwa nyanyian kidung lebih indah dari adzan. Hehehe... Tentu adzan lebih indah, jika yang mengumandangkannya bersuara bagus."

JIKA YANG MENGUMANDANGKANNYA BERSUARA BAGUS!!

Jadi, menurut dia, adzan itu hanya indah jika yang mengumandangkannya bersuara bagus. Jika si muadzin bersuara jelek, berarti suara adzan tidak indah?????

Menurut saya, ini adalah penghinaan berikutnya yang dilakukan oleh ustad A.

* * *

Saya pun berpikir bahwa ustadz A ini hanya salah satu contoh saja. Saya yakin, di luar sana sebenarnya masih banyak ustadz yang hobi menghina agamanya sendiri. Terutama ustadz bertipe stand up comedy, yang isi ceramahnya hampir 100% berisi lelucon.

Menurut saya, mereka ini sebenarnya bukan ustadz. Karena tema agama pada ceramah mereka pun sangat dangkal. Mereka lebih mengutamakan komedi agar hadirin senang dan tertawa-tawa.

Dan hanya demi lelucon yang membuat orang tertawa-tawa, si ustadz pun tanpa sadar sering lompat pagar, bercanda di luar batas, sehingga ucapan-ucapan mereka sangat bernuansa penghinaan terhadap agama sendiri.

Sayangnya, para hadirin tidak menganggap itu sebagai penghinaan. Mereka enjoy saja, bersikap biasa-biasa saja. Sebab yang ada di dalam pikiran mereka adalah, "Beliau ini kan ustadz. Tak mungkin ustadz menghina agamanya sendiri."

Padahal faktanya, banyak ustadz yang seperti itu.

Saya merasa bersyukur, karena kasus Muwafiq ini membuat saya punya alasan untuk menceritakan pengalaman dengan ustadz A saat dulu di Rutan Cipinang. Sebenarnya sejak lama saya ingin menceritakannya. Namun sepertinya sekarang adalah saat yang tepat.

Semoga, perhatian kita tidak hanya tertuju pada Muwafiq. Coba kita amati, di luar sana masih banyak oknum ustadz yang seperti itu.

Jakarta, 6 Desember 2019