Kepedulian Özil pada Muslim Uighur di Twitter dibully warganet China: 把他掛出來好嘞 (Gantung dia!)


[PORTAL-ISLAM.ID]  Selain menjadi pesepak bola kelas dunia, winger Arsenal, Mesut Özil  dikenal juga dengan sikap dan kepeduliannya terhadap isu-isu kemanusiaan khususnya terkait persaudaraan sesama Muslim. Pada Jumat (13/12/2019), Özil mengunggah pernyataan sikap dan doanya untuk Muslim Uighur yang tertindas di Xinjiang, China.

Özil menyebut etnis minoritas Muslim di Xinjiang sebagai saudaranya. "Umat yang terluka berdarah, komunitas pejuang yang menolak penindasan, dan orang-orang beriman yang berjuang sendiri melawan mereka yang memaksa keluar dari Islam." Begitu Özil berempati terhadap Muslim Uighur.

Pada saat negara dan media Barat menjadikan isu penindasan Muslim di Uighur sebagai bahasan utama, Özil mengaku kecewa dengan negara dan bangsa Muslim yang ada di dunia ini. Özil mempertanyakan sikap diam elite dan media di negara Muslim terhadap apa yang terjadi di Turkistan Timur, sebutan Oezil untuk Xinjiang.

Akhirnya, Özil pun hanya bisa berdoa kepada Allah SWT. Ia meminta pertolongan dari Allah atas apa yang dialami saudara-saudari Muslim di Turkistan Timur (Xinjiang).

Twit kepedulian Özil ini banyak yang mendukung. Hingga saat ini, Ahad (15/12) twitnya sudah dibagikan 32 ribu lebih, dan disukai mencapai 100 ribu lebih.

Namun, twit Özil ini dikecam dan dibully oleh warganet China. Bahkan mereka menyerukan untuk menggantung Özil.

"把他掛出來好嘞 (Gantung dia)," kicau akun @23r0n3 dengan ava logo palu arit.

Berikut terjemahan pernyataan sikap Özil, seperti dikutip dari akun @MesutOzil1088:

Oh Turkistan Timur!

Umat yang terluka berdarah. Komunitas pejuang yang menolak penindasan. Orang-orang beriman yang berjuang sendiri melawan mereka yang memaksa keluar dari Islam. Al Quran dibakar, masjid-masjid ditutup, sekolah madrasah dilarang, para sarjana Muslim dibunuh satu per satu.

Saudara-saudaraku dipaksa masuk ke dalam kamp. Pria China dimasukkan ke dalam keluarga (Uighur). Saudari-saudariku dipaksa menikah dengan pria-pria China.

Namun, umat Muhammad hanya diam, tidak menyatakan keberatan apa pun. Umat muslim lain tidak mendukung. Tidakkah mereka tahu bahwa membiarkan penindasan adalah bentuk dari penindasan itu sendiri? Betapa indahnya kalimat Hadrah Ali: "Jika kamu tidak bisa mencegah penindasan, maka publikasikanlah penindasan itu!"

Saat peristiwa ini (penindasan ethis Uighur) menjadi agenda bahkan di media Barat selama beberapa pekan dan bulan, di mana suara negara-negara Muslim dan media mereka?

Tidakkah mereka tahu bahwa bersikap netral saat penindasan terjadi adalah penghinaan? Tidakkah mereka tahu bahwa saudara-saudari kita (Uighur) akan mengingat kesedihan ini beberapa tahun kemudian sebagai bukan dari akibat tirani, tetapi akibat sikap diam kita, saudara Muslim mereka?

Ya Allah, tolonglah saudara-saudariku di Turkistan Timur.

Tak diragukan, Allah adalah sebaik-baiknya perencana.

-Mesut Özil-