"Instalasi Bambu" Dihargai di Negara Lain, Dihujat di Negeri Sendiri... Hanya Karena Benci Anies


[PORTAL-ISLAM.ID] Selain di Bundaran HI, Instalasi Bambu karya seniman Joko Avianto pernah dipajang di Jerman dan Jepang, dihargai bangsa lain tapi dihujat di negara sendiri hanya karena benci Anies Baswedan 🤦‍♀🙄

Karya seni kelas dunia, dihargai 550 juta, dibilang kemahalan? Buzzer buzzer. Gimana Indonesia mau maju?

Baca Tulisan Jajang Agus Sonjaya Direktur Bambubos:

Sayangnya mata hati dan pikiran publik sudah tertutup oleh kebencian pada Anies. Banyak yang gagal membaca dan menemukan makna di balik karya ini. Tak bisa dipungkiri, karya ini akan membuka banyak tafsir, misal tentang lilitan silang siur yang berarti keruwetan, kerumitan.

Untuk makna karya ini, entah sesuai dengan maksud sang seniman atau tidak, Anies sudah berusaha "memandu" dengan memberikan narasi getah getih. Meski begitu, cemo'oh tak berhenti, setelah KOMPAS meberitakan tentang biaya 550 juta, mereka mengkaitkan dengan pemborosan dan mark up.

Menurut saya wajar ratusan juta habis untuk karya seni seperti ini. Terlalu murah, malah! Bambu memang harus "mahal" agar dihargai. Kalo murah, bambu akan selamanya diinjak-injak.

Saya sudah mengerjakan ratusan proyek bambu, termasuk di antaranya seni instalasi. Untuk instalasi seni yang besar macam begini tidak bisa dihitung hanya dengan melihat harga bahan. Butuh perhitungan struktur, riset, ujicoba, dan lain-lain (lebih lanjut bisa baca comment Syaifudin Ihsar di bawah). Tugu jam yang saya buat di Malaysia, misalnya, harganya sekitar 150 juta, padahal hanya menggunakan bambu petung 8 batang dan apus 6 batang. Harga ini di luar transport lho ya.

Bambu yang dahulu sangat dihargai dan banyak manfaat, kini mewakili pedesaan, mewakili kemiskinan-- citra bahan orang miskin. Ia nongkrong di inti ibukota. Jelas tidak cocok. Jelas timpang. Untuk pembacaan ini, para pembenci Anies "benar". Memang itu pesan yang hendak disampaikan Joko Avianto: KONTRAS, TAPI TAK BISU.

Instalasi seni berbahan 1.600 batang bambu ini dibentuk sangat dinamis. Saya menangkap pesan "perlawanan". Ribuan bambu yang diikat kuat itu berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit. Bahan untuk membangun gedung-gedung itu diambil dengan meruntuhkan bukit-bukit kapur dan melubangi bumi. Tak hanya itu, ketika beroperasi ia memboroskan energi yang luar biasa besar, antara lain listrik dan air--tabungan kita bersama....

Barokallohu fiik Goodbener Indonesia.

*Sumber: fb
Loading...