GARUDA DALAM PUSARAN SINKRETISME AGAMA & BUDAYA


GARUDA DALAM PUSARAN SINKRETISME AGAMA & BUDAYA

Oleh: Hizbullah Ivan*

Dear Teman..

Ada duka yang bercampur nestapa ketika melihat wajah Indonesia. Negeri yang sejak lama dirawat oleh para ulama, yang tanahnya disirami oleh darah syuhada, kini tercabik dengan demikian parahnya.

Tapi apa daya, karena faktanya, umat Islam Indonesia terlanjur diperdaya dalam waktu yang sangat lama.

Anak-anaknya di cemari oleh tontonan-tontonan durjana, wanitanya di imingi-imingi syubhat harta benda, kaum lelakinya dicekoki riba, tahta dan wanita, sehingga hidupnya hanya disibukkan dengan urusan-urusan dunia. Jasadnya merdeka, namun derajat jiwanya tak lebih dari seorang Hamba Sahaya.

Sungguh beruntung orang-orang terdahulu, kaum hawariyyun yang hidup di era pasca diutusnya Isa. Ya.. kerusakan akhlak sedang berada dalam puncaknya, namun Allah Ta'ala telah mengisyaratkan akan datangnya sang Pencerah, Rasul Mulia, Muhammad Shalallahu'alayhi wa sallam ke tengah-tengah mereka.

Sedangkan kita... ??

Kepada siapa akan berharap datangnya Sang Mujaddid, pembaharu dalam urusan Agama, mengingat tidak ada lagi Nabi yang diutus setelah diutusnya Nabi Akhir Zaman, Muhammad Shalallahu'alayhi Wa Sallam.

Umat Islam semakin limbung, hilang pegangan, hilang tokoh panutan. Semua harakah dakwah terjebak dalam sentimen firqah & mazhab, terpecah oleh fitnah ashabiyah meskipun hanya berbeda dalam perkara furu'iyyah.

Alih-alih berpikir politis. Pengajian-pengajian malah sibuk oleh urusan tahdzir dan sindir, offensive menyerang, tapi defensif saat diingatkan. Maka jangan heran, jika oleh Anjing masuk masjid saja, diantara kita sulit untuk bersepakat dan serempak berkata "Tidak.. !!".

Maka disitulah celahnya. Kelemahan kita begitu lebar menganga. Wajar jika endemik wabah sekularisme menjadi begitu akut meracuni otak saudara-saudara kita.

Dengan berjubah atas nama Islam Nusantara, iblis durjana sukses menzinahi syariat agama yang kemudian melahirkan hasil persetubuhan Haram sinkretisme Agama - Budaya.

Apa lacur, narasi dikotomi Islam Politik sudah kadung mencuci pikiran Muslim Indonesia. Maka rasakanlah akibatnya, proses politik yang kau anggap tak memberi pengaruh apapun dalam kehidupan, faktanya telah menorehkan semangat Ordonansi Keagamaan.

Ya.. pendegradasian syariat melalui mazhab kebijakan politik berjubah Nusantara yang anti kearab-araban.

Baru-baru ini kau mungkin melihatnya, Ritual pemberangkatan rukun Islam ke-5, yang dipimpin oleh seseorang yang bernama I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra.

Semacam ritual Non-Arab yang baru kali ini di praktekkan menjelang keberangkatan Haji Muslim Indonesia. Semacam sinkretisme budaya ala ala Burung Garuda.

End.

*Sumber: fb penulis

Loading...