ANIES DIRANGKUL, ANIES DIPUKUL


ANIES DIRANGKUL, ANIES DIPUKUL

Oleh: Iramawati Oemar

Entah angin apa yang membuat Surya Paloh tetiba mengundang Anies Baswedan makan siang. Sekedar ingin mengalihkan fokus perhatian media dari “another lunch” di Tengku Umar? Atau ingin memecah konsentrasi mitra koalisinya sendiri yang sedang panas berebut jatah jumlah kursi kabinet? Hanya Surya Paloh dan Tuhan yang tahu apa motif sebenarnya.

Yang jelas, sejak awal SP dan partainya sama sekali tidak dekat apalagi mendukung Anies. Jaringan media miliknya — Metro TV dan Media Indonesia — pun juga selama ini tak bersahabat dengan Anies. Jadi, layak jika publik mengernyitkan kening melihat Paloh tetiba berakrab-ria dengan Anies.
Apalagi headline yang dimunculkan media kemudian seakan Nasdem akan dukung Anies jadi capres 2024.

Itulah framing media, sekali lagi FRAMING, alias pembingkaian atas suatu peristiwa, padahal bisa jadi tak seperti itu yang sebenarnya terjadi.

Dan memang, jika menyimak “adegan” lengkap saat Paloh bersama Anies menjumpai awak media, sebenarnya sama sekali TIDAK ADA pernyataan SP yang akan mencapreskan Anies di 2024.

Kejadiannya kurang lebih seperti ini: SP ditanya apakah dia mendukung Anies. Tentu dalam konteksnya saat ini, yaitu sebagai Gubernur DKI yang sudah sah dilantik 21 bulan yang lalu. Sebagai tuan rumah yang mengundang Anies, tidak mungkin bukan, jika SP menjawab “oh tidak, saya tak mendukung Anies!”. Apalagi realitas politiknya Anies saat ini adalah Gubernur DKI yang sah, tak ada alasan untuk tidak mendukung.

Lalu, wartawan pun melontarkan pertanyaan pancingan. Bukan wartawan namanya kalau tak pandai mengajukan pertanyaan “nakal”. SP ditanya bagaimana dengan 2024 nanti, apakah akan dukung Anies. Dan jawaban SP sebenarnya normatif saja. Dia katakan bahwa Anies adalah sosok yang potensial untuk menjadi capres di 2024. Apakah nanti akan mencalonkan diri, itu terserah Anies. Yang baik akan didukung. Ini sebenarnya pernyataan mengambang, sama sekali belum menjadi konfirmasi apakah SP dan partainya akan mendukung pencapresan Anies pada 2024 nanti. Tapi itulah media, garing kalau headlinenya tidak dibikin heboh!

Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Dirugikan?

Nasi sudah jadi bubur, media sudah terlanjur menggoreng, apalagi masyarakat Indonesia pada umumnya minim literasi, jadi cukup “diumpanin” tangkapan layar headline berita, langsung ditelan mentah-mentah. Dapat kiriman link berita, hanya dibaca judulnya saja, yang biasanya sama dengan judul link, sudah langsung dipahami bahwa judul itulah kejadian sebenarnya.

Nah, kalau nasi sudah jadi bubur lalu digoreng begini, siapa yang sesungguh diuntungkan dan siapa yang dirugikan?

Yang DIRUGIKAN jelas Anies!
Lho kok?! Bukankah untung kalau didukung, minimal sudah dapat tiket dari parpol yang perolehannya 9%?!

Tidak!!
Anies sama sekali belum mengantongi dukungan apapun dari SP dan Nasdem. Pilpres 2019 baru saja usai digelar bahkan presiden yang dinyatakan terpilih pun belum dilantik. Membicarakan Pilpres 2024 masih terlalu jauh, dalam 5 tahun ada banyak hal yang bisa terjadi. Sebagai politisi senior yang sudah lama malang melintang di ranah politik, SP tahu betul itu!

Maka, abaikan framing media seolah-olah SP mendukung Anies jadi capres 2024.

Bahkan untuk pernyataan dukungan kepada Anies sebagai Gubernur DKI saat ini pun masih perlu dipertanyakan dan diuji. Jika mulai pertemuan kemarin media miliknya tidak lagi nyinyir terhadap Anies, bahkan mau secara obyektif memberitakan keberhasilan Anies membangun Jakarta, barulah kita percaya SP benar dukung Anies.

Kalau Bestaru Barus, dkk di DPRD DKI sikapnya terhadap Anies berubah jadi kooperatif, baru kita bisa percaya Nasdem mendukung kepemimpinan Anies di DKI.

Nah, kembali ke soal 2024, akibat framing pasca pertemuan dan makan siang dengan SP, Anies sebenarnya dirugikan. Dia sedang “di-Ridwan Kamil-kan”. Ingat, dulu sosok RK jadi idola, walikota muda, dianggap berprestasi, keren, gaul, dan tidak terlihat berseberangan dengan ummat Islam. Bahkan di tengah panasnya gejolak antipati terhadap Ahok akibat kasus pelecehan terhadap surat Al Maidah ayat 51, RK masih jadi sosok idola nettizen.

Sampai tiba-tiba, tak ada angin, tak ada badai, pada Maret 2017 RK dideklarasikan oleh Nasdem untuk diusung jadi Cagub Jabar di Pilkada 2018.

Padahal saat itu suhu politik nasional sedang panas-panasnya karena Pilgub DKI menyisakan 2 pasangan calon yang akan berlaga di putaran kedua.

Mayoritas ummat Islam yang sudah antipati terhadap Ahok dan parpol-parpol pengusungnya, seketika menjadi “illfeel” pada sosok RK. Kok mau-maunya diusung partai penista agama?! Begitu pertanyaan publik, yang tak lagi butuh konfirmasi dari RK, langsung saja dijawab sendiri “hempaskan!”, begitulah reaksi publik.

Memang RK pada akhirnya masih selamat karena berhasil memenangi Pilkada Jabar. Namun kemenangannya jauh dari settingan sejumlah lembaga survey. Kemenangannya tipis saja, tidak mutlak, sebab dukungan dari sebagian ummat Islam sudah dicabut.

Nah, begitu pula yang akan terjadi pada Anies. Saat ini sedang gencar-gencarnya Anies dibidik untuk dicari-cari kesalahannya. Para buzzer dan ahokers mulai aktif memainkan issu serangan masif di sosial media. Sementara media mainstream pun tak bersahabat dalam pemberitaan terkait Anies dan kemajuan DKI di tangannya.

Dalam kondisi diserang beramai-ramai, dikeroyok dari segala sisi, maka “pembela” Anies adalah nettizen yang pada Pilgub DKI 2017 lalu tidak pilih Ahok dan pada Pilpres 2019 kemarin tidak pilih Jokowi.

Simpelnya : mereka sebagian besar adalah ummat Islam yang punya idealisme.

Merekalah yang berperan aktif membentengi Anies dari berbagai fitnah dan pemutarbalikan fakta oleh musuh-musuh Anies.

Masalahnya, jika publik sampai percaya bahwa Anies sekarang didukung Nasdem, bisa jadi dia akan ditinggalkan pendukungnya.

Syukurlah para pendukung Anies umumnya rasional dan kritis, sehingga tak mudah terjebak dengan gorengan media. Mereka tetap tak percaya SP dan Nasdem bakal dukung Anies. Mereka seakan merangkul, padahal sebenarnya justru MEMUKUL Anies.

Ya, memukul Anies dengan ‘soft’, memberikan kesan dia didukung Nasdem, sehingga dampaknya Anies akan ditinggalkan.

Jika dipahami dalam konteks ini, maka undangan SP kemarin kepada Anies bisa dipahami sebagai upaya MENJAUHKAN ANIES DARI BASIS PARA PENDUKUNGNYA!

Lalu apakah Surya Paloh mendapat keuntungan dari pertemuan kemarin?

Kalau untuk jangka pendek bisa saja iya. Minimal dirinya jadi pusat perhatian media ditengah awak media lainnya sedang sibuk memantau pertemuan di Tengku Umar. Dengan mengajak Anies makan siang, Paloh ingin menunjukkan dirinya masih layak disebut “king maker”. Padahal sebenarnya SP tidak punya sejarah mengorbitkan tokoh atau figur dadi nol. Dia dukung Jokowi jadi capres ketika popularitas Jokowi memang sudah melambung. Dia telikung RK dari tangan Gerindra dan PKS di saat RK sedang populer. Tapi dengan Anies, “circumstances”nya beda. Diakui atau tidak, ada sentimen agama dibalik naiknya Anies – Sandi di DKI, dan sentimen agama itu pula yang dipakai oleh para haters Anies sekarang untuk menyerang Anies membabi buta. Bahkan sekarang para pembenci Anies menambahkan bumbu “anti etnis” tertentu. Tak bisa dipungkiri Anies memang ada garis keturunan Arab.

Apalagi narasi nasionalisme Anies bukan “Saya Pancasila, Saya NKRI”. Alih-alih meneriakkan dan mengklaim paling identik dengan Pancasila, Anies justru membawa narasi “pribumi”. Ini yang lebih cetar membahana dan tidak disukai oleh mereka yang mengaku paling pancasila.

Nah, dalam situasi dan kondisi demikian, upaya Surya Paloh agar terlihat benar-benar mendukung Anies, menjadi tidak mudah!

Di kalangan pendukung Anies yang “ori”, pernyataan dukungan SP dianggap angin lalu. Bahkan dianggap sedang berusaha cari panggung. Sedangkan dari kalangan kolega sekoalisinya, pernyataan SP justru ditanggapi negatif.

Jadi sebenarnya SP juga tidak terlalu diuntungkan dengan pertemuan kemarin.

Yang jelas, SP sedang berupaya men-DOWN GRADE Anies, MENJAUHKAN Anies dari para pendukungnya yang “ori” dengan mencoba jadi pendukung kaleng-kaleng.

Ummat Islam jangan terpancing, tetap bentengi Anies, minimal agar dia bisa tetap bekerja dengan baik dan memenuhi semua komitmennya terhadap warga DKI, sampai usai masa jabatannya. Jangan terburu nafsu bicara soal 2024, sebab euphoria “Anies for President 2024” itulah yang justru memancing musuh-musuhnya makin semangat menghabisi Anies.

Untuk Pak Anies sendiri, semoga tidak meniru langkah blunder Ridwan Kamil, kalau tak ingin “bunuh diri” politik terlalu dini. Dan saya yakin Pak Anies beda kelas dan beda kualitas dengan RK. Pak Anies insyaa Allah tidak akan masuk perangkap SP dan Nasdem, sebab “habitat”nya beda, circumstance-nya beda.

Keep focus saja menata Jakarta, memajukan kotanya dan membahagiakan warganya. Kalau banyak keberhasilan yang anda tabung, 2024 anda yang dilamar parpol, bukan anda yang melamar kepada parpol!

(Sumber: fb)

Baca juga :