Kau Hanyalah Bangkai yang Dimuliakan Manusia by Asyari Usman


[PORTAL-ISLAM.ID]   Kau sekarang terbujur sendirian di liang lahat yang gelap gulita. Sebentar lagi, jasadmu yang dulu ganteng dan tegap atau cantik dan montok, akan dimakan ulat. Kalau bukan karena statusmu sebagai manusia, kau akan disebut bangkai. Kau adalah bangkai yang dimuliakan oleh kelompok manusiamu.

Setelah menjadi bangkai, orang-orang yang kau sayangi tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tak sanggup menolongmu. Kau tidak mulia lagi. Hartamu pun tak sudi lagi menemanimu. Hartamu kini memutuskan hubungan denganmu. Ia direbut oleh orang lain –oleh keluargamu yang kau sayangi.

Dalam keterbujuranmu di liang lahat, cobalah kau pikirkan sejenak meskipun kau tak bisa berpikir lagi. Pikirkan, apa kira-kira arti kegantengan, kecantikan, kekayaan, kemuliaan dunia, dan lain-lainnya itu?

Seandainya bangkaimu bisa berbicara, pasti kau akan mengatakan, “Semua itu pura-pura belaka. Semua itu semu.”

Kau benar. Semua itu pura-pura. Semuanya semu. Masih ingatkah kau taushiyah Pak Ustad tempohari bahwa, “Wama al-hayatid-dunia illa mataa’ul ghuruur?” Masih ingat kau artinya, bukan? Yaitu, “Dan, kehidupan dunia itu tiada lain kecuali kesenangan yang semu.”

Itulah peringatan Rabb-mu, Allah al-Ghaniyy al-Haliim al-Mutakabbir. Peringatan agar kau tidak terfanakan. Agar kau tidak hanyut. Jadi, Tuhan-mu sudah memberikan peringatan yang lembut tapi lugas dan tegas bahwa kehidupan di dunia ini serba semu, serba sementara, serba memperdaya, serba pura-pura.

Tapi, sebelum mereka masukkan kau ke liang lahat, manusia-manusia itu masih saja ingin mempersembahkan kesemuan hidup ini kepadamu. Mereka mungkin berpendapat bahwa menguburkanmu dengan upacara kebesaran akan meringankan perjalananmu. Padahal, kau sudah bisa melihat dengan nyata bahwa pemuliaan seperti itu hanya akan memberatkan arwahmu.

Mereka tak tahu bahwa ketika kau selesai dimandikan dan akan dibawa ke kuburanmu yang rapi dan bagus itu, kau meronta-ronta agar jangan dimasukkan ke situ. Kau sudah paham betapa beratnya terbujur sendiri di kuburan. Betapa beratnya mempertanggungjawabkan kemuliaan yang disematkan oleh bangkai-bangkai yang masih bernyawa itu. Kemuliaan yang dipertontonkan oleh bangkai hidup seorang inspektur upacara.

Mereka memaksamu masuk ke dalam kubur. Kau tak punya pilihan. Rontaan dan rintihan mu tidak mereka hiraukan. Karena mereka memang tak mengerti betapa beratnya perasaan kau untuk masuk ke dalam kubur.

“Ok-lah. Silakan paksa aku masuk ke liang lahat,” begitu jeritmu. Namun, manusia-manusia yang tak paham itu tak bisa mendengarkan kata-katamu itu.

Sebelum kau dimasukkannya ke liang kubur, mungkin kau ingat protap yang berlaku di sana. Kau akan ditanyai oleh malaikat Munkar dan Nakir tentang identitasmu.

Man Rabbuka? Siapa Tuhan-mu? Seterunsya, siapa nabimu? Apa agamamu? Siapa imammu? Ke mana kiblatmu?

Kedua malaikat itu tidak menanyakan hartamu. Karena memang mereka itu tidak terkesan dengan benda-benda keduniaan. Mereka bukan pejabat publik yang korup atau pun juruperiksa yang rakus.

Mereka tidak meminta riwayat karirmu di dunia. Mereka tidak bertanya tentang status sosialmu yang hebat. Juga tidak menanyakan siapa suamimu atau istrimu. Mereka tak peduli apakah suamimu atau istrimu seorang mantan menteri, presiden, atau mantan prsiden. Ketum parpol atau anggota DPR. Petani atau tukang ojek. Semua predikat itu tak lagi ampuh di depan Munkar dan Nakir.

Interogasi tentang identitasmu itu, kata para ahli tafsir dan hadits, akan berlangsung mulus kalau jejak digitalmu di dunia tidak dipenuhi oleh catatan yang aneh-aneh. Dan, harap diingat, semua amal baikmu dan amal burukmu dicatat secara detail, besar atau kecil, oleh dua malaikat Roqib dan Atid.

Jika catatan Roqib surplus disbandingkan catatan Atid, insyaAllah proses interogasi identitasmu berjalan lancar. Dan kepada kau akan ditunjukkan tempat kembalimu yang menyenangkan di Hari Kiamat kelak. Kau beruntung. Bersama semua arwah lainnya yang beruntung, kau akan menunggu di alam barzakh sebelum masuk ke tempat kembalimu yang baik itu.

Tetapi, kalau catatan Atid yang surplus, maka proses interogasimu oleh Munkar Nakir akan berjalan dalam suasana seram. Tidak ada keramahan. Yang ada kebengisan. Na’udzubillah. Pagi dan petang kau diteror di alam barzakh. Kepadamu akan ditunjukkan tempat kembali yang menakutkan.

Karena itu, sebelum kita semua menjadi bangkai, marilah memperbaiki hidup yang berorientasi liang kubur. Berhati-hatilah dengan kemuliaan dunia. Kemuliaan yang memperdayakan dan membahayakan.

Kemuliaan harta dan jabatan yang diperoleh dengan bersih saja pun bisa mencelakan kau di liang kubur dan di Hari Perhitungan. Apalagi kalau kau dapat dengan cara yang curang. Cara yang korup. Cara yang penuh tipuan.

Hati-hatilah kau yang selama ini menjalankan kekuasaan dengan menipu rakyat. Para pemegang kekuasaan di Indonesia ini bisa menumpuk puluhan atau ratusan triliun uang haram. Dengan uang itu, mereka ingin membangun dinasti kekuasaan. Dengan licik dan berpura-pura, mereka itu manampilkan diri seolah bersih dari korupsi.

Orang ini merasa dia akan hidup tanpa batas. Tapi, sekarang dia mungkin sudah mulai sadar bahwa penipuan-penipuan dan politik busuknya akan segera mengejar dirinya. Kemunafikannya akan dipertontonkan oleh Allah SWT.

Tetapi, mungkin dia sadar? Wallahu a’lam. Yang jelas, dia masih senang dengan kemuliaan duniawi. Dia senang dengan penghormatan semu, penghormatan tipu daya. Dia senang, bangga, dan bahagia melihat upacara kebesaran untuk mengatarkan bangkai manusia masuk ke liang lahat.

Hari ini, dia bantu dan dia setujui perampokan besar dan penipuan yang brutal yang berkedok demokrasi. Perampokan dan penipuan yang sangat keji itu berlanjut dengan pembunuhan dan intimidasi. Mereka gunakan kekuasaan yang ada di tangan mereka untuk memadamkan protes dan perlawanan.

Tak lama lagi, dia dan mereka akan merasakan ‘azab dunia dari Yang Maha Kuasa. Dan setelah itu, dia dan mereka akan dijadikan-Nya bangkai-bangkai yang akan dimasukkan ke liang lahat sebagai makanan ulat kuburan.

Ingatlah, kau hanyalah bangkai yang dimuliakan manusia!

Penulis: Asyari Usman

Loading...