RUNTUHNYA AKUN KAMI, MATINYA DEMOKRASI


RUNTUHNYA AKUN KAMI, MATINYA DEMOKRASI

(By Iramawati Oemar)

Tepat pada hari Pemilu di 9 April 2009, saya membuat akun facebook. Saya ingat betul saat itu, sambil nonton TV prediksi perolehan suara, saya buka laptop dan meng-create akun FB. Memang sudah tergolong telat baru punya akun FB di tahun 2009. Sebenarnya saat itu saya tidak ingin punya akun medsos, sekuat tenaga mencoba mengisolir diri dari medsos. Tapi akhirnya tergoda juga ketika adik saya cerita, banyak teman-teman SMP dan SMA saya yang ditemukan akunnya di FB. Kerinduan pada teman lama yang sudah terpisah 20 tahun membuat saya akhirnya menyerah, joint dengan FB.

Awal mula FB saya hanya berisi aktivitas saya sehari-hari, foto narsis, kangen-kangenan dengan teman lama, nothing special. Saya pun selektif memilih teman, kalau bukan benar-benar teman, saudara, kerabat, saya enggan meng-approve permintaan pertemanan. Bagi saya teman sedikit tak apalah, asalkan benar-benar kenal secara pribadi. Sampai akhirnya di bulan Oktober ada pertikaian “cicak VS buaya”, antara kepolisian dengan KPK, jilid 1. Saat itu ada grup 1.000.000 facebookers mendukung KPK. Saya pun ikut bergabung dengan grup FB itu dan aktif berkomentar di forum diskusinya. Saat itu grup FB ada forum diskusinya. Karena cukup intens berkomentar, akhirnya banyak yang mengirim permintaan pertemanan. Sejak saat itu bertambah panjanglah friendlist saya dengan akun-akun yang hanya saya kenal di dunia maya.

Seiring dengan itu, saya mulai menyalurkan minat dan bakat menulis saya di “note” FB (dulu ada fitur itu). Lama-kelamaan note saya banyak disukai orang, banyak yang minta di-tag dan akhirnya makin banyak yang share, makin banyak pula pertemanan di akun FB saya. Akun FB pun tak lagi sebatas untuk narsis-narsisan, kangen-kangenan, tapi mulai jadi wadah saya mengekpresikan diri, melempar opini, melontarkan kritik sosial maupun kritik politik. Everything was fine…, sampai akhirnya media sosial menjadi sarana yang “kejam” untuk saling “bunuh” ketika tak sependapat. Pilpres 2014 lah awal mulanya, ketika saya rasakan bangsa ini terbelah dua dan residunya tak kunjung habis.

However, akun saya tak pernah bermasalah ketika selama 2009 – 2014 saya mengkritik SBY. Komentar pro dan kontra itu biasa saja, tidak sampai berujung pada bullying jahat, apalagi dilaporkan ke polisi dengan me-mention akun Kadiv Humas Polri dan segala macam. Tidak juga ada laporan berjamaah kepada otoritas FB Indonesia agar akun saya di take down atau minimal di suspend. Namun, semua itu saya alami sejak 2015. Bermedsos ria menjadi aktivitas yang ngeri-ngeri sedap. Apalagi seiring bertambah banyaknya teman medsos dan follower, akun saya seakan masuk ke ranah yang dibidik.

Tadi malam, selepas tengah malam, beberapa menit setelah masuk tanggal 9 Mei 2019, akun saya “tewas”. Sudah berkali-kali disuspend sejak 2017, bahkan pernah disuspend berkelanjutan selama hampir 3 bulan, akhirnya semalam akun saya “menghembuskan nafas terakhir”, berpulang untuk selamanya. Ada rasa ’nyesek’ yang teramat sangat. Why?! That’s my private account, that’s my property right! Rasanya saya ingin teriak sekeras-kerasnya pada Mark Zuckerberg yang telah membuat manajemen FB sedemikian rupa sehingga seseorang bisa di-take down akunnya tanpa diberi kesempatan dijelaskan apa sebabnya dan menjelaskan balik sebagai hak membela diri.

Jujur saja, saya tak tahu apa salahnya akun saya. Sore sepulang kantor, saya sempat menonton sejenak segmen wawancara live di Kabar Petang TV One dengan seorang “tokoh” yang sedang ngetop jadi buah bibir. Spontan saya bereaksi atas tayangan itu, saya menuliskan apa yang disampaikan tokoh tersebut soal akan dibentuknya satu tim yang tugasnya mengawasi, mendengarkan dan mengkaji pemikiran dan ucapan tokoh. Dia sebutkan 4 nama top yang katanya sudah siap akan jadi “satpam” atas ucapan tokoh. Saya pun menuliskan pula pendapat tokoh lain yang kontra atas wacana pemantauan ucapan tokoh. Bukankah ini cover both sides? Bukankah itu justru menjaga keseimbangan dengan memuat 2 opini yang berbeda. Di ujung opini saya tuliskan tanya : akankah opini spontan macam ini akan juga dipantau dan berakibat akun di take down? Semoga saja tidak, namun jika ternyata iya, saya cuma bisa berucap “innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun…”

Setelah memposting status itu saya bersiap untuk mandi karena 15 menit lagi adzan maghrib. Tapi saya keluar lagi dari kamar mandi dan mengubah setting privacy status saya dari “public” menjadi “friend only”. Entah kenapa, feeling saya tak enak, sepertinya opini sederhana itu justru akan membuat ada pihak yang kena sentil. Ternyata…, meski sudah disetting hanya teman yang bisa baca, akun saya TUMBANG juga hanya berselang sekitar 6,5 jam sejak status itu diunggah. Tanpa penjelasan apa postingan saya yang dianggap melanggar. Astaga…, rupanya menyinggung ucapan tokoh bisa berakibat fatal. Padahal, tokoh tersebut justru sedang mewacanakan untuk memantau ucapan tokoh lain. Artinya : dia sendiri tak suka ucapannya dibicarakan orang lain, lalu kenapa dia berniat menghukumi ucapan orang lain?!

Begini rasanya akun ditumbangkan. Menyusul akun Mbak Agi Betha, Mbak Nanik S Deyang yang sudah setahun lalu akunnya ditewaskan. Juga akun Bang Budi Setiawan dan akun Iwan Balau-nya. Ternyata, demokrasi di negara demokrasi itu tidak mudah, kawan. Saya kangen pada Wanda Hamidah. Pengen saya tepuk pundaknya : “Sist, kamu kok pinter banget meramal ya? Semua ramalanmu 5 tahun lalu ternyata terbukti! GAK BISA LAGI MENULIS dengan bebas sekarang ini”.

Selamat beristirahat akun Iramawati Oemar yang hari ini genap berusia 10 tahun lebih 1 bulan. Insyaa Allah keberadaanmu tidak sia-sia. Orang boleh membunuh akunku, tapi mereka tidak bisa membunuh otakku, pikiranku.

9 Mei 2019

Salam demokrasi,
Iramawati Oemar

Loading...