Jika Prabowo Jadi Presiden


Jika Prabowo Jadi Presiden


Prabowo berpidato dengan berapi-api. Berkali-kali ia mengatakan bahwa kekayaan Indonesia dijarah dan dibawa lari ke luar negeri. Ia marah. Lalu ia memukul-mukul podium yang ada di hadapannya.

Wacana kampanye yang dibawa Prabowo sebenarnya bukanlah hal baru. Sejak tahun 2009, saat ia jadi pasangannya Bu Mega, ia sudah bicara soal itu. Pun saat 2014 hingga kini di Pemilu 2019.

Lantas apa yang berbeda bila narasi yang dibawakan selalu sama?

Yang berbeda adalah para pendengarnya. Atau lebih spesifik; jumlahnya dan (mungkin) orangnya.

Tak dapat dipungkiri bahwa jumlah massa yang membludak setiap kali Prabs ataupun Sandi berkampanye adalah sebuah hal yang tak bisa kita saksikan pada pemilu 2014. Saya melihat euforia massa ini menyerupai massa 411, 212, dan reuni-reuni setelahnya.

Polanya sama. Sepanjang kampanye akbar selalu berlangsung tertib. Bersih dari sampah. Diisi dengan takbir, sholawatan, dan kadang sholat berjamaah. Lalu yang pasti; tidak pernah kekurangan konsumsi. Karena ada saja orang yang membagi-bagikan makanan gratis. Dan jumlahnya banyak. Tidak pernah ada cerita terjadi keributan gara-gara rebutan nasi bungkus.

Maka, jika Prabs menjadi presiden, saya sendiri berpendapat bahwa tugas terberat Prabs bukan semata membuat nilai dollar kembali menguat menjadi 10ribu rupiah.

Umat (terutama elemen 212 dan pendukungnya) terlihat dengan jelas mereka sudah muak dengan rezim ini. Dan mereka punya ekspetasi besar terhadap Prabs.

Mereka rela mengeluarkan duit dan tenaganya untuk Prabs. Sebagian besar dari massa itu, mau turun dan mendukung tanpa amplopan. Bukan sekadar mendukung sebenarnya, tapi sebagian besar sudah sampai pada tahap; berkorban.

Mungkin tahun 2019 inilah tahun terbaik Prabs selama ia mengikuti pemilu. Tanpa keluar banyak biaya, namun mendapat dukungan yang melimpah ruah.

Maka, jika Prabowo jadi presiden, yang ia hadapi adalah ‘harapan umat’ padanya. Ia akan berhadapan dengan dua kubu langsung; umat pendukung yang siap menjadi mata yang awas padanya, serta barisan pendukung Jokowi yang sakit hati.

Barisan pertama, walau mendukung, namun akan tetap mengawasi dengan pandangan tajam. Yang kedua akan selalu melihat negatif apapun yang dilakukan oleh Prabs.

Jika Prabowo jadi presiden; mampukah ia menjaga amanat dan kepercayaan umat?

Ia, semestinya, selalu menunjukkan keberpihakkanya pada kepentingan umat islam. Ia mesti sadar, bahwa ia tidak lagi berdiri di atas kakinya sendiri, tapi ia berdiri dengan ditopang oleh umat. Sekali ia mengkhianati amanat umat, maka dengan mudah pula umat kembali melengserkannya.

Setelah perjuangan berhasil, dan Prabs jadi presiden, maka tugas berat Prabs adalah meyakinkan umat untuk terus dan selalu mendukungnya. Prabs mesti menjawab ekspetasi umat dengan baik dan tepat.

Itu harus ia lakukan.

Bila gagal mengembannya, umat mesti menelan kecewa lagi, karena tak kunjung menemukan pemimpin dambaan yang bisa membawa nilai-nilai islam dan kebangsaan.

(Zaid Ahmad)

Sumber: https://arahbaru.co/jika-prabowo-jadi-presiden/