Di Balik ‘Diamnya’ Tito: Professor Tito dan Demokrasi


[PORTAL-ISLAM.ID]  Suatu hari pak Tito mengundang saya makan empek2 di rumah Bursah Zarnubi. Diskusi berjam2, dia lupa jadwal lain. Kami bertukar pikiran agar demokrasi berjalan baik. Bagaimana Peranan TNI tidak muncul dalam politik.

Prof. Tito menjamin demokrasi tetap jalan. Itu sebelumnya saya dengar tgl 12 Des 16, ketika pertemuan lain, saya yg minta ketemu dirumahnya (via Bursah), pake teknik cara spontan nanya “Kando ini doktor, lulusan Rajaratnam School Spore, percaya dak demokrasi?”, tanyaku. “Aku percaya”, katanya. “Lha, kenapa mau tangkap saya dituduh makar?”, tanyaku lagi. “Lha, kalian dak gulingkan Jokowi”, katanya. Setelah debat tak ada makar dan dia percaya, maka Tito perintahkan Hatta Taliwang, Sri Bintang Pamungkas, dll dibebaskan dari kasus makar.

Beberapa hari lalu prof Tito ajak salah satu tokoh oposisi (Dr. Achmad Yani, SH), bareng melayat alm. Nazaruddin Kiemas. Pelayat lain bingung. Besok harinya prof Tito terima Sofyan Jacob, ketua relawan Geram #02. Dua hari lalu prof Tito ke rumah seniornya Komjen (purn) Noegroho Jayusman, pendiri Geram, dan pendukung utama #02.

Saya yakin prof. Tito percaya demokrasi harus diselamatkan. hanya saja apakah Prof. Tito sanggup mengendalikan jajarannya yang terlanjur banyak mendukung #01.

Mudah2an kasus Kapolsek di Garut yg melawan perintah atasannya utk memenangkan Jokowi akan jadi bahan membersihkan polisi2 yang melawan UU Polri untuk netral.

Saya juga berdoa prof Tito sanggup menegakkan netralitas tersebut. Itulah legacy (warisan) Kapolri yang baik, seperti pak Hoegeng.

(Ini nomer HP langsung professor Tito Karnavian 08229991xxxx*, berilah ucapan salut bhw dia bersikap netral. dan laporkan polisi yang tidak netral)

*nomor HP disembunyikan

Sumber: Syahganda Nainggolan