Misi Prabowo-Sandiaga Memberantas Terorisme Sangat Sempurna


[PORTAL-ISLAM.ID] Isu terorisme di Indonesia masih kerap dianggap sebagai pemahaman agama yang keliru, fanatisme yang membabi buta, dan pemahaman agama yang dangkal. Anggapan itu melahirkan metode penanganan yang konvensional, dan bertumpu pada metode deradikalisasi.

Melihat terorisme sebagai paham keagamaan yang radikal kemudian melabelkan radikalisme, intoleran dan terorisme kepada Islam masih dominan di Indonesia. Ditambah dengan beberapa kejadian terror, seperti di Bali dan berbagai tempat, termasuk gerakan Mujahidin di Poso.

Saya tidak mengatakan itu salah, tetapi memang patut diakui bahwa pandangan yang demikian itu juga keliru. Memahami terorisme hanya pada sebatas radikalisme dan intoleransi yang melahirkan kebrutalan seperti bom dan ancaman kekerasan, kemudian dibungkus dengan argumentasi jihad untuk melegitimasinya adalah pandangan keliru.

Cara memecahkanyapun sangat kaku, yaitu deradikalisasi dengan memperbanyak seminar pancasila, dan memberikan pendidikan ideologi dan semacamnya. Hasil itu oleh BNPT diklaim berhasil dan mampu menyadarkan ratusan mantan teroris. Berbeda dengan klaim BNPT itu justru cap radikalisme dan intoleran malah semakin santer dipropagandakan.

Adalah gerakan persatuan Islam yang disebut sebagai Gerakan 212. Gerakan ini menjadi objek tuduhan bagi beberapa kalangan. Padahal Gerakan 212 itu menghimpun semua elemen umat Islam dan menjadi gerakan yang sangat besar dalam sejarah Indonesia. Tidak lain tuduhan itu tentu menyudutkan umat Islam. Bahwa yang berkumpul di Monas itu dianggap sebagai kaum radikal. Akan tetapi tidak ada satupun yang dirusakkan dan dihancurkan dalam kumpulan besar itu, rumput pun tidak diinjak.

Momen 212 yang dianggap sebagai gerakan radikal, sangat bertentangan dengan realitas. Justru adanya gerakan 212, radikalisme dan intoleran serta terorisme tenggelam. Tidak ada pergerakan terorisme yang berarti, tidak ada ancaman bom diberbagai sudut. Kalau memang 212 ini radikal dan intoleran, maka dua tahun lalu Balai Kota akan hancur dan kemungkinan yang lebih buruk lagi. Tapi itu tidak terjadi. Propaganda pembenci Islam sudah tidak jalan.

Melihat kenyataan itulah Prabowo Subianto menyampaikan satu pembelaan kepada Islam dalam Debat Kandidat Calon Presiden dan Wakil Presiden Kamis 17 Januari 2019. Prabowo dengan tegas mengatakan "janganlah kita mengkaitkan gerakan terorisme dengan Islam. Terorisme itu bisa jadi adalah gerakan yang melibatkan kepentingan Asing".

Sontak pernyataan Prabowo itu mencengangkan karena ia melihat terorisme dari kacamata yang lebih luas. Bahwa bukan masalah agama semata tetapi ada persoalan lain yaitu persoalan kepentingan tertentu dan masalah ketidakadilan dan politik.

Terorisme yang selama ini dilihat dengan satu arah atau menganalisa terorisme dengan kacamata kuda. Sedangkan Prabowo melihat kejahatan terorisme itu dari dari akumulasi beberapa faktor, bukan hanya faktor psikologis, tetapi berkaitan dengan ekonomi, politik, agama, sosiologis,dan masih banyak yang lain. Faktor yang paling mendasar adalah tujuan politik.

Kalau kita jujur, secara global, terorisme memiliki kaitan erat dengan pabrikasi Amerika terhadap gerakan Al Qaeda sebagaimana yang diakui oleh Hillary Clinton.

Dari kacamata yang luas inilah Prabowo mengambarkan misinya tentang terorisme. Tentu sebagai mantan wakil komandan Datasemen Penanggulangan Teror, Prabowo mengerti gerakan terorisme ini. Prabowo melihatnya sebagai sebuah ancaman yang diimpor dari luar.

Tentu dari pengetahuan itu ada sebuah jalan keluar menurutnya dengan melakukan penguatan ke dalam. Penguatan ke dalam berupa memperkuat kekuatan angkatan bersenjata seperti kepolisian dan TNI. Penguatan itu menjadi jalan pertama untuk mempertahankan kedaulatan, termasuk mewujudkan keamanan nasional, dari ancaman gerakan yang datang dari luar.

Sepertinya Prabowo ingin meyakinkan kepada semua pihak, bahwa untuk menyelesaikan masalah terror ini harus dimulai dari persoalan fundamentalnya. Bukan sebatas deradikalisasi, melainkan pencegahan dengan beberapa cara. Fundamen untuk menghindari terjadinya radikalisme dan terorisme, adalah memajukan pendidikan dan sistem pendidikan dengan mencukupkan fasilitas pendidikan yang berkemajuan, sehingga mulai dari pendidikan dasar sudah ditanamkan kepada anak-anak Indonesia tentang kasih sayang dan persaudaraan hingga sampai mereka lulus menjadi sarjana mereka tidak menjadi pengangguran yang hidup dalam himpitan ekonomi. Frustasi dan kebencian akan muncul kembali apabila lapangan pekerjaan tidak ada maka Prabowo dan Sandi berjanji untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk angkatan sarjana.

Selain pendidikan adalah kesejahteraan dan keadilan. Dalam pandangan Prabowo kesejahteraan ini menjadi sangat penting untuk menghindari keputusasaan hidup sehingga masyarakat mudah terhasut dan terpengaruh dengan berbagai ajakan dan seruan seperti radikalisme dan terorisme. Sementara keadilan sebagai alat untuk menghilangkan kecemburuan bagi sebagian orang, sehingga mereka tidak mencari keadilannya sendiri dengan jalan yang membahayakan.

Pemahaman Prabowo dan Sandi sangat Luas. Kedua orang ini membuka pandangan sempit tentang terorisme yang sering dianggap sebagai fenomena agama atau psikologis. Padahal ada beberapa sebab musabab yang menjadi cikal bakal terorisme. Diantaranya adalah masalah kemiskinan, tekanan modernisasi, ketidakadilan politik, kurangnya saluran komunikasi dana, tradisi kekejaman, kelemahan pemerintah, erosi kepercayaan kepada rezim, dan terjadinya perpecahan elit menjadi penyebab terorisme.

Untuk mematahkan bahwa Terorisme bukan karena persoalan agama semata dan bukan hanya persoalan domestik di Indonesia atau regional, tetapi merupakan persoalan global dan itu melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Israel dan Inggris maka dapat dikutip penyataan seorang mantan Staf National Security Agency (NSA), badan keamanan Amerika Edward Snowden bahwa Amerika Inggris dan Israel bertanggung jawab terkait ISIS. Ini membongkar rahasia dunia bahwa keyakinan mereka tentang ISIS adalah gerakan keagamaan mulai goyah. Hillary Clinton memperkuat pendapat Edward itu dengan membongkar kepentingan AS yang besar terhadap Asia Tengah, kawasan yang dua dekade lalu hendak dikuasai oleh Uni Soviet.

Namun AS tidak memperkirakan secara benar, ternyata mereka menciptakan monster-monster, yakni pasukan terlatih yang fanatismenya tinggi. Tidak hanya di Afghanistan, tetapi juga di Pakistan, Irak, dan Suriah. Bahkan pemuda-pemuda Indonesia pada periode 80-an dan 90-an dilatih untuk kepentingan itu.

Hillary secara vulgar mengatakan "Ketika Uni Soviet menyerbu Afghanistan, Kami (Amerika) memiliki ide cemerlang, Kami akan datang ke Pakistan dan menciptakan pasukan mujahidin dan melengkapi mereka dengan rudal penyengat dan segala sesuatu yang lain untuk mengejar soviet di Afganistan."

Pada tahun 1985 hingga 2000, terjadi sambungan antara gerakan Mujahidin di Afghanistan dan Asia Tenggara kemudian melancarkan perang terhadap pendudukan Soviet di Afghanistan. Militan Asia pada saat itu terhubung ikatannya dengan Afghanistan dan menjadi tulang punggung Jamaah Islamiyah (JI).

Gerakan terorisme ini sangat berkaitan erat dengan apa yang telah dipabrikasi oleh Amerika. Bahkan pada puncak untuk mencapai kepentingan Al Qaeda, Asia Tenggara difokuskan menjadi basis perencanaan operasional dan pergerakan dana dari panggung utama untuk operasi wilayah. Di situlah pemuda-pemuda Malaysia dan Indonesia direkrut.

Lebih jauh, invansi Amerika terhadap Irak memperburuk keadaan dan menambah besar gerakan terorisme ini. Irak menjadi negara yang tidak aman setelah dibombardir oleh Amerika tahun 2003 lalu. Irak semenjak invansi Amerika itu terus mengalami tragedi kemanusiaan. Tragedi kemanusiaan ini menambah frustasi dan menyumbang gerakan terorisme.

Sebagaimana diungkapkan dimuka pembahasan tadi bahwa ini berkaitan erat dengan kekejaman negara adidaya, ketidakadilan dan penindasan. Melihat latar belakang ini pula maka muncul konflik Suriah pada tahun 2011 yang mendorong siklus baru terorisme Asia Tenggara. Hingga berdirinya ISIS. Kenyataan ini menyadarkan kita bahwa aktivitas terorisme itu adalah aktivitas internasional yang melibatkan kekuatan internasional.

Tapi kenapa Islam menjadi objek tuduhan bagi semua orang apabila ada terorisme? Hal ini dapat dijawab oleh Sandiaga Salahuddin Uno yaitu bahwa harus ada kontra propaganda dan kontra narasi. Sebab Permainan media internasional terus memojokkan umat Islam dengan menumbuhkan citra bahwa Islam itu adalah perang dan darah. Pandangan Sandiaga Uno sangat klop dengan apa yang dipaparkan oleh Prabowo yang melihat muara dari gerakan terorisme ini.

Permainan media yang menimbulkan kecurigaan kepada umat Islam atau kita sebut sebagai Islamophobia sangat sistematis dan sudah berhasil membuat citra Islam menjadi rusak. Namun untuk melawan itu adalah dengan melakukan kontra propaganda media internasional itu dan melawan narasi yang memojokkan Islam.

Dari dua pandangan itu dapat disimpulkan bahwa Prabowo dan Sandi mengerti dan paham secara menyeluruh tentang apa itu terorisme, bagaimana melawannya dan bagaimana menghentikannya. Kesimpulannya adalah terorisme akan hilang apabila pendidikan merata dan berkualitas, keadilan merata bagi semua pihak, lapangan pekerjaan disediakan bagi angkatan muda dan angkatan sarjana. Intinya kesejahteraan adalah langkah untuk menghentikan radikalisme dan terorisme. Sementara untuk menangkan isu-isu dan tuduhan Islam, maka yang harus dilakukan adalah melawan propaganda dan narasi yang merusak dan memojokkan Islam yang tidak mendasar, maka dengan itu agama terjaga, negara adil dan makmur, aman dan sentosa. Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Penulis: Ahmad Yani