Mengenang Almarhum Ustadz KH Sunardi Syahuri, Seorang Mujahid Dakwah


Kabar duka datang dari Yogyakarta. Mujahid Dakwah dan Sesepuh Dakwah Ustadz KH Sunardi Syahuri meninggal dunia, Ahad (11/11/2018) petang di RS JIH, Yogyakarta.

Mengenang Almarhum Ustadz KH Sunardi Syahuri, Seorang Mujahid Dakwah

"Dek nanti rapat lho". Hampir setiap Selasa kalimat sederhana itu masuk ke hp saya.

Tapi hari itu rasanya beda, sangat menggetarkan jiwa. Subhanalloh Allohu Akbar...luar biasa semangat da'wahnya. Hati saya tergetar, tak sadar air mata saya jatuh.

Bayangkan, hari itu adalah hari pertama beliau pulang ke rumah, setelah beberapa minggu di Singapura untuk menjalani operasi besar memotong 70% lambung dan 30% levernya.

Dan beliau sudah mengundang saya untuk rapat. Jadi bagaimana saya bisa menolaknya? Sedang beliau yang masih sangat lemah saja siap berjuang. Masa saya yang masih sehat undur dari perjuangan.

Bahkan di waktu beliau sehat..ketika pk 22.00 beliau telp karena saya belum hadir rapat, sayapun tidak punya hujjah untuk.menolak. "Mujahid kok tidur sore," ujarnya ketika suatu malam saya ketiduran.

Pukul 20.00 tepat saya masuk ruang rapat. Masih kosong. Yang ada hanya Fida gadis bungsunya. Tentu saja masih kosong, karena sudah saya umumkan rapat diliburkan. Bahkan saya sertakan agar semua ijin dengan alasan masing-masing jika beliau mengundang rapat. Ini saya lakukan karena saya tahu kondisi beliau masih lemah. Jadi harus istirahat.

"Ustad...Sejak tadi papa keluar masuk. Nengok dah ada yang datang belum kasihan capek. Sudah saya bilang agar nunggu saja di rumah sambil istirahat...biar tidak capek. Fida saja yang nunggu di sini, tapi papa nggak mau," ujar gadis bungsunya.

Ruang rapat memang berada di komplek rumah keluarga beliau yang dikasih nama rumah ledok. Letaknya tepat di depan rumah induk agak turun.

"Baik..kita ke rumah saja," jawabku. Dan saya pun naik kembali menuju ke rumah beliau.

Sebentar menunggu beliaupun keluar.
"Ayuk di sana (ruang rapat) "
"Tidak di sini saja ?"
"Di sana..di sana..kita kan rapat," ujarnya sambil menarik tangan saya.

Subhanalloh. Sekali lagi saya saksikan betapa besarnya semangat da'wah beliau.
Saya sadar..beliau tidak ingin saya datang 'menengok'  orang sakit yang lemah dan perlu dihibur atau dikasihani.
Beliau merasa sehat untuk berjuang. Karenanya saya harus datang untuk berjuang.
Rapat memikirkan kemaslahatan umat bukan untuk menengok orang sakit.

Saya jadi ingat, beliau pernah berkomentar untuk temen-temen yang beberapa kali tidak datang rapat.

"Harokah da'wah itu sendinya musyawarah. Tanpa musyawarah tidak akan ada harokah. Jadi kalau tidak rapat da'wah ya tidak akan jalan!"

Di ruang rapat kami duduk berdua.

"Dek...Mereka  berpikir sehat itu hanya fisik...manusia kan tidak hanya fisik tapi lahir dan batin," pelan beliau mulai perbincangan. Suaranya masih lemah..tapi aura semangatnya masih terasa sangat kuat.
"Saya ini kan sudah 3 bulan lebih tidak rapat dek...rasanya kok muspro (tidak berguna) hidup saya".

Jleb...seperti panah..kata-katanya begitu dalam menghujam ke hati. Saya hanya tertegun mendengarkan, tidak mampu menjawabnya.

Anda mungkin juga sulit memahami situasi saya. Atau memahami makna kata-katanya. Bahkan menganggapnya lebay.

Masa hanya 3 bulan tidak rapat saja merasa hidupnya tidak berguna. Orang lain saja ada yang sampai bertahun-tahun bahkan sepanjang hidupnya tidak pernah rapat.
Benar-benar lebay!

Tapi percayalah, jika  sudah mengenal kehidupannya baru anda bisa menangkap maknanya.

Karena beliau telah mewakafkan kehidupannya untuk Da'wah. Perjuangan fii sabilillah.

Dalam kehidupan normalnya..sehari biasa beliau mengisi tiga sampai lima majlis ta'lim di tempat yang berjauhan dan tanpa bayaran. Bahkan tak jarang justru menginfakkan sejumlah uangnya.

Beliau memegang sejumlah jabatan: Ketua Dewan Da'wah (DDII) Yogyakarta, Ketua Persatuan Djamaah Haji (PDHI) Yogyakarta, Pengawas Badan Wakaf UII, Pembina 7 Yayasan Pendidikan Islam Terpadu di Yogyakarta, dll.

Semuanya dijalani serius dan tanpa gaji. Sehingga hampir tidak ada harinya tanpa rapat. Siang dan malam

Semangat Da'wahya yang tetap membara dalam kondisi tubuhnya yang semakin renta...menjadikan hidupnya indah bagai SENJA YANG TETAP MERONA JINGGA.

Semoga tabiat perjuangannya menjadi inspirasi bagi yang mengenalnya dan terus mengalirkan pahala untuknya. Amiin.

(By Ery Masruri)