MASA BELAJAR PEMUDA PEMIKUL PERADABAN


MASA BELAJAR PEMUDA PEMIKUL PERADABAN

Oleh: Muhammad Elvandi, Lc, MA
(Ketua GARBI Jabar)

“Untuk 45 menit pertarungan, kamu harus berlatih sebanyak 45.000 menit, artinya 10 minggu, 10 jam perhari” kata Mickey Goldmill pada Rocky dalam fiksi inspiratif tentang atlet petinju Itali-Amerika, Rocky Balboa.

Ini adalah filosofi ringkas antara ujian dan persiapan menghadapi ujian. Momen 60 menit test sekolah memerlukan 6 bulan persiapan. Bahkan dalam hidup, akan banyak situasi serius yang membutuhkan keputusan cepat, dalam hitungan menit seperti dalam bisnis, politik atau perang. Keputusan-keputusan krusial itu membutuhkan insting yang tajam, hasil dari eksperimen panjang, bukan satu-dua bulan, tapi akumulasi pengalaman tahunan. Itulah durasi masa belajar yang dibutuhkan, untuk suatu periode kontribusi yang umumnya lebih singkat.

Dalam konteks misi peradaban, Allah menyiapkan sang calon Nabi, Muhammad muda selama 40 tahun. Selama itulah persiapannya, sebelum Allah mengangkatnya menjadi Rasul terakhir untuk berdakwah selama 23 tahun, sejak usia 40 hingga usia 63 tahun.

Allah menyiapkan beberapa dekade penderitaan nabi Yusuf sebelum ia memikul peran besar sebagai menteri di Mesir.

Dan misi penaklukan Konstatinopel beberapa hari menghabiskan seluruh masa kecil dan remaja Muhammad al-Fatih.

Fase belajar adalah landasan bagi beratnya misi yang akan dipikul. Semakin besar rencana kontribusi seseorang, semakin berat masa pembelajaran yang harus ia siapkan. Bukan hanya pada durasinya, tapi juga berat pada jenis, kualitas, kuantitas juga relevansinya. Jika fase pembelajaran seseorang instant, keropos, mustahil ia menuntaskan misi-misi besar, atau ia tidak akan bertahan memikul misi peradaban dalam waktu yang lama hingga akhir hayatnya.

Maka setiap pemuda muslim perlu mengklasifikasi dua kategori dalam waktu hidupnya. Yaitu fase pembelajaran dan fase kontribusi. Mengapa? Karena pembagian yang jelas memudahkan seorang pemuda untuk mengevaluasi capaian-capaian pengembangan kapasitas diri, juga melihat capaian kontribusi yang nyata dari hasil kapasitas yang ia bangun.

Pemisahan seperti ini bukan berarti di masa belajar ia tidak berkontribusi dan di masa kontribusi ia tidak belajar mengembangkan diri. Tapi pemisahan ini adalah klasifikasi metodologi. Artinya, di setiap rentang usia, seorang pemuda harus mampu mengidentifikasi fokus hidupnya. Karena tanpa kejelasan fase belajar dan kontribusi, seorang pemuda tidak akan tahu, sejauh mana ia belajar? Sekonkret apa kontribusi yang ia hasilkan? Karena kontribusi nyata didapat dari kekuatan fokus pada satu kompetensi inti diri yang dikelola.

Umumnya, Allah mengangkat para Nabi di usia 40 tahun. Karena di angka inilah sebagian besar manusia mencapai puncak kematangan. Di usia inilah, kehidupan berat seorang nabi dimulai. “Ya khadijah laqad intaha ‘ahdan naum” (wahai Khadijah, telah habis waktu untuk tidur/santai), kata Sang Nabi di usia 40 saat ia memulai misi dakwahnya. 40 tahun, adalah ukuran ideal seorang yang selesai dengan semua bahan kapasitas diri yang inti untuk persiapan misi peradaban.

Itu artinya, diantara rentang usia seorang pemuda saat ini, hingga menjelang usia 40, terbentang masa pembelajaran yang menantang. Ia adalah fase terbaik untuk menyiapkan diri, fase termahal untuk belajar. Karena di usia muda 20-40, semua unsur kebaikan seorang manusia terkumpul. Waktu yang panjang, kesehatan prima, kekuatan logika, ketajaman pikiran, bahkan dorongan nafsu dan emosi yang normal. Semua itu adalah aset pembelajaran dan modal produktivitas.

Saya membangi fase emas pembelajaran pemuda dalam 3 satuan usia, yaitu 0-15 tahun, 15-30 tahun dan 30-40 tahun. Fase pertama pembelajaran adalah usia 0-15 tahun, bahkan ia yang paling ideal. Namun kesempurnaan pendidikan di fase 0-15 ini adalah privilege segelintir orang yang mempunyai orang tua visioner. Jika orang tua visioner, mereka akan menyiapkan pendidikan terbaik untuk anaknya seperti ibunda Imam Syafi’i, atau orang tua Muhammad Al-Fatih yang menyiapkan Muhammad bin Murad kecil itu untuk menjadi tokoh umat penakluk Konstatinopel.

Di rentang usia 0-15 tahun orang tua memang banyak mempengaruhi masa kecil seorang pemuda, tapi ia bukanlah tameng perlindungan untuk beralasan ‘kami terlanjur dibentuk seperti ini sejak kecil, maka kami akan melanjutkan hidup seperti apa adanya orang tua mendidik kami’. Intervensi pendidikan orang tua bukan satu-satunya determinan diri kita. Karena pasca fase itu, di usia 15-30 tahun, seorang pemuda mempunyai keleluasaan yang besar untuk mulai merancang masa depan pembelajarannya, sesuai yang ia inginkan.

Fase 15-30 adalah fase vital dalam perkembangan kapasitas inti (core competence) pemuda. Karena dimasa ini pemuda memiliki 3 modal terpenting untuk belajar. Yaitu porsi waktu yang luas, fisik yang prima dan energi belajar yang membara. Dimasa inilah pemuda memiliki modal pertama yang terpenting yaitu keluangan waktu. Mereka bisa fokus untuk mengembangkan diri secara total. Mempunyai kesempatan 4 hingga 7 jam membaca, merenung, menulis dalam sehari, di luar waktu kuliah dan sekolah. Tanpa terbebani oleh tanggung jawab sebagai kepala keluarga, pekerja, pengusaha, ayah atau sebagai ibu rumah tangga.

Tapi fase ini-pun tidak akan berlangsung lama. Karena saat seorang pemuda melepas masa lajangnya di usia 24-27 misalnya, waktu pribadi untuk belajar akan berkurang drastis secara otomatis, karena tanggung jawab baru akan memporsir waktunya.

Dimasa ini juga pemuda memiliki daya tahan fisik terbaik untuk menghabiskan puluhan jam menulis makalah, membaca riset, berdebat, melakukan studi lapangan. Kualitas fisik ini tidak sama dengan seorang pembelajar di usia 50-an tahun.

Modal ketiga adalah energi motivasi. Motivasi ini terbangun sebagiannya karena tabiat usia muda yang penuh rasa penasaran mengenal hal-hal baru dalam hidup. Sebagian lagi terbawa oleh lingkungan tempat ia menghabiskan aktivitas hariannya, yaitu kampus, dosen, kajian, diskusi cerdas di media sosial, dll.

Tapi ketiga modal ini tidak akan terasa lama, saat seorang pemuda menikmati fase 15-30 usianya tanpa rencana pengembangan diri yang jelas. Fase belajar ini, 15-30 tahun, bisa sangat panjang bagi seorang pemuda biasa, tapi ia tidak cukup lama bagi para pemuda obsesif yang memimpikan peran peradaban. Maka dari itu, waktu singkat ini harus dikelola dengan sebuah rencana pengembangan diri yang rinci dan terintegrasi dengan visi hidup masa depan yang jelas.

Tanpa rencana pembelajaran, para pemuda akan menikmati laju cepat kehidupan, tergerus arus deras informasi dan terseret sederet hingar bingar hiburan populer. Semua itu akan menghabiskan bertahun-tahun usia produktif mereka. Lalu kesadaran itu dihentak keras oleh fakta brutal tentang persaingan kerja, persaingan sosial, hingga persaingan eksistensi politik dan agama.

Saat seorang pemuda mengakhiri pesta wisudanya, ia akan dibangunkan keesokan harinya oleh satu kenyataan; bahwa akumulasi pembelajarannya sejak kecil dan remaja-lah yang menjadi modal untuk menghadapi ujian kehidupan yang serba tidak pasti. Pengorbanan belajar dimasa itulah penentu cerah dan suram masa depannya. Kepedihan persiapan adalah harga untuk senyuman pasca ujian. Karena “Siapa yang belum merasakan pahitnya belajar walau sekejap” kata Imam Syafi’i, “maka ia harus siap merasakan pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya”.

18 November 2018

***


BIOGRAFI:
Muhammad Elvandi lahir di Bandung, tahun 1986 (usia 32). Ia menyelesaikan seluruh pendidikan dasarnya di Bandung: SDN Cibuntu 5, SLTPN 25 dan SMUN 9.

Bahasa Arab mulai dikenalnya dari dasar selama dua tahun di Ma’had Al Imarat dan bahasa Inggris selama sembilan bulan di LIA.

Skill kepemimpinannya terlatih sejak pramuka, menjadi ketua IKMA rohis SLTPN 25, ketua bidang tarbiyah PRISMAN SMUN 9, dan president UCC (United Conversation Club) dan presiden mahasiswa BEM Al Imarat.

Pengalaman menulis pertamanya adalah sebuah novel kepahlawanan di zaman perang salib ‘Syair Cinta Pejuang Damaskus‘ tahun 2006.

Pertengahan tahun 2007 mendapatkan beasiswa kuliah S-1 di Universitas al-Azhar Mesir, jurusan Da’wah wa Tsaqâfah al-Islâmiyyah hingga selesai tahun 2011.

Selama menjadi mahasiswa di Mesir kembali menekuni aktivitas kepenulisan hingga terbit buku ‘’Inilah Politikku’’. Juga terjun dalam organisasi mahasiswa dan menjadi ketua BPA-PPMI. Dan menjadi pembicara di puluhan forum Keislaman, Kepenulisan, Leadership, Public Speaking dan Politik. Ia menggemari sastra secara umum, juga buku-buku sejarah, pemikiran, dan politik.

Tahun 2011 Elvandi meneruskan kuliah ke Perancis. Mempelajari bahasa Perancis dalam setahun di Saint Etienne lalu mengambil Master Filsafat di Institut Europeen des Sciences Humaines de Paris hingga 2014.

Ia menjadi konsultan pendidikan dan keislaman untuk komunitas pekerja perusahaan Internasional Total Paris, juga menjadi pembicara keislaman dan keindonesiaan di KBRI Perancis, KBRI Austria, KBRI London, Forum Keislaman IWKZ Berlin, SGB Utrech Belanda, KIBAR United Kingdom, dan beberapa komunitas muslim lokal di Newcastle, Manchester, Glasgow dan Aberdeen.

Tahun 2014 Elvandi mengambil Master kedua di University of Manchester pada program MA Political Science: Governance and Public Policy yang diselesaikan di pertengahan 2015.

Saat ini Elvandi membangun beberapa lini bisnis di Indonesia dan Eropa, juga menjadi pembicara di forum-forum dalam dan luar negeri, serta menjadi dosen di Telkom University Bandung.

Elvandi juga membina berbagai komunitas anak muda di Indonesia. MUDA Community (www.muda.id) adalah komunitas Muslim Berdaya yang fokus membangun kemampuan pemikiran dan ilmu-ilmu keislaman di generasi muda. Juga AFKAR Institute, adalah lembaga kajian strategis, Think Tank yang mengkaji tema-tema strategis keumatan di level Indonesia dan global.

Follow: Instagram.com/muhammad.elvandi