YANG HARUS DIBAKAR ITU KEBODOHAN DAN KEPANIKAN, BUKAN BENDERA TAUHID BUNG!


YANG HARUS DIBAKAR ITU KEBODOHAN DAN KEPANIKAN, BUKAN PANJI TAUHID BUNG!

Oleh: Kawendra Lukistian
(Warga NU / Jurkamnas Prabowo-Sandi)

Terhenyak seketika saat melihat video viral berdurasi kurang lebih dua menit, yang berisikan sekelompok orang berbaju loreng tapi bukan tentara, tengah bersemangatnya membakar panji hitam bertuliskan kalimat tauhid (Ar-rayah), semua muslim yang melihat pasti geram saat itu juga

Perayaan hari santri nasional yang harusnya semakin menguatkan tekad untuk berkontribusi bagi negeri dengan mengedepankan kebersamaan dan petunjuk Illahi, jelas terciderai oleh perlakuan amoral tersebut

Kalau kalian berdalih membakar panji tersebut karena disinyalir simbol HTI, jelas betapa malangnya pemahaman kalian terhadap regulasi bernegara, HTI telah dicabut ijinnya atau dibubarkan oleh pemerintah sejak 19 Juli 2017 lalu, saat ini semua panji atau apa pun yang bertuliskan kalimat tauhid adalah semata kecintaan dan milik semua umat Islam didunia. Bukan simbol makar apalagi radikal!

Rasanya sejak dulu perjuangan umat Islam sangat jelas, senantiasa menyertakan dan memuliakan kalimat tauhid, jangankan tertulis dipanji yang membentang lebar, tertulis disecarik kertas pun wajib dimuliakan.

Kawan, jangan lupa dipenghujung nafas kita kelak, pastinya kita ingin mengakhiri kehidupan didunia ini dengan mengucapkan kalimat tauhid suci itu secara sempurna, tak terputus sama sekali, sebagai perjuangan menyempurnakan iman kita diakhir hayat.

Tak perlu lah berdalih pembakaran tersebut untuk melindungi kalimat tauhid, takut terinjak-injak atau apalah. Kalau kalian ingin melindungi cukup kantongi atau masukan saja ke tas, selesai perkara, sekarang saat kain yang kebetulan bertuliskan kalimat tauhid itu kalian bakar dan menjadi abu serta terinjak-injak bagaimana perasaan kalian?

Rasanya kalian wajib merevolusi hati, agar tak sensi melihat simbol-simbol perjuangan islam yang dicintai muslim se-dunia ini, kalau pun panik, tak perlu juga mengaitkannya terhadap momentum politik, karena urusan politik sudah ada aturan dan waktunya, Kalimat tauhid itu murni kecintaan dan kebanggaan, tak ada urusan dengan makar-makaran.

Mari sejukkan lah negeri ini, Islam Wasatiyyah (pertengahan) jangan sekedar lip service semata, Islam yang toleran, Islam yang moderat yang saat ini sedang menjadi primadona diberbagai belahan dunia. Kawan, bertobat dan minta maaflah kepada seluruh umat Islam se-dunia yang tersakiti, tak perlu ada lagi pembakaran terhadap berbagai atribut yang termaktub lafadz suci. Yang jelas harus dibakar itu adalah kebodohan dan kepanikan saat melihat kalimat tauhid menjulang tinggi memayungi digdayanya negeri ini.

*Sumber: fb penulis