Pertarungan Kecerdasan Memanipulasi


[PORTAL-ISLAM.ID]  Tahun 2018 sampai awal 2019 bisa diartikan sebagai tahun kecerdasan memanipulasi. Dikatakan demikian, karena bangsa ini sedang menuju dua sekaligus peristiwa politik terbesar dan menentukan masa depan negeri ini digelar, yaitu Pemilu Legislatif bersamaan dengan Pemilu Presden. Hampir bisa dipastikan tidak ada proses politik yang bersih dari manipulasi. Bahkan politik kekuasaan dalam perebutan jabatan itu pada dasarnya adalah pertarungan kecerdasan memanipulasi.

Untuk mencari pembenaran judul tulisan di atas, konsep David E. Apter berikut ini bisa menjadi landasan teorinya. “Politik dan seks mempunyai kesamaan yaitu dalam masyarakat yang sopan dan beradab politik dan seks disingkirkan, tetapi dalam keadaan bagaimana pun keduanya tetap dibutuhkan.” Pernyataan ini memberi indikasi bahwa setiap proses politik pasti tidak sopan dan cenderung melanggar aturan yang telah disepakati. Ketidaksopanan dalam politik itu biasanya diwujudkan dalam bentuk memanipulasi.

Karena itu, tidak ada peristiwa politik tanpa manipulasi! Dalam konteks Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden yang dilaksanakan bersamaan, hampir semua elemen bisa dimanipulasi, mulai dari data kependudukan untuk proses pengajuan daftar calon sementara pemilih, daftar calon tetap pemilih, verifikasi partai politik di KPU, seleksi berkas calon anggota legislatif, penentuan calon anggota legislatif, pemalsuan ijasah, memoles wajah dalam foto untuk diobral di pinggir jalan, politik pencitraan, iklan politik, survei popularitas partai atau politisi, bahasa kampanye, sistem pemilu, sampai pada tahap penghitungan suara. Politik tanpa manipulasi laksana mobil yang melaju tanpa sopir, kalau tidak terguling pasti susah mencapai tujuan.

Kalau memutar memori pada pemilu tahun 2004, kita juga akan menemukan data pendukung judul di atas. Seorang tokoh sekaliber Nurcholis Majid yang diusung oleh beberapa kelompok produktif (agamawan, budayawan, cendekiawan) untuk ikut konvensi Partai Golkar tahun 2004, dengan tegas menyatakan tidak bersedia mengikuti konvensi. Tidak ada alasan jelas kenapa Cak Nur begitu biasa disapa ragu mengikuti konvensi, tetapi bisa jadi Cak Nur melihat kalau baju moralitas dan idealisme yang dipakai memasuki wilayah konvensi pasti mendapatkan banyak rintangan besar dari kelompok pragmatis, yang akan memanipulasi (menghalalkan segala cara untuk menang).

Keraguan Cak Nur ini mendapat justivikasi dari konsep Apter lainnya, yang mengatakan “setiap dorongan untuk memperbaiki suatu sistem dan kebutuhan akan pemimpin yang dapat melengkapi kita dengan pembaharuan moral, pasti dipersulit oleh para politisi tertentu yang licik dan tidak bisa dipercaya.” Senapas dengan itu, politik sebagaimana dikatakan Hannah Arendt, adalah suatu “ruang penjelmaan” yang memungkinkan dan merintangi pencapaian manusia di segala bidang.

Kalau dua konsep ini dipakai dalam memasuki wilayah pemilu, dapat dikatakan setiap politisi yang bertarung mempunyai kemungkinan yang sama untuk menang, tetapi saat yang bersamaan harus siap menerima kekalahan. Untuk menuju kemenangan, semua tim sukses yang terlibat dalam proses politik itu pasti menggunakan segala macam strategi untuk saling menjegal dan merintangi. Salah satu bentuk strategi yang pasti dipakai dalam merintangi lawan adalah perang data. Ada dua data yang akan muncul kepermukaan, yaitu data faktual yang mengungkap kebenaran, dan data fiktif yang “dimanipulasi” kebenarannya.

Hal ini disebabkan, karena semua orang yang berpolitik esensi dan tujuannya sama yaitu “bagaimana mencari, mendapatkan, mempertahankan dan memperluas kekuasaan.” Dalam proses mencari, mendapatkan, mempertahankan dan memperluas kekuasaan itulah dibutuhkan “kecerdasan memanipulasi”. Tidak ada gunanya dana banyak, kemampuan menguasai informasi (memanfaatkan media massa), kemampuan membangun jaringan-jaringan ke beberapa komunitas berpengaruh dalam masyarakat, kalau tidak memiliki kecerdasan memanipulasi.

Dalam konteks politik, yang dimaksud kecerdasan memanipulasi adalah bagaimana melakukan manipulasi secara sistematis dan sangat rapi sehingga tidak bisa terdeteksi oleh orang lain (lawan politik). Kecerdasan ini sangat penting, karena dalam sistem demokrasi semua orang atau kelompok kepentingan bebas menciptakan akses untuk mencari data-data yang diinginkan. Artinya kalau tidak cerdas memanipulasi, maka akan berbalik arah memakan aktornya.

Jadi politik kekuasaan dalam perebutan jabatan, pada dasarnya pertarungan kecerdasan memanipulasi. Kalau tidak ketahuan akan sukses bertahta, sebaliknya jika ketahuan akan menjadi pecundang kehidupan. Siapakah yang akan menjadi tokoh kartun dalam Pemiilu 2019? Sang waktu tidak lama lagi akan menjawabnya.

Penulis: Ruslan Ismail Mage