Belajar dari Hasan Al-Banna, Figur Rekonsiliatif (Pemersatu)


Oleh: Ahmad Dzakirin

Di antara kepribadiannya, Hasan Al-Banna adalah figur pemersatu, cekatan dalam berkomunikasi dan bijak dalam menyelesaikan pertentangan praktik keagamaan dalam masyarakat. Dikisahkan Al-Banna masuk ke sebuah masjid pada bulan puasa ketika orang-orang sedang bertikai perihal bilangan rakaat tarawih, antara 11 dan 23 rakaat. Al-Banna dengan bijak menghampiri dan bertanya kepada mereka.

“Menurut kalian apa hukumnya shalat tarawih?”

“Sunnah”, jawab mereka serentak.

Lalu dia bertanya, “Apa hukum bertengkar dengan sesama muslim di masjid?

Semua sepakat menjawab, “Haram”.

Al-Banna lalu menyadarkan mereka pentingnya menjaga persatuan sesama muslim dan menghindarkan perselisihan. “Mengapa kalian melakukan yang haram demi mempertahankan yang sunnah?”

Hasan Al-Banna mendapat pujian dari sastrawan terkemuka Mesir, Taha Hussein atas wawasan dan pendekatan otokritiknya yang ilmiah dan jauh dari sikap emosional terhadap karya kontroversialnya, “Mustaqbal ats tsaqafah fi Mishr”. Di markas Syubbanul Muslimin, Taha Hussein memujinya.

“Andai lawan-lawanku seperti Hasan, tentu aku akan menjabat tangan mereka sejak hari pertama. Wahai Ustadz Hasan, saya mendengar kritikmu dan terkagum padamu. Kritikan seperti ini tidak dimiliki oleh orang selain engkau.”

Namun dalam kesempatan lain, Hasan Al-Banna menolak berdebat dan lebih mencari pendekatan pragmatis atas ajakan berdebat pemuda jebolan Al-Azhar. Hasan Al-Banna justru mengundangnya ke rumah, menjamu dan memberinya uang usai bertandang. Sang penantang dipersilakan mengambil buku dari perpustakaannya. Sejak itu Hasan Al-Banna tidak lagi menghadapi kekritisannya.

Perlu diketehui bahwa dalam usia 22 tahun, Al-Banna mendirikan organisasi yang dinamainya Ikhwanul Muslimin pada Maret 1928 di Kota Ismailiyah, zona kanal Suez yang menjadi konsentrasi pasukan pendudukan Inggris. Ismailiyah menjadi basis pertama gerakannya seiring dengan penempatan dirinya sebagai pengajar di kota tersebut.

Ikhwanul Muslimin didirikan sebagai reaksi atas kemunduran politik, ekonomi, intelektual dan sosial Mesir dan dunia Islam, maka tidak pelak, kehadirannya mengisi kevakuman dan membangkitkan kembali kesadaran politik rakyat yang berada dalam keputusasaan dengan ide revivalisme Islam untuk kebebasan, keadilan sosial dan masa depan yang lebih baik.

Ide penamaan Ikhwanul Muslimin sendiri berpijak dari keinginan sang pendiri untuk mempersatukan seluruh elemen kekuatan kaum Muslimin, membela dan mengembalikan kejayaan umat di atas prinsip persaudaraan Islam. Dalam pandangan al Banna, problema kontemporer umat Islam adalah karena perbedaan dan perpecahan, maka umat harus mengesampingkan segala perbedaan tersebut untuk berkhidmat kepada Islam.

“Mari kesampingkan penampilan dan formalitas. Jadikan prinsip dan prioritas ikatan kita karena pemikiran, moralitas dan aksi. Kita adalah saudara dalam berkhidmat kepada Islam, kita adalah Ikhwanul Muslimin.***

Sumber: Dakwatuna