Empat Ironi Ahokers By Zeng Wei Jian


[PORTAL-ISLAM.ID]  “The worst feeling in the world is knowing you’ve been used and lied to by someone you trusted," kata proverb English.

Itulah nasib Ahokers. Pathetic. Sebuah ironi yang nyata. Mereka hanya "dipergunakan". Being used. Begitu selesai, ngga kepake lagi, dibuang. Bahkan dilirik pun tidak. Kasian.

Tajir, ditopang istana, eh kalah dua digit di pilkada. Dan ironi itu pun dimulai.

Mereka berusaha kuat. Sisa budget beli bunga. Eh, Ahok malah masuk bui akibat keterangan saksi dan Fatwa yang diteken KH. Ma'ruf Amin.

Kalap, nangis, bakar ban mobil, pintu LP Cipinang dikoyak-koyak. Mereka yakin Presiden Joko bekingnya. Di tengah aksi gedor pintu penjara, Polisi meludahi muka salah seorang Ahoker anarkis. Malamnya, Ahoker bakar lilin.

Itu ironi kedua.

Jakarta lebih bagus di tangan Anies-Sandi. Dapet WTP. Trotoar indah. Jarang banjir. Area gusuran Ahok dibangun kembali oleh Anies. Tiap hari Ahoker nyerang Anies. Bukannya tumbang, Anies-Sandi makin tenar. Ini ironi ketiga Ahokers yang naas.

Pilpres, puncak tragedi Ahokers. Tidak pernah diprediksi, Joko ambil KH. Ma'ruf Amin sebagai Cawapres.

Kolaborasi apik Muhaimin Iskandar, Romi, SAS, Erlangga singkirkan Mahfud MD, Cawapres kaum "toleran gadungan" dan "saya pancasila". Ahoker speechless.

Aktifis HAM, Lesbian, Gay, Ahmadiyah, Syiah, non moslems, liberal dan sekular pada melongo. Jaw dropping. Kali ini, genk "planga-plongo" bikin melongo. Ini bisa masuk kategori "pengkhianatan ideologis".

You know rasanya dikhianati? Ya ampu...nnn, sakitnya tuh di sini kata Cita Citata.

"You know that you have been stabbed when you feel the deep pain of betrayal," ujar Profesor Les Parrott.

Suara Ahokers bahkan tidak dilirik. Ya mereka grup kecil; suaranya nyaring. Ngga pernah ikut kelas P4 tapi lagaknya paling Indonesia. Berbaju kotak, ikat kepala merah-putih, bawa bambu runcing, mereka datang ke Jakarta. Ikut demo Pro Ahok. Mereka teriak paling bineka dan pancasilais sejati.

Sudah nyaman dengan keyakinan FPI dan HTI mau mendirikan khilafah eh KH Ma'ruf yang ultra konservatis dijadiin Cawapres.

Sudah enjoy dan pede berkoar-koar Anies-Sandi dagang ayat dan mayat untuk menang pilgub eh KH Ma'ruf yang jadi.

Secara perspektif politik, KH Ma'ruf Amin merupakan pilihan terkuat. Paling rasional. Ahokers? Who cares. Itu jelas betrayal. No dignity dan multi-digit go block seandainya Ahokers tetap pilih Joko-Ma'ruf.

Malcolm X pernah berkata, "To me, the thing that is worse than death is betrayal".

Memang, in politic, dikhianati itu lumrah. “Some people are willing to betray years of friendship just to get a little bit of the spotlight," kata Lauren Conrad.

Semoga Ahokers tabah ya. Hahaha serepublik ngakak. Tapi ingat lho, "There is always a lesson of a lifetime to learn in every betrayal," kata Penulis Edmond Mbiaka.

Penulis: Zeng Wei Jian