Serial (2): "Durar As-Suluk fi Siyasat Al-Mulk"

KAJIAN KITAB DURAR AL-SULUK FI SIYASAT AL-MULUK
(Petuah-petuah Taujih Siyasi Untuk Para Raja dan Pemimpin)

Karya: Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi (w. 450 H)

Oleh: Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc
Bidang Pembinaan Kader DPP-PKS
---

Petuah_03


اِعْلَمْ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَطْبُوْعٌ عَلَى أَخْلَاقٍ قَلَّ مَا حُمِدَ جَمِيعُهَا أَوْ ذُمَّ سَائِرُهَا، وَإِنَّمَا الْغَالِبُ أَنَّ بَعْضَهَا مَحْمُودٌ وَبَعْضُهَا مَذْمُوْمٌ.

Ketahuilah bahwasanya manusia memiliki watak untuk berakhlaq yang jarang sekali dipuji seluruhnya atau dicela kesemuanya, umumnya, sebagian terpuji dan sebagian tercela.

قَالَ الشَّاعِر :

Seorang penyair (Ar-Raghib Al-Ishfahani) berkata:

(وَمَا هَذِه الْأَخْلَاقُ إِلَّا طَبَائِعُ ... فَمِنْهُنَّ مَحْمُودٌ وَمِنْهَا مُذَمَّمُ)

Akhlaq ini tiada lain adalah kumpulan watak
Sebagiannya terpuji dan sebagiannya lagi tercela

وَلَيْسَ يُمْكِنُ صَلَاحُ مَذْمُوْمِهَا بِالتَّسْلِيمِ إِلَى الطَّبِيْعَةِ وَالتَّفْوِيْضِ إِلَى النَّحِيْزَةِ، إِلَّا أَنْ يَرْتَاضَ لَهَا رِيَاضَةَ تَأْدِيْبٍ وَتَدْرِيْجٍ، فَيَسْتَقِيْمُ لَهُ الْجَمِيْعُ، بَعْضُهَا خُلُقٌ مَطْبُوْعٌ، وَبَعْضُهَا تَخَلُّقٌ مَسْمُوْعٌ، لِأَنَّ الْخُلُقَ طَبْعٌ وَتَكَلُّفٌ

Untuk perbaikan akhlaq yang tercela tidak dapat diserahkan kepada watak dan pasrah kepada bawaan. Namun, perbaikannya dapat dilakukan dengan pelatihan dan pembiasaan melalui pengajaran dan sedikit demi sedikit, sehingga seluruh akhlaq tadi bisa menjadi baik, baik akhlaq yang bawaan, maupun akhlaq hasil bentukan, sebab akhlaq itu bawaan dan pemaksaan.

قَالَ الشَّاعِرُ :

Seorang penyair berkata:

(يَا أَيَُّهَا الْمُتَحَلِّيْ غَيْرَ شِيْمَتِهِ ... وَمَنْ سَجِيَّتُهُ الْإِكْثَارُ وَالْمَلَقُ)

(عَلَيْكَ بِالْقَصْدِ فِيْمَا أَنْتَ فَاعِلُهُ ... إِِنَّ التَّخَلُّقَ يَأْتِيْ دُوْنَهُ الْخُلُقُ)

Wahai seorang yang memiliki akhlaq yang tidak semestinya…
Dan yang tabiatnya memperbanyak kesalahan dan menjilat
Bersikap tengahlah dalam apa yang kamu lakukan …
Sebab dari upaya pembentukan akhlaq itulah terbentuk suatu akhlaq

وَشَرِيْفُ الْأَفْعَالِ لَا يتَصَرَّفُ فِيْهِ إِلَّا شَرِِيْفُ الْأَخْلَاقِ، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ طَبْعُا أَوْ تَطَبُّعًا، وَقَدْ نَبَّهَ اللهُ تَعَالَى عَلَى ذَلِكَ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِِيْمِ بِقَوْلِهِ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {وَإنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ} [القلم : ] لِأَنَّ النُّبُوَّةَ لَمَّا كَانَتْ أَشْرَفَ مَنَازِِلِ الْخَلْقِ نَدَبَ إِلَيْهَا مِنْ أَكْمَلِ فَضَائِل الْأَخْلَاقِ

Dan perbuatan-perbuatan mulia tidak ada yang melakukannya kecuali seseorang yang mulia akhlaqnya, baik karena itu sudah menjadi wataknya maupun karena hasil bentukan.

Dan Allah SWT telah mengingatkan tentang hal ini dalam kitab-Nya yang mulia melalui firman-Nya kepada nabi-Nya: “Dan sesungguhnya engkau – wahai Muhammad SAW – benar-benar berada dalam akhlaq yang agung”. Sebab, dikarenakan kedudukan kenabian merupakan kedudukan manusia tertinggi, maka Allah SWT mendorongnya untuk memiliki akhlaq yang paling sempurna kemuliaannya

ULASAN:

Ada beberapa hal yang dapat saya garis bawahi dari petuah Imam Mawardi ini, yaitu:

1. Akhlaq manusia pada umumnya, dan pemimpin, termasuk di dalamnya adalah para politisi, pada khususnya, belumlah memiliki akhlaq yang seluruhnya terpuji, masih banyak akhlaq dan perilakunya yang tidak terpuji. Hal ini tidak mengapa, yang terpenting adalah, kemauannya untuk berubah dari berakhlaq tidak terpuji menuju akhlaq terpuji.

Artinya, seorang pemimpin, termasuk di dalamnya adalah politisi, mestilah tetap dan terus menerus melanjutkan tarbiyah dirinya, baik melalui orang lain (murabbi) atau pun melalui tarbiyah dzatiyyah, tarbiyah secara mandiri.

2. Perubahan akhlaq seorang pemimpin (tarbiyah), termasuk di dalamnya para politisi, dilakukan dengan pendekatan:

a. Riyadhah, yaitu pelatihan terus menerus, yang terkadang terasa berat dan melelahkan, untuk terus menerus menempa dan memperbaiki dirinya.

b. Ta’dib, yaitu upaya-upaya untuk meluruskan hal-hal atau sifat-sifat yang belum lurus pada dirinya, agar menjadi lurus, meskipun untuk hal ini, ia peru melakukan bentuk-bentuk ‘iqab atau hukuman terhadap diri sendiri, agar diri yang cenderung bengkok ini menjadi beradab dan lurus.

c. Tadrij, semua upaya perbaikan dan tarbiyah diri sendiri itu hendaklah dilakukan secara gradual atau berangsur-angsur, jangan dipaksakan berubah dalam sekejap.

3. Ada beberapa kosa kata yang oleh Imam Mawardi diberi tekanan khusus dalam petuah ini, yaitu:

a. Takhalluq, maksudnya adalah bahwa pembentukan akhlaq memang diperlukan latihan, dan perlu diulang-ulang, sehingga akhlaq yang diinginkannya tersebut terbentuk atau jadi.

b. Takalluf, maksudnya adalah pembentukan akhlaq terbentuk bila perlu dipaksa-paksakan.

c. Tathabbu’, begitu juga dengan pembentukan watak, diperlukan waktu, tempo dan latihan berulang-ulang.

4. Yang diharapkan muncul dari seorang pemimpin, termasuk politisi adalah perbuatan-perbuatan mulia (syarif al-af’al). namun, perbuatan-perbuatan mulia ini tidak muncul kecuali dari mereka-mereka yang memiliki akhlaq mulia (syarif al-akhlaq).

Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin, termasuk di dalamnya politisi, selalu berusaha memperbaiki akhlaqnya agar akhlaq yang dimilikinya semakin mulia.


---
serial sebelumnya:

Serial (1): http://pkspiyungan.blogspot.com/2011/05/serial-kajian-kitab-durar-as-suluk-fi.html



*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Baca juga :