Menjaga KEWARASAN Di Zaman Revolusi Mental


Setelah HTI di bubarkan, ulama-ulama 'ekstrimis' diteror dan ditekan, ada polisi nembak polisi; polisi menghina TNI; ada pendukung cabup menyerang kantor Kemendagri.

Tapi tindak-tindak kekerasan itu bukan ekstrimisme. Ekstrimisme dan radikalisme itu shalat, dzikir, baca shalawat bersama, aksi damai, tertib dan bersih menuntut pemberlakuan hukum yang adil. Itu EKSTRIMISME.

Mengkritisi pemerintah, apalagi Presiden, itu 'ujaran kebencian'. Memfitnah dan menghina ulama, itu 'kebebasan menyampaikan pendapat.'

Menyampaikan informasi faktual yang tak mengenakkan penguasa, itu 'menggoreng isu' untuk pilpres. Menyebarkan berita fitnah, cacian dan hinaan terhadap lawan penguasa, itu 'menyebarkan informasi yang sebenarnya'.

Ulama mengumumkan pernikahannya, itu 'pamer istri', meski Nabi memerintahkan pernikahan itu diumumkan seluas mungkin untuk menghindari fitnah. Selingkuh, pelihara istri simpanan, itu 'menjagai citra' dan kepatutan.

Pernikahan sejenis dengan jumlah pasangan tak terbatas itu 'hak azasi manusia'. Poligami itu anti-HAM.

Menggusur rakyat kecil dan mengemis ke asing, itu merakyat.

Dan salah mulu tak malu, itu contoh manusia hebat hasil revolusi mental.

Saya berwasiat kepada diri sendiri: Jaga terus akal sehat, agar bisa menangkal ketakwarasan ini.

(by Kafil Yamin)