"Mengapa Anda terus ngeyel membela nasab Ba'alawi...?"

"Mengapa Anda terus ngeyel membela nasab Ba'alawi...?" 

BISMILLAH: 

x Bukan ngeyel, tapi kami ini orang tidak suka ribut. Itu saja sih. 
+ Apa urusannya? 
x Dengarkan! Negara ini lagi banyak masalah. Kenapa dibuat makin ribut dengan polemik nasab? 
+ Soal nasab Ba'alawi sangat penting, sebab banyak orang ngaku-ngaku keturunan Rasulullah, tapi menipu Ummat. 
x Kalau ada yang menipu, proses penipuannya, bukan menolak nasabnya! 
+ Gak bisa! Kalau ada orang ngaku keturunan Nabi, tapi akhlaknya buruk, berarti dia bukan keluarga Nabi. 
x Aneh. Kaidah dari mana itu? 
+ Mamah Ghufron...! 
x Oh ya pantes, lha wong rujukannya Mamah Ghufron. 
+ Sekarang gini saja, Anda yakin tidak Ba'alawi itu keturunan Rasulullah..? 
x Soal nasab ini kami tidak tahu banyak. Menurut yang kami dengar, Ba'alawi itu keturunan Rasulullah. Ya sudah, kami terima. 
+ Percaya begitu saja, tanpa meneliti..? 
x Ilmu nasab itu sulit, tidak terjangkau oleh kami. Kami ini terima beres saja. Ummat meyakini Ba'alawi keturunan Rasulullah, para ulama besar akui mereka keturunan Rasulullah, dan Ba'alawi sendiri juga mengaku keturunan Rasulullah. Ya kami terima. Begitu saja kan? Dibuat mudah saja.
+ Lho kok gitu..? 
x Kaum Ba'alawi kan punya nasab. Mereka kaum Muslimin. Ya sudah kami terima. Kami tidak ikut campur urusan keluarga orang lain. 
+ Harus kritis, jangan terima saja. 
x Masalah nasab ini kan urusan suatu keluarga, tidak mungkin kami ikut campur. 
+ Faktanya, mereka bukan keturunan Rasulullah!
x Lho dari mana Anda tahu fakta...? Apa usia Anda 1000 tahun sehingga tahu dengan pasti keadaan mereka dari zaman ke zaman?  
+ Maksudnya, melalui STUDI PUSTAKA, kami nyatakan mereka bukan keturunan Rasulullah. 
x Kok studi pustaka? Apa urusan nasab sama dengan KIR (karya ilmiah remaja) yang sering dibuat anak-anak SMA..? 
+ Hmm...?
x Apa Anda pernah datang ke keluarga pemilik nasab (Ba'alawi), menanyakan nasab mereka? 
+ Belum. 
x Pernah berkunjung ke negeri asal-usul mereka? 
+ Tidak. 
x Atau pernah melihat makam para leluhur Ba'alawi di Yaman..? 
+ Tidak. 
x Pernah napak tilas sejarah tokoh-tokoh Ba'alawi di Madinah, Makkah, Irak, Persia, sampai Yaman? 
+ Tidak. 
x Pernah bicara dengan lembaga-lembaga studi nasab internasional? 
+ Nehi. 
x Pernah melihat manuskrip-manuskrip kuno yang disimpan keluarga besar Ba'alawi? 
+ No, no, no! Sekali no, ya no! 
x Lha terus Anda membatalkan nasab Ba'alawi atas dasar apa? 
+ STUDI PUSTAKA, lewat buku-buku yang dicetak atau buku PDF gratis. 
x Tidak pernah terjun ke lapangan? 
+ Tidak, tidak! 
x Ya Ilahi..! Jadi peneliti nasab kok gini-gini amat. 
+ Seterah lah... 
x Berarti selama ini Anda TIDAK MENELITI NASAB sama sekali. Hanya baca-baca data dari buku atau PDF. 
+ Tidak masalah tho... 
x Bagaimana kalau nanti di Akhirat terbukti nasab Ba'alawi itu keturunan Rasulullah..? 
+ Mboh lah.. ra urus! 
x Sakit lo..! Sakit bener. Berani membatalkan nasab keluarga Muslim besar hanya lewat STUDI PUSTAKA, seperti bikin makalah KIR (karya ilmiah anak SMA). 
+ Suka-suka dong...! 
x Paraaah... na'udzubillahi min dzalik. 
+ Bagaimana kalau sebaliknya? Di Akhirat nanti ternyata terbukti mereka bukan keturunan Rasulullah..? 
x Ya tidak apa-apa. Dosa ditanggung pihak yang ngaku keturunan Nabi. Kami tidak ikut memikul dosa. Mereka ngaku keturunan Nabi, ya boleh, kami terima. Benar tidak pengakuan itu kembali ke Ilmu Allah. 
+ Yang kritis dong..! 
x Kami sudah kritis. Kami ikut pendapat ulama-ulama besar yang mengakui Ba'alawi. Kami ikut penerimaan Ummat atas nasab Ba'alawi. Kami terima pengakuan Ba'alawi bahwa mereka keturunan Nabi. Sudah cukup kan..? 
+ Tapi Anda harus cari buku-buku yang melemahkan atau membatalkan nasab Ba'alawi..?
x Buat apa?
+ Buat menghukum mereka, karena mereka suka ndawir (menipu/minta-minta duit ke Ummat). 
x Laa ilaha illAllah. Hanya gegara perbuatan duniawi sampai berani membatalkan nasab orang lain. πŸ˜₯
+ Tak mungkin, tak mungkin... Tak mungkin keturunan Rasulullah berakhlak jelek.. Namanya keturunan Rasul, pasti shalih. 
x Parah...! Dari mana kaidah seperti itu? Anak Nabi Nuh, durhaka. Isteri Nabi Luth, durhaka. Ayah Nabi Ibrahim, pembuat berhala. Paman Rasulullah, Abu Lahab, juga orang durhaka. Meskipun keluarga Nabi, tidak dijamin masuk surga. 
+ .... (sunyi) 
x Akhlak adalah akhlak, nasab adalah nasab. Itu dua hal berbeda. 
+ Menurut kami, tesis nasab Kyai Imaduddin tak terbantahkan. 
x Itu bukan tesis, tapi makalah. 
+ Tesis ilmiah, valid dan akurat. 
x Bukan! Itu makalah STUDI PUSTAKA, seperti karya anak-anak SMA. 
+ Tidak! Itu tesis terjenius sejak 1945. 
x Ilusi, ilusi... cuma ilusi. Makalah itu sekelas KIR anak-anak SMA. 
+ Tidak! Itu riset terbaik di dunia. 
x Wkwkwkwk... Terbaik bagaimana, cuma hasil baca buku, atau search di Google. 
+ Tidaaaakkk....! Hidup tesis! Hidup Kyai Imad! Hidup KIR...!! 
x Ya betul, itu cuma KIR. 
+ Eh bukan.. Itu ilmiah, very very validitas! Nomer satu! Tak terbantahkan. 
x Karep mu lah... 

(Tammat)

-Sam Waskito-

Baca juga :