Sangar terhadap kaum muslimin yang ikut aksi damai bela Palestina

Oleh: Ibnu Yasin

Saya pernah sengaja memposting keikut sertaan saya dalam aksi damai bela Palestina, saya pun sangat menyadari para "juhala murjiah" akan bereaksi. Dan benar saja, mereka langsung mentahdzir saya karena ikut aksi damai bela Palestina, namun takut bereaksi terhadap sang penyelenggara acara yaitu pemerintah. 

Pertama, saya pernah menerjemahkan uraian dari kitab Shahih Fiqih Sunnah terkait demo damai yang hukumnya boleh dengan berbagai syarat. Hal Ini memang terdapat di jilid 5 Shahih Fiqih Sunnah yang belum tentu semua orang pernah membacanya. Shahih Fiqih Sunnah sendiri banyak dikaji oleh ustadz-ustadz salafi bahkan dikaji di Rodja TV. 

Demikianlah, minimnya minat membaca adalah penyebab yang kerap kali terjadi vonis tahdzir serampangan tanpa ilmu padahal ustadz mereka sering mewasiatkan bahwa penuntut ilmu apalagi dai minimal 4 jam sehari membaca kitab. 

Kedua, aksi damai bela Palestina yang saya ikuti ialah aksi damai yang diselenggrakan oleh pemerintah (DPR, Menag, Menlu, MUI, Pemprov DKI dan pejabat lainnya). 

Jika orang-orang ini konsisten dengan tahdzirannya kepada peserta aksi damai, maka mengapa mereka diam dan takut mentahdzir para pejabat pemerintah yang menjadi penyelenggara aksi damai? 

Benarlah mereka hanya pengekor hawa nafsu yang dikatakan oleh para ulama bahwa agama murji'ah adalah membebek penguasa. 

Ketiga, saya membuka dialog ilmiah terbuka bagi siapa saja yang mengkritisi aksi damai bela Palestina. Namun mereka ini sudah tidak dikarunia ilmu, ternyata mereka juga diberi musibah sifat pengecut. 

Lihatlah setelah postingan ini, mereka akan kembali memperlihatkan tabiat asli mereka: bicara tanpa ilmu, inkonsisten, dan takut mentahdzir penguasa sebagai khawarij atau hizby karena menyelenggarakan aksi damai, namun bagitu sangar terhadap kaum muslimin yang ikut serta aksi damai bela Palestina dan mereka sifati dengan zhalim sebagai khawarij atau hizby.

(fb)
Baca juga :