Partai Gelora Ingatkan PKS dan Prabowo

Partai Gelora Ingatkan PKS dan Prabowo

Oleh: Erizal 

Terbayang nggak, seandainya PKS pada Pilpres kemarin mendukung Prabowo-Gibran dan Partai Gelora sebagai pecahan PKS, mendukung Anies-Muhaimin? Maka hampir bisa dipastikan, suara PKS yang sekitar 8 persen saat ini, akan pindah ke Partai Gelora dan suara Partai Gelora saat ini akan menjadi suaranya PKS.

Bahkan, Partai Gelora akan mendapatkan suara yang bisa jadi lebih besar daripada suara yang diraih PKS saat ini. Adalah mental pimpinan Partai Gelora awalnya itu sesungguhnya juga oposan. Tokoh seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah akan dielu-elukan pendukungnya dan bukan mustahil melebihi yang lain. Mereka akan bersinar terang. Dan mereka sadar dengan itu semua sejak awal.

Jadi, pilihan mendukung Prabowo-Gibran itu bukanlah pilihan yang pragmatis, tapi pilihan ideologis, setidaknya pilihan yang sadar, bahwa kita tak bisa terus-menerus memanfaatkan emosi massa serampangan hanya untuk kepentingan politik sesaat seperti yang terlihat dipraktikkan NasDem dan PKB. PKB masih mendingan. Alasan Cak Imin diambil sebagai Cawapres sangat masuk akal.

Mestinya PKS mendukung Anies-Muhaimin juga adalah pilihan ideologis, bahkan lebih lagi dari itu. Bukan sekadar pilihan pragmatis hanya memanfaatkan emosi pemilih Islam yang marah saja. Tapi kalau saat ini PKS mengikuti langkah seperti NasDem dan PKB, hendak bergabung dengan Prabowo-Gibran, itu agak mengejutkan. Lalu bedanya di mana? Apa memang sebetulnya sudah tak ada bedanya?

Jadi wajar, kalau Fahri Hamzah mulai menyindir diakun X-nya. Sebagai pengkhianat aku kurang setuju, begitu kicauan Fahri. Bahkan tak hanya Fahri Hamzah, Prabowo pun sebetulnya dicap pengkhianat, oleh massa pemilih PKS ini. Bagaimana bisa mereka sekarang mengendap-endap di tengah orang ramai, mau bergabung ke Prabowo? Bahkan reaksi Sekjen Partai Gelora, Mahfuz Sidik lebih gamblang lagi: "Partai pemecah-belah tak ada tempat di Koalisi Indonesia Maju". Begitulah.

Ini tentu bukan karena takut jatah kue kekuasaan akan berkurang. Seperti yang disampaikan di atas, pilihan mendukung Prabowo-Gibran itu adalah pilihan sadar dan bukan pilihan pragmatis. Ini disampaikan sebetulnya untuk menyelamatkan PKS dan kubu Prabowo-Gibran itu sendiri ke depannya.

(*)
Baca juga :