Beberapa amalan saya yang ternyata perlu saya revisi semasa masih "puber" manhaj

Beberapa amalan saya yang ternyata perlu saya revisi semasa masih "puber" manhaj yang kaitanya dengan puasa bulan Ramadhan, terlebih sejak saya melaluinya di tanah suci. 

1. Membidahkan melafadkan niat. Fakta: sebagian ulama syafiiyah melafadkan niat bertujuan untuk meneguhkan niat. 

2. Mengkritik doa buka puasa Allahumma lakasumtu.. dan menggantinya dengan dhahabaddhama'u.. karena lebih shahih. Fakta : Padahal ke2 doa tsbut sama² dhoif, dan boleh berdoa kebaikan dg lafad apa saja menjelang buka puasa.

3. Membidahkan imsak. Fakta : Menurut Zaid bin Tsabit, Rasulullah memberi jarak waktu antara berhenti sahur dengan shalat adalah sekitar lama bacaan 50 ayat Al-Quran.

4. Bolehnya meneruskan makan sahur ketika sudah terdengar adzan. Fakta : Padahal dalil yg digunakan dalam pendapat ini tidak ada kaitanya dengan puasa, tapi kaitanya dengan shalat jamaah ketika makanan telah dihidangkan secara umum.

5. Menganggap shalat tarawih hanya 11 rakaat saja, karena Nabi tidak pernah melakukan shalat malam lebih dari 11 rakaat. Fakta : memang benar Nabi tidak pernah melakukan shalat malam lebih dari 11 rakaat, tapi itu kebiasaan Nabi di luar bulan ramadhan. Di bulan ramadhan Nabi tidak membatasi jumlah rakaat. Di Masjidil haram dan Masjid Nabawi sendiri shalat tarawih dilakukan jam 22.00 - 24.00 20rakaat, jeda 1jam, mulai lagi qiyamul lail jam 01.00 - 03.00 11rakaat (+witir).

6. Waktu Iedul Fitri tidak bolehnya bertakbir dengan satu suara secara khor. Fakta: Di Masjidil haram takbir dilakukan secara komando dalam 1 suara, lebih khusyu, dan menggetarkan jiwa. Bayangkan kalau tanpa komando, masing² jamaah meninggikan suara, ingin suara takbirnya paling terdengar oleh dirinya, akirnya jadi riuh kacau terdengar.

7. Dll.

Hendaknya semangat menyalahkan amaliyah orang lain diganti dengan semangat menggali literasi dan dari sudut pandang orang lain, semangat memberi udzur dikedepankan dari pada semangat menyalahkan amaliyah orang lain. Sehingga jika kita masih memegang pendapat yang lama dan musti berbeda, minimal kita tidak memandang sinis dan menganggap saudara kita sabagai ahlul batil. Tapi memandangnya dengan penuh rahmat dan welas asih.

Please hindari perkataan "tidak ada dalilnya, tidak ada dasarnya, tidak ada contohnya dari Rasulullah" dan yang semisalnya. Berkata sebagian alim, perkataan seperti ini adalah kesombongan. Seolah dia telah mentelaah semua kitab hadits, toh pernyataan dia cuma nukilan dari seseorang tanpa memverifikasi dari semua kitab yg ada. Ganti saja dengan perkataan "sy belum tahu dalilnya, sy belum tahu contohnya dari Rasulullah" dan yg semisal. Ini jauh dari mengesankan arogan dalam bermanhaj.

(fb)
Baca juga :