Mengapa Pendukung Pak Timbul Tak Punya Rasa Malu?

Oleh: Arsyad Syahrial

Dulu mereka menghina dan jijik sama Sarimin, kini memuja-memuji Sarimin.
Dulu mereka mengutuk kecurangan Sarimin, kini bangga dengan metode Sarimin itu.

Apa yang terjadi?

Well…

Sebenarnya ini awalnya adalah perwujudan penyembahan mereka kepada si Timbul…

Don't get me wrong…!

Ini enggak mengarang-ngarang ya…?

Coba perhatikan ayat suci ini berikut ini, Allōh berkata di dalam firman-Nya:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلٰهًا وَاحِدًا لَّا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang àlimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allōh, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masīḥ putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak diìbādahi) selain Dia (Allōh). Maha suci Allōh dari apa yang mereka persekutukan.”  [QS at-Taubah (9) ayat 31].

"Menyembah" yang dimaksud pada ayat suci ini BUKAN rukū` dan sujūd kepada manusia. TIDAK, bukan itu yang dimaksud, akan tetapi sebagaimana yang dijelaskan oleh Baginda Nabī ﷺ‎ kepada Ṣoḥābat Àdiyy ibn Ḥātim رضي الله تعالى عنه.

Di dalam riwayat, suatu ketika Àdiyy ibn Ḥātim aṭ-Ṭō-i رضي الله تعالى عنه sedang bersama Baginda Rosūlullōh ﷺ‎, lalu Baginda Rosūlullōh ﷺ‎ membacakan QS at-Taubah ayat 31 tersebut kepada Àdiyy.

Àdiyy lalu berkata: "Wahai Rosūlullōh, kami dulu tidaklah berìbādah kepada mereka!" – karena Àdiyy mengira bahwa perìbādāhan itu adalah dalam bentuk rukū` & sujūd.

Lalu Baginda Rosūlullōh ﷺ‎ bersabda:

أَلَيسَ يُحِلُّونَ لَكُمْ مَا حَرَمَ ٱللهُ فَتُحِلُّونَهُ ، وَيُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ ٱلله فَتُحَرِمُونَهُ ؟

“Bukankah mereka mengḥalālkan untuk kalian apa yang Allōh ḥarōmkan dan kalian pun ikut mengḥalālkannya, dan mereka mengḥarōmkan apa yang Allōh ḥalālkan dan kalian ikut mengḥarōmkannya?”

Àdiyy ibn Ḥātim menjawab: "Iya benar…"

Maka Baginda Rosūlullōh ﷺ pun menjawab:

فَتِلْكَ عِبَادَتِهِمُ

“Itulah (yang dimaksud dengan bentuk) perìbādāhan kepada mereka.”

Orang-orang Yahūdi dan Naṣrōnī itu menjadikan ùlamā’-ùlamā’ dan para rahib (ahli ìbādah) mereka sebagai tandingan selain Allōh dalam memberikan ḥukum yang mereka laksanakan sehingga mereka meninggalkan Ṡarīàt yang Allōh turunkan.

☠️ Itulah yang dimaksud dengan penyembah terhadap manusia, membenarkan seluruh perkataannya dan mengabaikan Ṡarīàt yang Allōh turunkan.

Karena itulah mereka menjadi tak tahu malu, karena keīmānannya rusak.

Iya rusak…!

Perhatikan…

Baginda Rosūlullōh ﷺ bersabda:

وَٱلْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ ٱلْإِيمَانِ

“Rasa malu itu adalah salah satu cabang dari cabang-cabang keīmānan.”

Bahkan, rasa malu itu merupakan pembuka segala kebaikan, sebagaimana sabda Baginda Rosūlullōh ﷺ

ٱلحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu itu tidaklah mendatangkan kecuali hanya kebaikan.”

Di dalam riwayat lain:

ٱلْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

“Malu itu adalah baik semuanya.”

Adapun orang-orang yang mau melakukan apapun juga tanpa menimbang rasa malu, maka hal itu telah diperingatkan oleh para Nabiyullōh terdahulu sebagaimana kata Baginda Rosūlullōh ﷺ dalam sabdanya:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

“Sungguh-sungguh di antara apa yang didapatkan manusia dari perkataan para Nabī yang terdahulu adalah: "Kalau kamu tak punya malu, berbuatlah sesukamu! "”

Jadi, rasa malu itu berkaitan dengan keīmānan. Bahkan tidak punya malu, maka rusak keīmānannya.

Kenapa rusak keīmānannya kalau tak punya rasa malu?

Karena kata Baginda Rosūlullōh ﷺ:

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَخُلُقُ ٱلْإِسْلَامِ ٱلْحَيَاءُ

“Setiap agama mempunyai ciri khas aḳhlāk dan ciri khas akhlak Islām itu adalah rasa malu.”

Apakah "rasa malu" yang dimaksud oleh Baginda Rosūlullōh ﷺ itu?

Simak penjelasan Baginda Rosūlullōh ﷺ ketika Beliau ﷺ ditanyakan oleh Ṣoḥābat Àbdullōh ibn Masȕd رضي الله تعالى عنه tentang rasa malu yang sebenarnya:

اسْتَحْيُوا مِنْ ٱللهِ حَقَّ ٱلْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ ٱللهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَٱلْحَمْدُ لِلهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ ٱللهِ حَقَّ ٱلْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ ٱلرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَٱلْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ ٱلْمَوْتَ وَٱلْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ ٱلْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ ٱلدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ ٱللهِ حَقَّ ٱلْحَيَاءِ

“"Hendaklah kalian malu kepada Allōh dengan ṣifat malu yang sebenar-benarnyanya." ; Àbdullōh ibn Masȕd mengatakan, "Kami menjawab, "Wahai Rosūlullōh, sungguh-sungguhnya kami malu?"". Rosūlullōh lalu bersabda: "Bukan seperti itu. Akan tetapi malu kepada Allōh dengan sebenar-benarnya itu adalah hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Siapa saja yang menginginkan kehidupan Āḳirot, maka hendaklah ia meninggalkan perhiasan duniawi, dan siapa saja yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allōh dengan ṣifat malu yang sebenar-benarnya."”

Nah lihat saja…

Apakah ada rasa malu pada orang yang membela orang yang tak punya etika?

Apakah ada rasa malu pada orang yang dulu mencaci maki dan membenci orang yang dulu mencurangi sesembahannya, lalu sekarang karena orang itu mendukung sesembahannya maka langsung dipuja-puji?

Apa ada rasa malu pada orang yang dulu mengutuki kecurangan, namun kini malah menikmati kecurangan yang sama?

Jadi paham kan ya…?

(fb)
Baca juga :