Kisah Dusun Yang Tadinya 100% Muslim, Kini 98% Non-Muslim

Oleh: Widi Astuti (Mualaf Center Kab. Semarang)

Namanya Mbah Suti, usianya 80 tahun. Dia adalah saksi hidup sebuah kampung yang tadinya mayoritas Islam kemudian berubah menjadi non Islam 98%. Alias hampir seluruh warganya berpindah agama.

Saat itu saya mengobrol dengan Mbah Suti cukup lama. Mengobrol di saat hujan deras mengguyur lereng Merbabu. Dan membuat saya tertahan tak sebentar di rumahnya.

Mbah Suti bercerita bahwa dia aslinya dari sebuah dusun teratas di lereng Merbabu. Saat ini dusun tersebut terkenal sebagai dusun mayoritas non muslim.

Ada dua dusun tertinggi di tempat asal Mbah Suti. Sebuah dusun 100% non Islam (Dusun G) dan satu dusun lagi 98% non Islam (Dusun N). Dua dusun tersebut adalah yang tertinggi. Tak ada lagi dusun di atasnya. Yang ada hanyalah kelebatan hutan Merbabu.

Mbah Suti bercerita bahwa dia lahir dan besar di Dusun N. Katanya sewaktu dia kecil, disana ada musholla karena seluruh warganya Islam.

Mbah Suti muda bukanlah gadis yang senang berpetualang ataupun bepergian. Dia hanya fokus di dusunnya saja. Bertani sayur membantu kedua orang tuanya.

Di saat remaja, Mbah Suti dipersunting oleh pemuda muslim dari dusun lain. Yaitu dusun yang terletak jauh di bawahnya. Dan sejak menikah, mbah Suti muda mengikuti suaminya. Alias meninggalkan kampung halamannya.

Dan beberapa saat kemudian, dusun kampung halamannya telah berubah wajah. Dari yang tadinya mayoritas muslim menjadi mayoritas non muslim. Hanya tersisa 2 orang muslim di kampung halamannya.

Mbah Suti bukanlah orang intelek. Sewaktu saya menanyakan faktor apa yang menyebabkan perpindahan agama besar-besaran di dusun asalnya, Mbah Suti tak bisa menjawab. Dia cuma menjawab bahwa jaman dulu dia kecil, semuanya Islam.

Sayapun tak bisa berharap banyak. Dalam arti tak bisa mengorek keterangan lebih lanjut. Karena memang dia tak tau.

Sungguh Mbah Suti dilimpahi keberkahan. Andai dia tak diboyong oleh suaminya, bisa jadi dia termasuk golongan yang ikut gelombang perpindahan agama. Karena Mbah Suti hanyalah tipe perempuan gunung yang tak berani berbeda dengan lingkungan sekitar. Tapi Alloh menyelamatkannya dengan mempertemukan jodoh dari dusun lain.

Meski Mbah Suti hidup sederhana sepanjang hidupnya, tapi itu tak mengapa. Yang penting iman di dada tetap tertanam kokoh. Yang penting bisa Istiqomah dalam iman Islam hingga akhir hayat.

Dan Mbah Suti ini adalah ibundanya Pak Priyono. Mungkin ini salah satu rahasia mengapa Alloh memudahkan bedah rumahnya. Karena disana ada Mbah Suti. Seorang lansia sederhana yang tetap memeluk Dienul Islam di tengah gelombang perpindahan agama besar-besaran di masa mudanya. Saksi hidup kampung halamannya yang hampir seluruhnya berpindah agama.

Dan saya bahagia dipertemukan dengan Mbah Suti. Andai tak mendengar cerita darinya, pastilah saya tak pernah tau kisah dusun asalnya. Ternyata semua ada hikmahnya, masya Alloh... 

(fb)
Baca juga :