Sultan Erdogan?

Sultan Erdogan?

Ramadhan 2015 di sebuah taman Istanbul. Sepasang muda mudi yang dimabuk cinta berciuman penuh syahwat, plus penuh sisa makanan dan bakteri. Di depan publik dan tanpa rasa malu atau tabu saat puasa pula. Mereka berdua hampir pasti Islam biarpun hanya di nama, karena 99% orang Turki mengidentifikasikan diri sebagai Muslim.

Tak di satu taman saja, melainkan dimana-mana. Bule-bule pun bisa melakukan apapun di Turki.

Tahun itu telah berlalu 90 tahun Khalifah Utsmaniyah dihapus. Sekulerisme telah mendarah daging di hati masyarakat Turki.

Tapi siapa sangka presiden negara tersebut adalah salah satu pemimpin Muslim yang paling fasih membaca Al-Qur'an, Recep Thayyib Erdogan.

Bagaimana bisa rakyat yang begitu diberikan pemimpin yang demikian?

Apakah sang pemimpin cerminan rakyatnya? Ataukah dia cerminan dari perjuangan berdarah-darah tanpa lelah?

Erdogan bukan anak pejabat atau orang kaya. Masa kecilnya dihabiskan sebagai pedagang asongan serabutan. Hiburannya adalah menyalurkan hobi bermain sepakbola.

Karir organisasinya pun tanpa privilege. Dibangun dari paling bawah, anggota laskar ormas kepemudaan.

Erdogan menyaksikan sendiri bagaimana berulang kali politik Islam naik lalu dihancurkan. Dari digantungnya Perdana Menteri Adnan Menderes (karena pro Islam) saat Erdogan masih usia 5 tahun, hingga pembekuan partainya sendiri MSP saat Erdogan menjabat ketua sayap pemuda di Istanbul.

Tak ada istilah meratapi, bagi seorang Muslim kewajiban seusai kalah adalah bangkit dan melawan lagi tanpa menyerah.

Erdogan merapat ke gerbong politik Erbakan di tahun 1983. Hingga tahun 1991 mengikuti 3x pertarungan politik namun semuanya kandas.

Pencalonannya dalam pilkada Istanbul menjadi bahan olok-olokan lawan-lawannya. Orang miskin kampung, konservatif dan radikal Islam bagaimana bisa menjalankan kota modern tertua di dunia.

Tapi ternyata gayung politik disambut rakyat yang muak dengan sekuleris garis keras. Makmur tidak, bebas juga tidak, korup iya, kumuh juga iya. Mending pilih yang katanya radikal.

Erdogan naik jadi Walikota Istanbul tahun 1994.

Di tangannya masalah-masalah mendasar diselesaikan. Korupsi ditekan. Masalah air bersih, sampah, polusi, kemacetan dituntaskan dalam waktu cepat. Jembatan baru, jalan baru dan berbagai infrastruktur baru dibangun untuk memperindah kota. Sistem transportasi bobrok dan menyebalkan diganti.

Prestasi pasti diikuti gelombang simpati rakyat.

Namun di tahun 1997 setelah membaca syair "Masjid barak kami, kubahnya perlindungan kami...", kekuatan sekuler menggunakannya untuk memenjarakan Erdogan atas tuduhan menghasut kebencian dan membahayakan negara. Bersamaan itu Erbakan juga digulingkan dari kursi perdana menteri serta partainya dilarang.

Sekali lagi Erdogan menyaksikan politik Islam dihancurkan tak bersisa dengan tuduhan tak masuk akal.

Kekuasaan Turki jatuh sepenuhnya kepada kubu sekuler, baik pemerintahan sipil maupun core negara (militer, intelijen dll).

Di tangan mereka ekonomi Turki malah hancur lebur. Mata uang Lira jeblok. Pendapatan masyarakat terjun bebas hingga 30%. Sepanjang 1997-2001 demokrasi tidak fair, perekonomian juga ambrol.

Kembali bangkit bersama rekan-rekannya, Erdogan mendirikan Partai Keadilan (AKP) tahun 2001. Hanya setahun setelahnya langsung menang pemilu dengan meraup 66% kursi. Abdullah Gul jadi Perdana Menteri. Tak sampai setahun kemudian gantian Erdogan yang jadi Perdana Menteri.

Di bawah pimpinannya ekonomi Turki melejit. Pendapatan rakyat dari 3100 dolar di tahun 2001 meroket jadi hampir 11 ribu dolar di 2008 sebelum krisis finansial global.

Yang terpenting adalah kembalinya kebebasan beragama. Jilbab bisa dipakai lagi di institusi pendidikan dan negara. Lembaga keagamaan resmi negara kembali ada.

Tapi tak selamanya sebuah pemerintahan adalah bulan madu.

Ujian demi ujian, gelombang demi gelombang menghantam kekuasaan Erdogan. Perang di negara tetangga (Suriah), jutaan pengungsi, percobaan kudeta, ISIS, sanksi barat, sekutu Eropa rasa musuh, hingga yang terberat adalah Covid dan krisis ekonomi yang memukul mata uang Lira.
Turki bukan negara kaya sumber daya alam, perdagangannya pun defisit sangat dalam. Andalannya ialah pariwisata untuk menutupi itu. Saat pandemi pariwisata lumpuh, sementara kebutuhan energi yang diimpor jalan terus.

Semua bangsa Muslim yang kesusahan mengharap bantuan Turki, Palestina, Suriah, Uighur. Libya, negara-negara Afrika, Azerbaijan. Bahkan Ukraina juga.

Kemenangan kembali Erdogan di Pemilu 2023, sontak disambut gembira dari Palestina hingga Nusantara.

Erdogan memang bukan Sultan, tapi permainannya telah sekelas Sultan ketika dulu menangani sekaligus Imperium raksasa Inggris, Perancis, Yunani, Rusia, Persia, bahkan mengirim utusan ke Nusantara untuk melawan Belanda.(Pega Aji Sitama)
Baca juga :