MENDUKUNG PAK PRABOWO DENGAN CARA PRABOWO!

MENDUKUNG PAK PRABOWO DENGAN CARA PRABOWO!

Saya merinding menonton video Pernyataan dukungan Jenderal (Pur) Pak Subagyo HS di Pilpres 2024 mendatang kepada Pak Prabowo.

Pak Bagyo dengan lugas menyatakan dukungannya dihadapan ribuan Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya (PPIR) dalam acara halal bil halal di Jogjakarta.

Bahkan Pak Bagyo menyatakan Rumah yang dia tempati, yang dulunya pernah menjadi tempat kediaman Jenderal Besar Sudirman menjadi Rumah Pemenangan Prabowo.

Tapi yang membuat saya merinding adalah mengingat latar belakang Pak Subagyo HS.

Beliau adalah Mantan Ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang dulu merekomendasikan Pemberhentian Pak Prabowo dari TNI kepada Panglima ABRI, Pak Wiranto pada tahun 1998 silam.

Di dalam Surat DKP tentang pemberhentian Pak Prabowo, tanda tangan Pak Subagyo HS berada paling atas. Karena pada masa itu beliau menjabat sebagai KSAD sekaligus Ketua DKP.

Penandatangan lainnya adalah Letjen Fachrul Razi (Wakil Ketua DKP) dan Letjen Djamari Chaniago (Sekretaris DKP). 

Sedangkan anggota DKP adalah Letjen Susilo B. Yudhoyono, Letjen Yusuf Kartanegara, Letjen Agum Gumelar dan Letjen Arie J. Kumaat.

Jadi tidak mengherankan, kalau para Jenderal ini, termasuk Pak Wiranto selalu berada di kubu lawan Pak Prabowo sejak Pilpres 2014.

Bahkan pada Debat Pilpres 2014, Pak Bagyo datang lengkap dengan Jaket Hijau ala militer dan Baret bintang empat bertuliskan Komando.

Konon sebagai kode untuk Pak Jusuf Kalla sebagai Cawapres Pak Jokowi pada masa itu untuk "menghancurkan" kredibilitas Pak Prabowo dengan mempertanyakan prestasi Pak Prabowo di TNI (diberhentikan DKP) dan juga visi-misi tentang Penegakan HAM.

Tapi dengan tenang Pak Prabowo menjawab:

"Sebagai prajurit saya telah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, selebihnya atasan yang menilai. Kalau Bapak bertanya tentang penilaian, tanyakan ke atasan saya," sahut Prabowo menjawab pertanyaan Pak Jusuf Kalla, sambil menunjuk ke arah Pak Subagyo HS.

Artinya Pak Prabowo hanyalah Prajurit yang melaksanakan Perintah atasannya saat itu. Yaitu KSAD, Jenderal Bagyo dan Panglima TNI, Jenderal Wiranto. Dan kedua Jenderal tersebut berada di Kubu pasangan Jokowi-JK pada masa itu.

Aroma "kebencian" dan balas dendam, khususnya dari beberapa senior Pak Prabowo di dua kali Pilpres memang sangat kentara. 

Mulai dari tuduhan Jenderal Islam Garis Keras (padahal keluarga Pak Prabowo banyak Non Muslim) sampai fitnahan sadis seperti tuduhan Jenderal AMH kepada Pak Prabowo sebagai Psikopat dan Gila (sempat dilaporkan ke Bareskrim, termasuk fitnahan Jenderal Agum Gumelar kepada Pak Prabowo).

Tapi mereka semua adalah tentara. Mereka semua adalah sahabat. Dan yang lebih penting, mereka semua adalah manusia. Pasti punya hati dan nurani. Seperti kata pepatah, sebesar apapun kebencian dan dendam, akan luruh dengan kasih sayang dan lenyap berlalu seiring Perjalanan waktu.

Pak Prabowo tidak pernah membalas kebencian dan sikap bermusuhan dari para seniornya. Beliau justru memperlihatkan sikap hormat. Duluan mengulurkan tangan tanda persahabatan.

Pak Prabowo memeluk hangat Pak Bagyo, mencium tangan Pak Try Soetrisno, mendekap erat Pak Wiranto, memberikan hormat dengan sempurna ketika menghadap Pak Agum Gumelar, Pak AM Hendropriyono, Pak SBY, dan juga Jenderal yang lainnya.

Sekalipun semua para Seniornya tersebut tidak pernah bahkan sebagian dari mereka memfitnah beliau dengan kejam di dua kali Pilpres, tapi saya tidak pernah sekalipun mendengar Pak Prabowo marah atau membalas kebencian tersebut.

Yang ada justru sebaliknya. Pak Prabowo segera mengunjungi seniornya yang sakit, menyapa dengan hormat kala bertemu, dan bergegas mendatangi untuk silaturrahmi setelah Idul Fitri.

Saya berkali-kali saya katakan, itulah Pak Prabowo. Berbicara keikhlasan, hanya Prabowo yang mampu menjadi Prabowo. Saya dan kamu tidak perlu mencoba, kita tidak akan mampu, kawan.

Pak Prabowo sudah berkali-kali dikorbankan. Berkali-kali dikhianati. Berkali-kali dimanfaatkan. Beliau berkali-kali ditinggalkan orang yang beliau besarkan. Tapi dengan semangat beliau masih berkata "mereka juga putra terbaik bangsa".

Mungkin banyak yang mencibir sikap beliau itu. Menertawakan keikhlasan beliau itu. Menganggap Pak Prabowo terlalu naif.

Tapi kebaikan cepat atau lambat akan menuai kebaikan juga. Manusia adalah makhluk yang memiliki hati. Pada akhirnya kebaikan akan melembutkan hati.

Pak Try Soetrisno menyebut Pak Prabowo sebagai sosok yang mengerti rakyat.

Pak Wiranto pada akhirnya "menyerahkan" kadernya dari Hanura yang masih setia kepada Pak Prabowo dan mendukung penuh Pak Prabowo untuk Pilpres 2024.

Dan sekarang Pak Bagyo dengan lantang berkata: "PAK PRABOWO LUAR BIASA! TIDAK ADA JALAN LAIN, BESOK PRABOWO JADI PRESIDEN!..."

AAMIIN, AAMIIN YA RABBAL ALAMIN....

(Azwar Siregar)

Baca juga :