MASYARAKAT SAKIT

Sakit

Hari ini, masyarakat kita itu boleh jadi sedang sakit. Parah. 

Hal2 begini, dilakukan dengan begitu terang benderang. Seorang anak mukulin orang lain, bukannya dilerai, eh bapaknya hanya nonton. Entah bagaimana pola pikir keluarga ini dibentuk. Brutal sekali, ditendang, dihabisi, bapaknya selow cuma nonton. Lantas, ehem, ada yg berusaha 'menutupi' kasus ini berbulan2? Cuma nanya loh. Nanti baper ber-jamaah. Bukan main.

Dan ini terjadi dimana2. Dalam kasus2 lain. Anak dimarahi di sekolah, bukannya itu anak dididik, eh gurunya yang digunduli oleh orang tua. Anak dihukum di sekolah, bapaknya ngamuk bawa golok. Masyarakat kita hari ini boleh jadi sedang sakit.

Di negeri ini, hilang ayam, berusaha mencari keadilan, eh malah hilang kambing dan sapi. Berusaha membela hak2, eh malah dibully. Nagih hutang, eh malah jadi tersangka. Berusaha melawan kezaliman, eh bermunculan netizen2 yg malah menghakimi. 

Sementara itu, pejabat2 bergelimang gaya hidup mewah. Termasuk yg seolah sederhana sekalipun. Sibuk membagi2kan sembako, kaos, dll seolah itu duit dari kantongnya, padahal boleh jadi uang rakyat juga. Di medsos, netizen sibuk belain kelompok masing2. Sibuk menyanjung kelompoknya, sambil buas menyalak menyerang kelompok lain.

Di medsos, orang2 mudah sekali mengancam mau membunuh, menghabisi, menghalalkan darah orang lain. Semudah pamer foto pakai kancut di pantai (dan followernya jejeritan bersorak senang memuji2 foto tsb). Produk2 ilegal, bajakan, mudah sekali ditemukan di sekitar. Dan orang2 bangga loh membelinya. Dengan penuh kesadaran, tahu itu jahat, tetap dia hajar saja. 

Yang berkuasa bisa menginjak orang di bawahnya. Yang punya orang dalam dan uang bisa menyingkirkan siapapun. Bukan main, ujung ke ujung hal ini ada. Bahkan urusan masuk SD favorit saja ada. Apalagi di kampus2. 

Hari ini, masyarakat kita boleh jadi sedang sakit. Parah.

Maka semoga, nurani kita masih terjaga. Jangan sampai kitalah pelakunya. 

Catat baik2, misalnya, saat tetangga kita kemalingan. Apa komentar pertama kita yg keluar? 'Makanya dikunci dong rumahnya.' 'Kayaknya karena kurang sedekah sih.' Jika seperti ini komen kita (malah menghakimi korban), astaghfirullah, bergegaslah mencari obat. Pemahaman kita juga sakit. 

*Tere Liye

Baca juga :