Tidak Menikah tapi Bahagia

Gak laku-laku

Saat mampir di toko buku kota Rantauprapat (Sumatera Utara), secara tak sengaja aku melihat buku hijau lecek tak terurus ini tersingkirkan mojok di sudut rak, berdebu, jelek, kusam, nampak aura tak laku-laku karena tak ada peminatnya, harganyapun murah meriah dan remeh-temeh🀭🀭

Karena kasihan aku pungut buku hijau itu, aidahhhh. Pegawai satu toko termehek-mehek melihat aku ingin membelinya. 

Bukan karena apa-apa. Mereka semua sebenarnya risih lihat buku itu, gak percaya atas teori-teori basi di dalamnya. Mana ada gak nikah itu bahagia yang ada malah sengsara, luka dan nestapa. Begitu kesimpulan mereka kira-kira. 

Berapa harganya, tanyaku, mereka clingukan bingung karena bertahun-tahun tak laku-laku, Udahlah 10 ribu aja jawab si kasir seingatku, udah murah itu, dari pada terbengkalai tak laku-laku sia-sia.

Apa hikmah tulisan di atas? Jangankan jomblo yang tak laku-laku terus di bully, bahkan buku yang coba-coba membela pun dijauhi dan tak disukai πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

*Buku Tidak Menikah tapi Bahagia, Syeikh Muhammad Rasyid Al 'Uwaid

(Mhizqil Iqozhimamb)