SHALAT Berdiri di Kereta, Ini Bukan Soal Mempersulit Diri Sendiri, Tapi Soal Keyakinan Pribadi, Hormati!

INI BUKAN SOAL MEMPERSULIT DIRI SENDIRI, TAPI SOAL KEYAKINAN PRIBADI, HORMATI !

Oleh: Ahmed Fikreatif

Di sejumlah kereta sebenarnya sudah ada mushola kecil bisa untuk ber-3. Biasanya Eksekutif. Dan fasilitas ini sudah cukup lama. Lebih dari 5 tahun. Kalau untuk ekonomi tipe formasi kursi 2-3 belum ada sependek yang saya tahu.

Karakter sejumlah penumpang kereta itu macam-macam. Ini yang harus diketahui oleh kita semua biar tidak merasa paling benar sendiri. Ada yang fiqih nya harus shalat dengan berdiri sehingga kalau shalat ya harus berdiri. Dan tempat yang memungkinkan dan tidak terlalu mengganggu orang lain adalah di bordes (ruang dekat persambungan kereta). Alasan lain, karena mungkin ia duduk berhadapan dengan lawan jenis (baca: perempuan), sedangkan kursi sudah penuh. Akhirnya pilihannya ya ke bordes.

Tapi pernah ada juga yang rutin kalau shalat itu di peron stasiun pas kereta berhenti agak lama. Karena kalau ke mushola stasiun terlebih dahulu nanti khawatir tertinggal kereta. Jadi saat kereta berhenti 15 menit di sebuah stasiun, dia keluar ke dekat lokomotif, lalu menggelar sajadah, shalat menghadap kiblat seperti hanya shalat standard normal biasa. Bahkan ia bawa sutrah juga berupa tas atau benda lain.

Selain itu ada juga yang rutin tiap Jumat pasti safar melewati momen Shalat Jumatan. Karena merasa aneh tiap Jumat tidak bisa Shalat Jumatan, akhirnya ia menggelar Jumatan di perjalanan kereta secara rutin tiap Jumat di Kereta Makan (Restorasi). Pesertanya juga banyak. Bahkan para kru kereta (mulai dari kondektur, Polsus, prama, maupun cleaning service) pun ikut serta.

Ada juga yang mencukupkan dengan duduk di kursi penumpang. Ada yang memilih dijamak, dijama'-qashar, bahkan ada yang memilih di-qadha'. Ada juga yang Hurmatil Waqti + qadha selepas tiba di lokasi. Namun, tak sedikit juga yang memilih tidak shalat. 😔

Jadi, ini bukan semata-mata soal mempersulit diri atau riya' dan pamer ibadah. Jadi bukan soal "mempersulit diri" tapi lebih pada pilihan fiqih kali ya..... Bisa jadi sebuah buku tersendiri kalau mau dibahas dan dikupas.

Saran saya, jangan jadi sumbu pendek. Banyak-banyakin piknik jauh supaya bisa memahami pendapat dan keyakinan orang lain yang tidak bisa kita paksakan sesuai dengan pikiran, pendapat, dan keyakinan kita. 

FYI, saya selama kurang lebih 10 tahun naik kereta api tiap pekan bertemu ribuan manusia dengan model macam-macam. Tak jarang kami diskusi ngobrol santai dengan mereka yang jalan pikiran pemahamannya tidak sama dengan saya. Bahkan saya pernah ditanya, "Sampeyan itu Islam-nya model apa mas? NU apa Muhammadiyah? Saya jawab dengan senyuman 😁 saja, walau dia belum merasa terima. 🙈

Orang shalat kok dipermasalahkan. Permasalahkan tuh yang tidak shalat. 

(fb)