[EKSKLUSIF] Serikat Pekerja Morowali Beberkan Kronologi Bentrok di PT GNI: 'Para TKA China Yang Nyerang Duluan!'

[PORTAL-ISLAM.ID]  Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Nasional (SPN) Morowali dan Morowali Utara, Katsaing, membeberkan kronologi kerusuhan di PT Gunbuster Nickel Industri (PT GNI) versi mereka. Menurut dia, banyak orang tidak melihat latar belakang terjadinya peristiwa tersebut.

Katsaing menjelaskan, sebelum mogok kerja dilakukan pada Sabtu pekan lalu, 14 Januari 2023, sebetulnya para pekerja sudah melakukan aksi.

"Sejak 22 September sampai 24 September 2022 kalau tidak salah, teman-teman sudah melakukan mogok (kerja)," ujar Katsaing pada Tempo, Selasa malam, 17 Januari 2023. "Nah, pada saat itu tidak ada kejadian (rusuh), karena TKA (tenaga kerja asing) Cina tidak melakukan upaya-upaya yang mungkin bisa memicu."

Langkah mediasi dan perundingan 

Setelah berdemo, kata Katsaing, tidak ada keputusan pemerintah, baik dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota maupun Wakil Bupati atau Bupati Morowali Utara. Pemerintah daerah tidak bisa mengambil keputusan terkait persoalan-persoalan yang dituntut serikat pekerja. Yang bisa dilakukan hanyalah melakukan upaya mediasi.

“Nah, setelah bergulir, teman-teman menunggu perubahan itu ada, tapi nggak ada. Maka dari itu, teman-teman berinisiatif lagi melakukan mogok kerja di tanggal 11, 12, 13, 14 (Januari 2023),” ujar Katsaing.

Menurut Katsaing, sebelum mogok kerja, sebetulnya ada upaya dari kepolisian untuk melakukan mediasi antara serikat pekerja dengan pihak manajemen PT GNI pada 10 Januari 2023. Namun, pihak manajemen head office (HO) Jakarta PT GNI tidak hadir. 

Pihak manajemen PT GNI lalu meminta perundingan diundur pada 13 Januari 2023 pukul 14.00 waktu setempat. Meski datang terlambat, manajemen HO PT GNI hadir dalam kesempatan itu.

“Namun, manajemen HO pusat GNI mengatakan bahwa kami belum bisa membuat perjanjian bersama itu dikarenakan manajemen PT GNI sampai saat ini belum mengakui keberadaan serikat pekerja/serikat buruh di dalam PT GNI,” tutur Katsaing.

Setelah merasa manajemen perusahaan tidak punya itikad baik atas tuntutan para pekerja, maka dilakukan konsolidasi pada 13 Januari 2023 malam. Baru pada 14 Januari 2023 pagi dilakukanlah mogok kerja yang berujung pada kerusuhan yang menewaskan tiga orang terjadi pada hari itu. 

Akibat keributan tersebut, Katsaing menyebutkan, teman-teman serikat pekerja yang berada di dalam ingin keluar dan bergabung dengan teman-teman yang melakukan aksi mogok kerja di pintu gerbang.

“Namun, ada upaya penghalang-halangan oleh pengawas di dalam, staf, lah gitu," ucapnya.

Para karyawan yang mendapat kabar dari teman-teman dalam itu berinisiatif untuk langsung memastikan apakah betul ada penghalang oleh teman-teman yang ingin bergabung. "Nah, setelah teman-teman ingin memastikan itu, justru mendapat serangan dari pihak Tiongkok, pihak Cina,” kata Katsaing.

Pada saat itu, TKA Cina mulai menghadang dan menyerang karyawan yang ingin memastikan persoalan tersebut. Karyawan itu pun mengalami luka-luka.

“Nah yang terluka itu kan membuat laporan polisi, namun polisi sampai saat ini kan tidak menangkap si pelaku itu, pelaku kekerasan. Kita sudah membuat laporan juga,” tutur Katsaing.

Penyerangan oleh TKA Cina itu, kata dia, tidak dilakukan oleh satu orang, namun banyak orang. Dia bahkan menyebut memiliki video penyerangan tersebut.

“Nah, setelah teman-teman mogok kerjanya itu sudah selesai di jam 5 sore, teman-teman karyawan yang mendapat perlakuan semena-mena dari pihak Cina atau mendapat serangan pemukulan dari Cina itu tahu. Nah, muncul reaksi dari teman-temannya 'lho kok kita di kampung sendiri, kita kok malah dibeginiin. Padahal kita kan nggak pernah memerangi Cina',” ujar Katsaing.

Sebab, kata Katsaing, kalau teman-teman pekerja Indonesia ingin memerangi Cina, sudah dilakukan sejak awal. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.

TKA Cina disebut memulai penyerangan 

Karena diserang, para pekerja beraksi menyerang balik pekerja Cina sampai terjadilah kerusuhan dan keributan yang mengakibatkan hilangnya nyawa pekerja.

Tempo lalu menanyakan kembali, apakah keributan tersebut dipicu oleh penyerangan TKA Cina.  Katsaing menjawab, 

“Iya, mereka yang nyerang duluan. Indonesia itu tidak pernah mau menyerang Cina, ngapain? Seandainya Cina nggak menyerang, nggak akan terjadi apa-apa. Saya yakin itu,” katanya.

Lebih jauh Katsaing menilai, manajemen PT GNI tidak bisa mengorganisir TKA Cina dengan baik, dan tidak bisa memberikan pemahaman dengan baik. Ia pun memastikan pada dasarnya para pekerja asal Indonesia tidak benci dengan orang Cina.

“Kita ini tidak benci orang Cina, ngapain kita benci? Justru mereka itu bila perlu kita rekrut dalam satu wadah serikat, jika memang itu ada aturan yang mengatur. Karena mereka juga terzalimi,” tuturnya.

Adapun tuntutan dari serikat pekerja adalah persoalan ketenagakerjaan yang sudah lama diperjuangkan sebetulnya. 

“Masalah ini sebenarnya sudah lama, persoalan ketenagakerjaan ini. Adapun bahasa-bahasa yang berkembang bahwa ada provokator dan sebagainya, bukan mengarah pada persoalan. Karena kami melihat pemerintah berupaya mencuci tangan, lepas tangan terkait masalah persoalan ini,” ujar Katsaing.

Tempo berusaha menghubungi PT GNI untuk mengkonfirmasi hal ini. Namun, hingga berita ini ditayangkan, permintaan konfirmasi belum direspons. Tetapi, PT GNI telah mengeluarkan keterangan resmi melalui laman resminya.

“Perusahaan juga menyatakan bahwa pemberitaan terkait pemukulan atau penganiayaan oleh Tenaga Kerja Asing asal Tiongkok terhadap Tenaga Kerja Indonesia yang marak di media, termasuk isu terkait adanya kekerasan terhadap pekerja perempuan di GNI, merupakan hal yang tidak benar," tulis Direksi PT GNI dalam laman resminya, Senin, 16 Januari 2023.

PT GNI, dalam keterangan tertulisnya, juga meminta agar masyarakat berhati-hati dalam mengolah informasi atau berita yang beredar, yang simpang siur, yang berpotensi menimbulkan persepsi yang keliru. [tempo]