CAPEK


CAPEK

Oleh: Dewa Eka Prayoga

Saya seringkali dapat curhat dari kawan, alumni, dan followers, isinya:

“Kang, Saya capek, udah bertahun-tahun berjuang, hutang gak lunas-lunas…”

“Kang, Saya capek, udah lama banget menanti keturunan, tapi belum juga Allah kasih…”

“Kang, Saya capek, udah berjuang gila-gilaan bangun bisnis A sampai Z, tapi gagal aja mulu…”

…dan curhat-curhat masalah sejenis.

Maka Saya pun sering mengatakan kepada mereka, “Mas, mba, yang namanya berjuang itu pasti capek. Wajar. Maklum. Maka jangan berhenti. Jangan pernah putus asa…” ✍️

Bukan tanpa alasan Saya mengatakan demikian, karena memang itulah esensi dari sebuah perjuangan. Melelahkan. Keringetan.

Yuk kita lihat fenomena Safa Marwah.

Tentunya Anda masih ingat dong kisah bagaimana Siti Hajar ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dalam kondisi bekal seadanya.

Ya, banyak pelajaran penting dan sangat berharga yang bisa kita ambil dari kisah Siti Hajar ini. Kisah inilah yang dikenal dengan sebuah Safa Marwah, dimana sekarang menjadi rukun syarat sahnya umroh-haji, yakni Sa’i.

Bayangin aja, untuk mendapatkan makanan/minuman, Siti Hajar harus meningalkan Nabiyullah Ismail yang masih bayi di sebuah padang pasir yang cukup tandus. Lantas, apa yang Siti Hajar lakukan?

Ia terus bergerak dengan berlari-lari dan bolak balik dari bukit Safa ke bukit Marwah hingga tujuh kali dengan harapan bisa menemuan makanan atau minuman untuk diberikan pada Nabi Ismail As. Hasilnya, nihil. Ia tidak menemukan makanan atau minuman tersebut di bukit Safa ataupun bukit Marwah.

Anda bisa bayangkan, tujuh kali bolak balik.

Kaki pegel. Kram. Capek. Lemes. Loyo… pasti!

Kebayang dong capeknya gimana…

Jarak antara bukit Safa dan Marwah itu 400 meter. Jadi kalau tujuh kali balikan, tinggal dikali aja, 400 m x 7, hampir 3 kilo meter. Huffh!

Tapi sekali lagi, itulah sunnatullahnya. Yang namanya ikhtiyar, berjuang, atau berusaha itu pasti capek. Wajar. Maklum banget pokoknya.

Bahkan kalau dipikir-pikir lagi nih pake logika manusia, coba perhatiin deh…

Udah tahu nggak ada hasil, eh tetap aja lewat situ. Kalau kita berpatokan pada omongan Albert Einstein, "Hanya orang gila yang mengharapkan hasil berbeda tetapi menggunakan cara yang sama", lha berarti Siti Hajar termasuk orang gila, dong? Tapi, gak gitu cara pikirnya…

“Orang gila bergerak tanpa iman. Orang yakin bergerak dengan iman..."

Ya. Allah berkehendak lain.

Allah justru mengeluarkan air bukan dari bukit Safa ataupun bukit Marwah, melainkan dari tanah tepat di bawah telapak kaki Nabi Ismail As. MasyaaAllah... Ajaib banget. Keajajban!

Hebatnya lagi, air tersebut terus menerus mengalir hingga detik ini dan kita mengenalnya dengan sebutan Air Zam Zam.

Apa pelajarannya?

Bukan tanpa alasan akhirnya Allah menjadikan proses lari-lari kecil dari Safa ke Marwa (Sa'i) sebagai rukun umroh dalam Islam. Kenapa?

Karena Allah ingin menunjukkan kepada kita tentang kisah perjuangan Siti Hajar agar kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari proses Sa’i itu.

Itu pula yang setidaknya Saya alami…

Sebelum akhirnya Allah lunaskan hutang-hutang miliaran, punya lebih dari 50 brands, dititipkan 60.000 pasukan, dan kurang lebih 1000 karyawan di perusahaan, Saya pernah ngalami proses Safa Marwah yang melelahkan. Capek. Lemes. Kram. Keringetan.

Jualan ceker, ditolak pelanggan pas nganter.
Jualan kambing, eh malah sakit-sakitan & mati.
Jualan cemilan, numpuk stoknya di gudang.
Jualan apapun, dinyinyir & dicibir teman seperjuangan.

Ah, pokoknya, capek banget. Lelah…

Tapi lagi-lagi, Saya coba mengimani esensi Sa’i dalam Safa Marwah ini. Kita perlu ambil pelajaran untuk diimani & dipraktekkan.

Jadi.. Apa hikmahnya?

Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Siti Hajar dalam proses Sa'i.

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Kalau diibaratkan:

Siti Hajar = kita.
Safa Marwah = solusi yang diharapkan.
Air Zam Zam = solusi yang diberikan.

Maka, seringkali Allah menghadirkan solusi bukan dari apa yang kita harapkan, melainkan dari apa yang kita butuhkan.

Jalannya gak masuk akal. Tiba-tiba aja. Begitu cara kerjanya. Asalkan kita terus berjuang dengan penuh keimanan dan ketaqwaan. Capek gak apa-apa, lalui saja. Jalani saja. Nikmati prosesnya. Tawakkal maksimal kepada Sang Pemberi Pertolongan.

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Mendoakan terbaik buat kawan-kawan semua…

Semoga siapapun yang sedang berjuang karena Allah, Allah mudahkan, lancarkan, kuatkan. Aamiin…

(fb)