Bahan Khutbah Jum’at: Teman Pemberi Syafaat

Bahan Khutbah Jum’at
Teman Pemberi Syafaat

Oleh: Ustadz Muh. Nursalim 

Syafaat artinya pertolongan. Lebih khusus pertolongan di akherat. Pada hakekatnya pemberi pertolongan adalah Allah. Tetapi kemudian Allah memberi ijin kepada orang tertentu untuk memberi syafaat itu. Sebagaimana disebut dalam ayat kursi berikut.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  [البقرة/255]

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar. 

Ayat ini menjelaskana siapa Allah itu. Salah satu informasi penting bagi manusia adalah pada penggalan ayat ini.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

(Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya)

Jadi, atas ijin Allah orang tertentu akan dapat memberi syafaat. Lalu siapa saja yang memperoleh ijin tersebut. Dalam sebuah hadis yang menceritakan kejadian hari kiamat  Rasulullah saw bersabda:

فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ

Allah berfirman para malaikat memberi syafaat juga para Nabi dan orang-orang yang beriman. (HR. Muslim)

Orang beriman termasuk salah satu pihak yang diberi ijin Allah untuk memberi syafaat temannya. Hal ini dikuatkan dengan ayat berikut ini.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ [آل عمران/103]

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk."

Jumhur ulama tafsir memberi penjelasan bahwa ayat tersebut terkait dengan suku Aus dan Khazraj yang tinggal di Madinah. Kedua klan itu selalu saling menyerang. Itu dilakukan sebelum kedatangan Rasulullah saw. Setelah mereka menganut Islam  menjadi bersatu dalam iman. Allah mempertemankanya menjadi pendukung utama Nabi saw. Itulah kaum Anshar. Pada ayat tersebut ada kalimat begini.

وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا

Sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana.

Menurut imam Al Zujaj dalam tafsir Al Lubab Li Ibni Adil. Penyelamatan itu bukan dari tubir jurang neraka akan tetapi dari neraka itu sendiri. Artinya sebagian mereka sudah masuk neraka kemudian Allah menyelamatkannya. 

• تفسير اللباب لابن عادل - (ج 4 / ص 259)
• قال الزجَّاج : « وقوله : » مِنْهَأ « الكناية راجعة إلى النار ، لا إلى الشَّفَا؛ لأنَّ القصد الإنجاء من النار لا من شفا الحفرة » .

Berkata Az Zujaj, dan ayat “Minha”, dhamir ha ini kembali kepada neraka bukan tubir neraka, karena maksud penyelamatan dari tubir neraka itu hakekatnya adalah dari neraka bukan dari tubirnya.

Yang juga menarik, bahwa penyelamatan itu terjadi setelah mereka menjadi kawan seiman. Karena itu dalam tafsi Al Baghawi, Imam Hasan Al Bashri menganjurkan kepada kaum muslimin untuk memperbanyak kawan yang beriman. Karena kawan beriman itu akan memberi syafaat di hari akherat.

تفسير البغوي - (ج 6 / ص 120)
قال الحسن: استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

Berkata Hasan Al Bashri, Perbanyaklah kawan yang beriman karena mereka akan memberi syafaat di hari kiamat.

Pendapat itu dikuatkan dengan hadis panjang yang menceritakan bagaimana orang yang beriman menceri kawannya di neraka dan menyelamatkannya atas ijin Allah. 

• صحيح مسلم - (ج 1 / ص 115)
• حَتَّى إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِى اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ فِى النَّارِ يَقُولُونَ رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ. فَيُقَالُ لَهُمْ أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ. فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثيرًا قَدْ أَخَذَتِ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا مَا بَقِىَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ

Nabi bersabda, hingga ketika orang-orang beriman selamat dari neraka. Demi jiwaku di tangan Nya. Tidak ada yang lebih gigih di antara kalian melebihi orang mukmin yang menyelamatkan teman-temannya dari neraka. Mereka bertanya kepada Allah, “Ya Allah kawan-kawan kami itu dahulu puasa bersama kami, sholat bersama kami dan haji bersama kami. Mengapa tidak ada di surga?”. Allah berfirman, “Keluarkan siapa saja yang kamu kenal”. Hingga wajah mereka diharamkan dari api neraka. Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.” (Hr. Muslim)

Semoga pertemanan kita adalah yang saling memberi syafaat di hari kiamat. Amin.

(*)