"Taz, itu yang umroh pada selfie. Itu riya ya?"

"Taz, itu yang umroh pada selfie. Itu riya ya?". Tanya mereka. 

"Bukan, itu lagi promo travel. Agar kaum muslimin gak salah pilih travel. Menunjukkan travelnya bukan abal-abal." Jawab saya. 

"Taz, kok para ustaz senang nge-Vlog dan foto-foto jalan-jalan yah. Apa itu riya ya?"

"Bukan. Itu sedang menunjukkan bahwa mereka baik-baik saja. Mereka sehat dan bahagia. Sedang mencontohkan kepada ummat agar gembira dan tidak stres. Sembari memasukkan nilai-nilai islami di dalamnya, berupa pesan-pesan dakwah. Mereka tak mau ummat sedih dan stres."

"Taz, itu Imam pada riya sekarang ya. Kalau ngimamin suka memvideo sendirinya?!"

"Bukan. Itu untuk menuhin medsos dengan tilawah, bukan dengan musik. Sedang mencontohkan bacaan yang benar. Sedang mencontohkan jadi Imam yang benar."

"Taz, itu para ustaz mulai pasang gelar-gelar di belakang namanya. Sudah mulai pamer ya?"

"Bukan. Mereka begitu karena amanah ilmiah. Bahkan bila perlu mereka pasang plang di rumahnya dengan tulisan: 'Ahli Qiraat, Ahli Fikih, dll'. Agar ummat tak salah alamat dalam mengambil ilmu, agar mengambil dari pakarnya."

"Taz, sebagian Thalib suka becanda-becanda di medsos. Suka bagi-bagi foto makanan segala. Itu gak bener ya, Taz?"

"Bukan. Itu sedang menunjukkan kebahagiaan, agar yang lain juga ikut bahagia. Jika menunjukkan aib dan kemelut hidup terlarang menurutmu, mangapa menunjukkan kebahagiaan juga terlarang? Adapun makanan enak yang ia posting itu sedang mempromokan dagangan kaum muslimin. Itu kan keren."

"Taz, itu orang sok ngustaz/ngustazah. Postingannya tentang dakwah melulu."

"Bukan. Itu sedang berupaya memenuhi beranda dengan kebaikan. Apa kamu mau isi berandamu penuh sama video-video buruk, foto-foto jelek, kata-kata jahat dan jorok? Selain itu mereka berupaya menambah pahala karena mereka sadar bahwa bekal kita sedikit untuk akhirat, maka memanfaatkan kebaikan sekecil apapun akan diperjuangkan. Siapa tahu bisa masuk surga gegara postingan."

***

Jika mau menuruti syahwat su'udzan mu, maka kau bak berlayar di samudera tak berujung. Kau lelahkan dirimu, dan merusak bahagiamu sendiri. 

Namun, jika husnuzan yang kau ikuti, kau bak berdiri di padang rumput luas. Menengadahkan wajah ke langit sembari merasakan sensasi sejuk rintik hujan yang jatuh. Menarik napas segar kehidupan sedalam-dalamnya. Tersenyum dengan kelapangan hati dibuatnya. Bahagia dan memandang bahwa kaum muslimin baik-baik saja.

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱجۡتَنِبُوا۟ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمࣱۖ

"Wahai hamba-hamba Allah yang beriman, jauhi kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa..." [Surat Al-Hujurat: 12]

(Ditulis oleh Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, M.A.)