Lautan Merah Menanti Sejarah

Lautan Merah Menanti Sejarah

Stadion Al Bayt akan diserbu oleh pendukung Maroko. Mereka menjadi pemain ke-12 yang bisa menambah kekuatan pasukan Singa Atlas dalam menghadang Prancis di laga semifinal Piala Dunia 2022 dinihari nanti. Mereka menanti terciptanya sejarah baru.

***

LIBUR akhir tahun belum tiba. Namun Bandar Udara Mohammed V di Casablanca, Maroko, dikabarkan telah disesaki calon penumpang. Tujuan mereka rata-rata sama, ke Doha, kota yang menjadi tuan rumah pertandingan semifinal Piala Dunia 2022, yang mempertemukan tim nasional Maroko dengan Prancis pada dinihari WIB nanti.

Keberhasilan pasukan Singa Atlas—julukan Maroko—menciptakan euforia bagi penduduk negeri magribi. Peluang ini ditangkap dengan manis oleh maskapai penerbangan. Royal Air Maroc membuka penerbangan sebanyak 30 kali dalam dua hari, yakni kemarin dan hari ini.

Ongkos untuk perjalanan pergi-pulang yang biasanya mencapai belasan juta rupiah pun dikorting menjadi hampir setengahnya saja. 

“Agar banyak orang Maroko mendukung tim nasional,” begitu bunyi iklan di sana. Tiket pun ludes sejak Sabtu pagi lalu.
Dengan 30 penerbangan berkapasitas sekitar 310 penumpang tiap pesawat, setidaknya akan ada 10 ribu suporter baru di Qatar. 

Jumlah ini mendekati total warga Maroko yang menetap di Doha, yakni 13 ribu orang.

Mereka belum tentu bisa masuk dan menonton langsung pertandingan di Stadion Al Bayt. Menilik pertandingan perempat final melawan Portugal, jumlah tiket yang disediakan untuk pendukung Maroko cuma 5.000. Sedangkan hampir semua loket penjualan telah tutup karena tiket sudah ludes terbeli sejak jauh-jauh hari.

Meski demikian, Hakim Ziyech cs tak akan kekurangan pendukung. Dengan mengusung semangat negara Arab dan Afrika, penonton lokal dan warga negara tetangga hampir bisa dipastikan akan mengenakan pakaian dan atribut bernuansa merah marun—warna dominan seragam Maroko. Mereka akan membuat Al Bayt menjadi lautan merah.

“Bila sebelumnya hanya orang Maroko yang mendukung kami, sekarang orang Afrika dan Arab juga bersama kami,” kata Walid Regragui, pelatih Maroko. Mereka yang hadir di stadion, dia melanjutkan, akan menjadi pemain ke-12 untuk timnya.
Tuah suporter dari negeri magribi telah terbukti saat mengalahkan Spanyol. Para pemain Spanyol disambut cemooh para penonton Maroko yang serasa menjadi tuan rumah. Walhasil, upaya manajer Luis Enrique yang telah mempersiapkan pemainnya dengan latihan seribu tendangan penalti menjadi sia-sia. Satu hal yang mereka lupakan: suasana stadion yang tiba-tiba angker.

Kehadiran para penonton itu akan menjadi penekan bagi Prancis. Di atas kertas, sang juara dunia tentu saja unggul. Penyerang Les Bleus, yakni Olivier Giroud dan Kylian Mbappe, tercatat sebagai pencetak gol terbanyak dengan total sembilan gol.

Namun, menghadapi Maroko, pelatih Didier Deschamps harus banyak berpikir untuk merangsek ke wilayah pertahanan lawan. Seperti dalam dua laga terakhir, yakni saat melawan Spanyol dan Portugal, pasukan Singa Atlas menumpuk banyak pemain di tengah, melakukan pressing ketat, dan sesekali melancarkan serangan balik yang cepat.

Strategi itu sekilas tampak sederhana, tapi sukses merobohkan raksasa-raksasa Eropa, termasuk Belgia. Saat menundukkan Spanyol, Maroko hanya memiliki 23 persen penguasaan bola. Namun, ujung-ujungnya, juara Piala Dunia 2010 itu tersingkir lewat adu penalti.

Pun ketika mereka membuat Cristiano Ronaldo menangis sesenggukan di babak perempat final. Sekali lagi, penguasaan bola mereka rendah, yakni 27 persen. Namun, lewat serangan kilat, Youssef En-Nesyri bisa mencetak gol dalam duel udara dengan Ruben Neves dan kiper Diogo Costa. Portugal pun pulang lebih cepat.

Walid Regragui menjadi otak permainan Maroko. Meski mengidolakan Pep Guardiola—yang sama-sama plontos— di lapangan Regragui menerapkan strategi yang lebih mirip dengan yang biasa dimainkan Diego Simeone, pelatih Atletico Madrid; dan Carlo Ancelotti dari Real Madrid. Keduanya akan melakukan apa pun untuk menang, meski dengan gaya berbeda.
Didier Deschamps memuji raihan lawannya itu. “Mereka pantas mendapatkannya. Namun, dalam laga semifinal ini, tentu mereka juga berpikir seperti kami, ingin memenangi laga ini,” katanya. “Kami akan mempersiapkan laga ini dengan sebaik-baiknya.”

Deschamps berangkat ke Qatar dengan segudang masalah. Duo pilarnya di lini tengah, N’Golo Kante dan Paul Pogba, mengalami cedera panjang. Belakangan, Karim Benzema, penyerang senior yang baru meraih gelar pemain terbaik dunia 2022, terpaksa angkat koper dari Qatar akibat cedera paha saat berlatih.

Namun kehilangan pemain-pemain inti justru memantik ide brilian Deschamps. Antoine Griezmann, 31 tahun, penyerang andalan mereka saat menjuarai Piala Dunia 2018, digeser menjadi gelandang serang di belakang Giroud. Hasilnya, bintang Atletico Madrid itu menjadi pemain penuh kreativitas yang membongkar celah pertahanan tim lawan dan menderaskan alur serangan.

Kelihaian itu juga yang harus ia tampilkan saat berhadapan dengan Sofyan Amrabat. Bek Maroko yang membela klub Fiorentina itu selama ini menjadi tembok yang sulit dilalui pemain lawan dalam melakukan serangan. Selain itu, dia lihai merebut bola. Dua gelandang muda Spanyol, Gavi dan Pedri, dibuat frustrasi.

Kerja keras juga harus dilakukan Kylian Mbappe. Kali ini dia akan menghadapi lawan tangguh bek kanan bernama Achraf Hakimi. Keduanya berteman baik di Paris Saint-Germain di Liga Prancis. Namun, dalam laga kali ini, mereka harus sejenak melupakan persahabatan itu. “Saya harus menghancurkannya,” kata Mbappe bergurau.
Maroko datang ke Qatar sebagai tim anak bawang, menjelma menjadi kuda hitam, dan sekarang berdiri sejajar dengan juara dunia. 

“Ini adalah pertandingan yang serius. Kami berharap dapat mempersulit mereka dan lolos ke final,” kata Jules Kounde, bek kanan Prancis.

Melewati hadangan Maroko bukan tugas mudah bagi Kounde cs. Sebab, yang mereka hadapi bukan hanya sebelas pemain di lapangan, tapi juga puluhan ribu penonton di Al Bayt yang terus menyuarakan teror sepanjang pertandingan. 

Dinihari nanti, dunia menanti jawaban adakah sejarah tercipta: Maroko lolos ke final. Ataukah mereka bernasib sama dengan Korea Selatan yang secara mengejutkan melaju sampai semifinal di Piala Dunia 2002, tapi akhirnya kandas di kaki Jerman?

(Sumber: Koran TEMPO)