DEMONSTRASI GULINGKAN XI JINPING, ADA APA DENGAN CHINA?

Bermula dari "Revolusi Toilet", yakni gerakan protes sekelompok orang prodemokrasi terhadap sidang Partai Komunis China (PKC) ke-20 yang telah mengganti Konstitusi Negara terutama periodesasi masa jabatan presiden yang semula hanya dua periode berubah menjadi tiga periode, plus terpilihnya kembali Xi Jinping ---Sekjen PKC--- sebagai presiden kali ketiga di China.

Protes kecil tersebut dinamai "Revolusi Toilet" karena kentalnya rasa takut warga menyuarakan aspirasinya sehingga aksi protes cuma dituangkan dalam tulisan-tulisan di (dinding) toilet. 

Fenomena ini mirip modus mural di Indonesia. Yakni aksi coretan di dinding sebagai protes warga terhadap (kebijakan) rezim penguasa namun tidak dengan turun di jalan dalam ekspresi unjuk rasa, tetapi melalui mural, tulisan dan coretan di dinding. Dan mural bukanlah corat-coret kasar lagi liar. Berbeda dengan Revolusi Toilet, protes lewat mural ada sentuhan seni. Bisa dinikmati keindahan corat-coretnya.

Kembali ke topik. Ketika gaung Revolusi Toilet melemah bahkan menghilang di publik, sekarang muncul lagi aksi massa yang kian hari semakin meluas di China. 

Demonstrasi tersebut dipicu kebijakan Zero (nol) Covid-19 oleh rezim PKC (Partai Komunis China). Tidak masuk akal. Pemerintahan manakah yang mampu membuat zero perkembangan Covid di negaranya?

Ya, meski isu Zero Covid tersengat bau "hidden agenda" (agenda tersembunyi) terkait mapping geopolitik di China. Nanti diulas pada lain tulisan agar lebih fokus. Mari kita lanjutkan cerpen kecil ini.

Tidak disangka. Kebijakan Zero Covid yang diterbitkan Xi Jinping menimbulkan reaksi keras dari warga. 

Pembatasan kebebasan warga dalam ujud penguncian alias lockdown membidani kekurangan makanan akibat distribusi tak lancar, misalnya, atau fasilitas medis tidak memadai, ataupun mall-mall menjadi sepi dan lainnya, gilirannya penduduk Xinjiang frustrasi akibat lockdown ketat selama tiga bulan lebih. Ada beberapa laporan kelaparan muncul karena pengiriman bahan makanan tidak beres. Apalagi ketika ada 10 orang tewas dalam kebakaran apartemen akibat terjebak lockdown di Arumqi, Xinjiang.

Kebijakan Zero Covid oleh rezim PKC menimbulkan demonstrasi anti-lockdown merebak di China. Tidak hanya di Xinjiang, hukum aksi-reaksi pun menggetar di daerah sekitarnya. Melebar lagi meluas.

Ibarat orang berkebun, seandainya Revolusi Toilet hanya menebar benih di ladang. Seperti melempar isu sebagai pintu pembuka, dan demonstrasi besar anti-lockdown ialah penebalan isu. Entah sebagai tema atau agenda lanjutan usai Revolusi Toilet, demonstrasi kini berlangsung secara masive dan meluas. Agaknya, tunas-tunas "musim semi" mulai merekah di Negeri Tirai Bambu.

Lebih unik lagi, bahwa dalam aksi demonstrasi ---katakanlah: "China Spring"--- isu yang diusung massa pun berubah. Ini menarik. Massa tak lagi mengusung topik anti-locdown, tetapi berganti menjadi dua isu aktual yaitu, pertama, turunkan Xi Jinping; dan kedua, bubarkan PKC.

Sungguh luar biasa!

Jika melihat aksi di negara lain bertema turunkan presiden, misalnya, atau bubarkan partai penguasa -- mungkin sudah biasa. Tetapi, ini terjadi di Negeri Tirai Bambu yang terkenal tertutup lagi represif. Maka demonstrasi ber-isu turunkan Xi Jinping dan bubarkan PKC, sungguh peristiwa geopolitik yang spektakuler.

Selamat datang China Spring!

(Oleh: M Arief Pranoto)