China Licik... Biaya Kereta Cepat Bengkak Gara-gara China Salah Hitung di Proposal, Yang Nanggung Indonesia

Biaya Kereta Cepat Bengkak Gara-gara China Salah Hitung di Proposal

*Catatan: T Gusmand

Sedikit review mengenai kesalahan perhitungan proposal kereta cepat ini. Kebetulan gw udah puluhan tahun bikin proposal teknis dan komersial untuk proyek-proyek seperti ini.

Normalnya untuk proyek yang bernilai besar vendor diminta mengirimkan teknikal proposal dulu. Setelah teknikal proposal dikirimkan oleh vendor ke buyer/user. Buyer/user akan mengundang vendor untuk mempresentasikan proposalnya didepan tim buyer/user. Step ini biasa disebut "Technical Presentation". 

Pada saat itulah tim buyer/user bersama dengan tim vendor harus mereview semua item. Kalau ada item yang meragukan (dispute) atau kurang maka buyer/user harus meminta klarifikasi. Dan vendor harus mengkonfirmasi dan membuat statement bahwa semua item sudah termasuk/tercover didalam proposalnya. Statement itu bisa diminta masukan dalam teknikal proposal dan di minutes of meeting of technical clarification.

Atau kalau pihak buyer/user belum berpengalaman bisa menyewa konsultant yang sudah berpengalaman sebagai advisornya untuk mereview proposal yang dibuat vendor apa memang sudah memenuhi semua requirement yang dipersyaratkan. Jadi si konsultan lah nanti yang akan bertanggung jawab.

Atau kalau buyer/user mau main aman, diminta skema "turn-key proyek". Dimana dalam skema turn-key proyek ini kalau ada kekurangan dalam proses konstruksi nanti dan tidak tercover dalam proposal, maka pihak vendor wajib menyediakan "tanpa tambahan biaya". 

Statement ini pengunci kesalahan hitung dan bisa diminta masukkan dalam klausul commercial proposal yang ditawarkan setelah review technical proposal selesai.

Jadi salah hitung proposal ini tanggung jawab dua belah pihak yaitu pihak China dan Pihak Pemerintah Indonesia. 

Di kasus ini sepertinya, pihak Chinanya licik dan tidak mau menanggung kesalahan perhitungan dalam proposalnya dan pihak pemerintah sendiri tidak menguasai permasalahan teknikalnya, sehingga mudah dikibulin.

(*)