Sekapur Sirih Amien Rais: Adhie Massardi, Istiqomah Membuat Gusar Rezim

[PORTAL-ISLAM.ID]  Antologi puisi Pengantar Pergantian Kekuasaan menjadi jejak konsistensi Adhie Massardi sebagai seorang wartawan senior sekaligus intelektual kampus yang terus menyuarakan perjuangan demokrasi, sebuah kata yang kini hampir tinggal nama.

Melalui antologi puisi terbitan Booknesia (RMOLNetwork) setebal 254 halaman, Adhie Massardi tetap istiqomah memperjuangkan demokrasi yang sesungguhnya, demokrasi yang bukan hanya berisi otoritarianisme.

Demikian disampaikan tokoh politik nasional, Amien Rais memberikan pengantarnya dalam antologi puisi Pengantar Pergantian Kekuasaan yang telah diluncurkan di Jaya Suprana School of Performing Arts, Mall of Indonesia, Jakarta Utara, Kamis (10/11).

"Sajak-sajak dalam buku kumpulan puisi Pengantar Pergantian Kekuasaan ini ditulis oleh wartawan yang sangat paham hakikat kekuasaan yang sering melahirkan: ketakaburan; demi kekuasaan harus berbohong dan berjanji kosong; hak-hak rakyat diinjak-injak demi sujud di depan cukong," kata Amien Rais.

Mayoritas sajaknya, kata Amien Rais, kian menunjukkan keistiqomahan Adhie Massardi yang pernah berada di jantung kekuasaan di era Presiden Andurrahman Wahid atau Gus Dur.

Mulai dari "Pada Sebuah Revolusi" (1998), "Aku Ingin Menulis Puisi yang Bisa Berantas Korupsi" (2012), "Anak-anak Revolusi" (2014), "Sajak Para Cendekiawan" (2012), dan "Berhentilah Memborgol Teman-teman Saya" (2020).

"Yang membuat gusar rezim , saya kira, adalah baris-baris 'anak-anak memang harus turun ke jalan karena di sanalah mereka tentukan masa depan' (sajak Berhentilah Memborgol Teman-teman Saya). Maksudnya, People Power Jilid II?" ujar Amien.

"Bravo! Mas Adhie," demikian Amien Rais.

Antologi puisi "Pengantar Pergantian Kekuasaan" diluncurkan di Jaya Suprana School of Performing Arts, Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis sore (10/11).

Selain Amien Rais, tokoh politik nasional lainnya turut hadir, di antaranya Gatot Nurmantyo, Priyo Budi Santoso, Bachtiar Chamsyah, Jumhur Hidayat, Ubeidillah Badrun, Arief Puyouno, Suryo Prabowo, Refly Harun hingga Kak Seto.

Antologi puisi ini diterbitkan Booknesia dengan berisi 120 sajak karya mantan Jurubicara Presiden Gus Dur ini. [RMOL]