Anies Baswedan Diusung Partai TAPI Tidak Jadi Budak Partai. Itu FAKTA!

Oleh: DR. Moeflich H. Hart (Akademisi)

Anies Baswedan diusung partai tapi tidak jadi budak partai. Itu fakta yang diungkapkan Eep S. Fattah. Anies memang terbukti membangun dengan prestasi, keberanian dan ketegasan.

Adakah selevel gubernur di Indonesia mampu menghentikan proyek besar oligarki seperti reklamasi Jakarta, saat negara justru tunduk tak berdaya pada oligarki?

Itulah tepatnya harapan rakyat pada Anies untuk memimpin Indonesia kelak karena Indonesia membutuhkan pemimpin seperti itu. Indonesia membutuhkan sosok negarawan bukan politisi. Negarawan itu berpikirnya negara, politisi berpikirnya partai dan kelompok politiknya. Berpikir tentang Anies bukan berpikir politik tapi berpikir negara.

Yang tak suka Anies, berpikirnya pasti politik: Persaingan kelompok. Apalagi kalau bukan itu? Maka muncullah sekarang sebutan pada Nasdem menjadi Nasdrun, Nasdem-Kadrun. Itulah pikiran politik. Negarawan akan di-frame sedemikian rupa sebagai politisi.

Kalau berpikirnya negara yang dicari dan didukungnya pasti negarawan. Kalau yang mempolitisi Anies itu partai yang tak mengusung dia, wajar karena mereka bersaing kepentingan kursi dan jabatan, tapi kalau rakyat, masyarakat bukan anggota dan loyalis partai, mahasiswa, aktivis, akademisi, pengusaha, pengamat, intelektual, guru, dosen, kalangan ormas berpikirnya politik, seolah dia orang partai, ini aneh. Mereka yang begitu, bisa diasumsikan sebagai bukan orang partai tapi mentalitasnya budak partai.

Kalau rakyat dan masyarakat bukan orang partai, buat apa berpikir dan beremosi partai? Apa untungnya? Bukankah yang sehat itu mereka berpikir negara?

Bila kapasitas dan prestasi Anies itu semuanya ada pada Abu Janda, maka keberpihakan pun haruslah pada Abu Janda. Itulah akal sehat orang non partai. Itulah pikiran dengan basis argumentasi bukan sentimen dan emosi. Cirinya adalah sikap mental terbuka.

(fb penulis)