Ketololan Yang Hakiki

Ketololan yang hakiki

Alkisah, tahun 2013, setahun sebelum pemilu, Tere Liye menerima request. Seorang politisi yg juga ketum sebuah partai, ingin dibuatkan novel kisah hidupnya. Nanti dicetak banyak2, dijual, disebar, wah banyak rencananya. Tolong dibuatkan ceritanya dramatis, penuh inspirasi, bla bla bla.

Maka, jawaban sy sederhana, 'Berapa sih kalian mau bayar Tere Liye? Sorry, kalau cuma 1 milyar, tidak usahlah repot2 bahkan utk bertanya. Sy tdk tertarik'.

Itu sebenarnya tdk melanggar UU, peraturan, hukum. Malah kesempatan baik, dapat duit, buku2nya juga dijual. Itu halal sih. Tapi itu pelanggaran serius atas prinsip kepenulisan sy. Tere Liye itu tdk menulis buku atas pesanan orang lain, apalagi pesanan kelompok politik, wow deh. Tidak mau. Silahkan saja penulis lain yg mau, tapi sy tidak. 

Berapa sih harga prinsip2 hidup kita? Murah? 

Hakim Agung dalam kasus KPK ini, jika betulan terbukti menerima 800 juta utk mengurus kasus, dia jelas bego! Seriusan, hanya 800 juta? Alangkah rendahnya harga diri, marwah kehidupannya? Demi uang yg receh itu, bersedia menjual keadilan, profesi, kejujuran, dsbgnya.

Adik2 sekalian,

Semoga besok lusa kalian tumbuh besar menjadi orang yg gagah perkasa dgn prinsip hidupnya. 

Tidak apa miskin, tdk apa hidup seadanya, tapi demi Allah, jangan mau terima suap, menyuap, korup, mencuri, dll. Tidak apa susah payah belajar, seleksi, dll yg penting tdk curang, dll.

Jadilah orang2 dgn prinsip hebat tersebut dik. Karena sungguh, hidup ini cuma sandiwara saja. Kelak saat kita mati, kehidupan di dunia ini bagai sekejap mata. 

Sayangnya, kita tdk bisa bertanya kepada orang2 yg sudah mati. Kalau bisa, maka mereka bisa menceritakan jika semua itu tdk dusta. Ada hari penghabisan. Ada hari semua dihitung kembali seadil2nya.

Well, kalaupun kalian tdk percaya jika surga dan neraka ada, ketahuilah, MATI adalah nyata. Sudah banyak buktinya, orang2 mati, dan tdk kembali lagi. Bahkan Einstein, tdk bisa membantah MATI!

Jangan jual prinsip hidup kita begitu murah. Karena saat kita mati, tdk ada lagi kesempatan memperbaikinya.

(By Tere Liye)

*fb