Cerita Muhammad Agung Hidayatullah: Terjerumus Bjorka di Media Sosial

Terjerumus Bjorka di Media Sosial

Muhammad Agung Hidayatullah (MAH), 21 tahun, sengaja membuat akun kanal Telegram bernama Bjorkanism pada 8 September lalu. Pemuda asal Dusun Mawatsari, Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan, Madiun, Jawa Timur, itu membuat Bjorkanism sebagai wujud simpatinya terhadap berbagai unggahan Bjorka, akun anonim yang mengklaim sudah meretas data pribadi penduduk Indonesia di sejumlah lembaga.

Mula-mula Agung hanya berusaha bergabung di kanal Telegram privat milik Bjorka, yang diketahuinya di media sosial. “Tahunya dari channel Telegram. Terus saya coba search, ternyata ada link grup privatnya,” kata Agung, Ahad, 18 September 2022.

Setelah bergabung di grup Telegram privat milik Bjorka itu, Agung terinspirasi untuk membuat kanal serupa, yang dinamai Bjorkanism. Ia membuat grup kanal Telegram itu menggunakan telepon seluler miliknya.

Dia terdorong melihat cara Bjorka, yang memberi tahu lebih dulu materi yang akan diunggahnya di grup Telegram. Setelah itu, Bjorka betul-betul mengunggah data-data tentang materi tersebut.

Agung lantas meneruskan berbagai informasi yang terdapat di kanal Telegram milik Bjorka itu ke kanal Bjorkanism yang dikelolanya. “Saya copas (copy-paste) kata-kata dia di grup privat. Saya nge-fans (dengan Bjorka),” ujarnya.

Ada tiga tulisan yang disalin Agung dari kanal Telegram Bjorka ke Bjorkanism. Pertama, tulisan pada 8 September 2022 yang berbunyi “Stop Being Idiot”. Satu hari berikutnya, Agung mengunggah kalimat, “The next leaks will come from the President of Indonesia.”

Kalimat ketiga Bjorka yang disalin Agung ke Bjorkanism pada 10 September yaitu, “to support people who are struggling by holding demonstration in Indonesia regarding the price fuel oil. I will publish MyPertamina database soon.”

Tiga buah unggahan di akun Bjorkanism itu ternyata menarik perhatian netizen. Dalam tiga hari unggahan itu, pengikut Bjorkanism sudah mencapai 60 ribu. “Ternyata jadi ramai,” kata anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Jumanto dan Suprihatin ini.

Tiga unggahan Agung di Bjorkanism ikut dibahas di grup Telegram privat milik Bjorka. “Di-mention di grup, lalu Bjorka bertanya dalam bahasa Inggris, ‘Yang pegang channel ini siapa? Saya kasih DM (direct message) dan uang US$ 100, bentuknya bitcoin’,” kata Agung, yang menirukan pernyataan tertulis Bjorka di grup Telegram tersebut.

Agung tertarik pada tawaran Bjorka itu. Lulusan madrasah aliyah pada 2020 ini lantas mengirim pesan langsung atau DM ke Bjorka. Selanjutnya, Agung dan pemilik akun Bjorka berkomunikasi lewat pesan langsung tersebut.

“Sempat DM-an dan dia (Bjorka) minta e-wallet  (dompet digital). Saya sudah dapat uangnya, Rp 1,4-1,5 juta,” ujar Agung. “Uangnya sudah habis (digunakan). Seingat saya, uang saya terima tanggal 10 September ini.”

Setelah menerima uang tersebut, ia tak lagi mengelola grup Telegram Bjorkanism. Pengelolaan akun Bjorkanism kemudian berpindah ke Bjorka.

Pada 14 September, akun Bjorkanism menginformasikan bahwa ia membutuhkan penerjemah tiga bahasa, yaitu Polandia, Inggris, dan Indonesia. Akun itu meminta pihak yang tertarik untuk menghubunginya.

Ponsel Agung Dibeli Pria yang Mengaku Tentara

Agung tak menyadari bahwa komunikasi dengan pemilik akun Bjorka dan tiga unggahan dia di Bjorkanism akan membuatnya berurusan dengan polisi. Dua hari lalu, Polri menetapkan Agung sebagai tersangka karena diduga terafiliasi dengan Bjorka.

Juru bicara Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Ade Yaya Suryana, mengatakan Agung diduga membantu Bjorka dengan cara menyediakan kanal Telegram bernama Bjorkanism. Agung lantas menggunakan kanal Telegram tersebut untuk mengunggah tiga tulisan bernada sindiran kepada pemerintah hingga ancaman pembocoran data di Bjorkanism.

Sebelum ia ditetapkan sebagai tersangka, seorang pria yang mengaku dari Komando Resor Militer (Korem) setempat menemui Agung di lapak minumen teh waralaba, tempat kerja Agung di kawasan Pasar Dagangan, Madiun, pada 13 September lalu. Pria itu menyatakan hendak membeli ponsel milik Agung. Tapi Agung tak bersedia menjualnya.

Meski begitu, Agung dan pria tadi saling bertukar nomor ponsel. Komunikasi keduanya berlanjut lewat pesan WhatsApp. Pria tersebut membuat penawaran baru ke Agung. Lelaki itu menawar telepon seluler Agung seharga Rp 5 juta. Angka ini jauh di atas harga ponsel serupa dalam kondisi baru, yang hanya Rp 3,5 juta per unit. “Sebenarnya saya tidak mau. Karena diancam mau dibawa ke polisi, akhirnya saya mau,” kata Agung.

Agung dan pria tersebut akhirnya bersepakat dengan jual-beli HP itu. Ponsel Agung diserahkan ke pria misterius itu, Rabu pagi pekan lalu. Uang hasil pembelian ponsel bekas digunakan Agung untuk membeli telepon seluler baru seharga hampir Rp 5 juta.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Kolonel Arh Hamim Tohari, mengatakan pihaknya tengah mempelajari informasi tersebut. “Kami masih mempelajari info tersebut karena baru merupakan pengakuan dari seseorang,” kata Hamim, kemarin.

Entah apakah berhubungan dengan jual-beli ponsel tersebut, Agung justru didatangi beberapa orang polisi di tempatnya bekerja pada Rabu sore lalu, atau beberapa jam setelah ia menjual smartphone-nya. 

Polisi itu lantas membawanya ke kantor kepolisian resor setempat, lalu memboyongnya ke Markas Besar Polri di Jakarta karena diduga terafiliasi dengan akun Bjorka. 

“Di Jakarta, saya dimintai pertanggungjawaban tentang HP (pertama yang dibeli pria yang mengaku dari Korem). HP yang baru saya beli juga disita,” ujar Agung.

(Sumber: Koran TEMPO)