Anak ini diorbitkan dengan rotasi terlalu cepat, diback up pihak yang gak tepat. Klop lah.

By Arham Rasyid

Enam tahun yang lalu, seorang anak SMA menginbox saya. Sekadar sapaan ramah biasa. 

Saya tengok FBnya, sepertinya ini anak suka nulis. Beberapa kali ia meninggalkan jejak komen di postingan, dan dalam beberapa kesempatan saya juga berkunjung balik sekedar memberi semangat menulis.

Monmaap, untuk menjaga privacy, nama saya sensor.

Cukup heran waktu itu, tapi juga salut. Jarang-jarang anak SMA atau yang belum berkeluarga mengikuti tulisan saya. Nilai literasi apa yang ia harapkan dari bapack-bapack gak penting dengan postingan ngabodor teuing. 

Tapi saya perhatikan, ia memang jauh dari kelaziman anak seusianya. Tulisan-tulisannya bukan tentang cinta yang menye-menye atau gosip keartisan, melainkan lebih banyak keresahan pada dunia sosial dan pendidikan. Saat itu belum main di wilayah agama. 

Saya udah lupa sapaan itu, hingga secara mengejutkan beberapa tahun kemudian ia melejit begitu cepat. Tiba-tiba aja sudah berfoto bareng presiden dan diundang pada acara-acara berkelas. Talkshow dan wara-wiri di tivi frekuensi publik. Pendek kata jadi role model toleransi, lah.. 

Saya sempat kuatir waktu itu, apalagi melihat circle pertemanan yang mulai melingkari. Ia berpotensi rusak jika dikelola oleh pihak yang salah. 

Qadarullah, kecemasan saya sedikit terbukti. Ia bermutasi menjadi pribadi yang problematik, menikmati sanjungan yang datang, menyerang yang berseberangan dengan pengerahan pasukan, masuk ke wilayah paling privat seseorang, padahal pada usia yang masih sangat muda.

Teman saya pun jadi korban. Dirundung tanpa ampun, hingga harus kehilangan pekerjaannya. 

Makin ke sini tingkat damagenya (kerusakannya -red) makin tinggi. Saya merinding, hingga memutuskan untuk unfriend aja deh.

Lama gak tau dan gak mau tau kabarnya, hingga kemarin saya mencermati kasusnya, parah banget emang. "Kita semua sama aja dengan pelatjur" katanya, obyek jualan aja yang membedakan. Kurang lebih seperti itu maksudnya pada cuitan yang kuat dugaan sebagai akun alter egonya.

Saya jadi ingat quote andalan para free thinker. "Kita hanya berbeda dalam memilih dosa".
See? Lihat kesamaannya? Syubhat yang bisa masuk menyusup bahkan di orang-orang yang beriman. Ujung-ujungnya, semua agama sama. Gitu-gitu aja polanya. 

Entah siapa yang salah, ku tak tahu.
Tolong bacanya gak usah pake nada.

Tapi kalo mau salah-salahan, limpahan kesalahan memang gak bisa hanya ke satu pihak. Kita mungkin juga kalah gercep menyelamatkan anak seperti ini. Hingga jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat. Ciaat.. Ciaat.. 

Segala sesuatu yang instan, memang jarang menyehatkan. Makanan instan, hubungan instan, ketenaran yang instan, pokoknya banyak lah buktinya. 

Anak ini diorbitkan dengan rotasi terlalu cepat, diback up pihak yang gak tepat. Klop lah.
Hal ini juga tentunya berlaku kebalikan, pada orang yang berubah atas nama hijrah namun salah kaprah. Pengen cepat tanpa melalui proses nuntut ilmu berdarah-darah dan derai air mata. Baru hijrah beberapa hari, tetiba sudah jadi mufti. Ambyar jadinya. 

Saya menuliskan ini bukan karena pansos, mentang-mentang ia viral lagi dan jadi trending topik di twitter kemarin. Oh, bukan dong.

Makanya saya nunggu euforia mereda, baru dibahas. 

Yah, namanya juga kita pemulung hikmah yekan? Senantiasa mengumpulkan hikmah yang berserak, dari setiap kejadian.

Selama nafas belum mentok di tenggorokan, semua orang masih ada kesempatan, begitu pula dengan ia yang gak perlu saya sebut namanya. Kita sebut saja menuju puncak gemilang cahaya.

Meski terdengar mustahil, tapi gak ada salahnya ikhtiar didoakan saja kembali menjadi soleram sol soleram, alias anak yang manis.

(fb)