Sekolah Mahal

Sekolah Mahal

Oleh: Ustadz Abrar Rifai (pendidik di Ponpes)

Orang tua saat ini begitu takut anaknya tidak pandai. Karena itu sekolah mahal pun dikejar. Ketakutan orang-orang tua itu jadi makanan empuk para pendidik yang tidak punya karakter. (Dahlan Iskan) 

Dahlan Iskan menulis terkait penangkapan Rektor Universitas Lampung oleh KPK. Rektor yang dikenal oleh sejawatnya ini sebagai orang yang konsen terhadap penumbuhan karakter Bangsa dan ideologi Pancasila. 

Selain itu, --tulis Dahlan Iskan-- Prof. Karomani juga adalah rektor yang telah memperjuangkan diri dan kawan-kawannya, agar para rektor yang sudah berumur lebih dari 60 tahun masih tetap bisa menjadi rektor hingga umur 70 tahun. 

Prof. Karomani ditangkap KPK karena diduga menerima sogokan dari mahasiswa yang diterima di kampusnya melalui jalur mandiri. Duh! 

Saya tertarik dengan paragraf terakhir yang ditulis Dahkan Iskan, seperti yang saya kutip di awal tulisan ini. Orang tua begjtu takut anaknya menjadi tidak pintar, hingga bersedia membayar mahal agar anaknya bisa diterima bersekolah di lembaga pendidikan yang dianggap bagus. 

Maka, orang-orang tua semacam inilah yang kemudian menjadi sasaran empuk para pendidik yang tidak punya karakter. Walau yang bersangkutan dikenal sebagai aktivis penumbuhan karakter. 

Dahlan Iskan mungkin hanya bermaksud orang-orang seperti Prof. Karomani, yang menerima sogokan untuk meloloskan anak-anak orang kaya berkuliah di kampus yang sedang ia pimpin. 

Tapi lebih jauh lagi, saya pribadi tidak suka dengan biaya pendidikan mahal, di semua levelnya. Bukan hanya perguruan tinggi, tapi TK sampai SMA pun seharusnya murah. Bahkan harus lebih murah. Tak kira sekolah negeri atau swasta. 

Pendidikan adalah hak segenap anak bangsa. Anak orang kaya, atau anak orang miskin. Anak pengusaha atau anak nelayan. Anak pejabat atau pun anak buruh angkut. Semuanya berhak menempuh pendidikan di sekolah dan kampus terbaik di negeri ini! 

Maka karenanya, di sekolah atau pesantren tempat saya mengabdi, saya selalu sampaikan kepada pengurus: Jangan sampai kita menolak anak yang mau sekolah, hanya karena yang bersangkutan tidak punya uang. 

Saya sungguh teramat heran dengan maraknya sekolah-sekolah mahal, biaya masuknya sampai 20 juta, 25, juta, 30 juta dan seterusnya. SPP pun sampai tiga juta dan seterusnya. Gila! 

Tapi anehnya, sekolah-sekokah semacam ini laris. Bahkan yang inden bisa sampai tiga tahun ke hadapan. Orang-orang kaya berhimpun di situ. Sebab orang miskin jelas tidak akan mampu bayar. 

Tidak akan kita temukan di sekolah semacam ini, anak buruh angkut duduk sebangku dengan anak bupati. Pun, tak ada anak buruh penggarap sawah berdampingan dengan anak saudagar. 

Berbincang dengan seorang kawan, yang kebetulan anaknya sekolah --mondok konon-- di salah satu sekolah mahal di Malang. Menurut kawan ini, itu anaknya orang-orang kaya, yang sibuk. Mereka tidak punya waktu mengurus anak, sehingga dititipkan kepada sekolah-sekolah bagus, bangunannya bagus, kasurnya empuk, makanan OK, kamar mandi seperti hotel dan lain sebagainya. 

Cerita seorang kawan lainnya, “Lha iya Cak Abrar, anakku iki tak pondokno kok malah dadi males, ngalem dan seneng mangan enak!” 

Lembaga pendidikan swasta memang mempunyai kewenangan untuk mengatur dan menentukan tarif atau biaya pendidikan untuk peserta didiknya. 

Tapi entah demi apa harus membuat sekolah berbiaya mahal seperti itu. Apalagi kalau kemudian lembaga yang bersangkutan menyebut diri sebagai pondok pesantren. 

(22/08/2022)